Perjalanan
0 Komentar 83 pembaca
Gambar dari internet

Perjalanan

Cerpen

Seorang lelaki yang merasakan kekosongan di dalam dirinya, meresa hampa, merasa sedih, dan gelisah dalam waktu yang bersamaan. Tapi entah apa yang membuat dirinya merasakan itu semua. Biasanya dengan melihat handphone, menonton film aksi, bermain PS atau sekedar membaca buku bisa membuatnya tenggelam dan melupankan semua hal yang berada disekitarnya.

Tapi entah mengapa satu minggu belakangan ini, ia selalu merasakan semua perasaan itu yang membuatnya tidak bisa tertidur. Saat ini jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari, tapi sepasang mata masih belum bisa terlelap. Ia mengambil handphone di atas nakas di samping tempat tidurnya, jarinya bermain kesana kemari menggeser layar handphone tersebut. Tetapi ia masih belum bisa mendapatkan kenyamanan. Ia kembali meletakkan handphone diatas nakas yang sudah berulang kali dilakukannya.

Sekarang ia beralih kedepan PS yang ada didalam kamar dan menyalakannya, ia mengambil stik PS yang terletak disamping TV. Ia kembali memainkan PS tersebut, kembali berperang dengan lawan mainnya dan juga berperang dengan perasaan yang tidak karuan itu. Ia menyerah dan beranjak dari tempat tidur untuk mematikan PS tersebut.

Ia berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajah berulang kali lalu keluar dari kamar mandi. Ia kembali duduk di tepi ranjang, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah empat. Ya, begitu lah kegiatannya selama seminggu ini, rasa gelisa, rasa kekosongan, lelah, dan hampa. Perasaan itu yang terus ia rasakan. Terkadang ada rasa yang hilang didalam dirinya.

Ia beranjak dari tempat tidur menuju jendela dan membukanya. Memandang langit yang jauh diatas sana, begitu tenang ia melihat angkasa. Banyak bintang bertaburan dan tidak tinggal ada bulan sabit yang bercahaya diatas sana, mereka begitu tanang jika dilihat dari bawah, tanpa diganggu awan-awan nakal yang akan menutupi keindahan mereka.

Melihat bulan dan bintang disana, ada perasaan nyaman timbul dihatinya. Bersyukur atas nikmat yang diberikan tuhan, atas keindahan alam semesta ini. Mengapa baru sekarang terpikir olehnya untuk membuka jendela dan melihat bulan dan bintang-bintang yang menghiasi langit dengan keindahannya. Entah mengapa tiba-tiba terlintas dikepalanya gunung, yaa gunung. Sudah lama sekali ia tidak mendaki, terakhir kali ia mendaki mungkin sekitar dua setengah bulan yang lalu karena disibukkan oleh beberapa tugas.

Biasanya jika ada masalah ia akan mendaki gunung, dengan berada dipuncak gunung akan membuat hatinya lebih nyaman, dan lebih banyak bersyukur atas kehidupan ini. Baiklah, mungkin esok lusa ia akan pergi ke gunung yang berada tak jauh dari daerahnya tinggal, hanya menempuh empat jam perjalanan. Semoga saja dengan mendaki ia bisa menghilangkan perasaan yang begitu membuatnya stress beberapa hari belakangan ini.

 “Bu, ohhh Ibu! Aku pamit pergi ya, doakan anakmu yang nakal ini pulang dengan selamat!” Pamitnya pada ibu, sosok yang selalu membuatnya tidak pernah kekurangan kasih sayang.

“Sudah sholat, Ji? Makan dulu baru berangkat, Ibu selalu mendoakan mu, Ji!” Jawab ibu

“Hmmm”

Setelah makan dan berpamitan dengan Ibunya, ia memutuskan untuk berangkat menggunakan motornya. Empat jam perjalanan, akhirnya ia sampai dikaki gunung. Ia lalu pergi ke basecamp untuk mengurus SIMAKSI atau surat izin untuk mendaki.

 Pukul tiga sore, ia memutuskan untuk makan dan istirahat sebentar menjelang sholat ashar. Setelah sholat ashar selesai ia bersiap untuk mendaki. Ia memutuskan untuk mendaki sendirian atau solo hiking.

Langkah demi langkah ia meninggalkan kaki gunung dan memasuki hutan yang semakin rimbun. Melalui jalan setapak dan juga jalan yang mulai menanjak membuat langkah yang awalnya semangat dan ringan sekarang mulai melemah. Tapi perjalanan masih panjang, masih ada beberapa jam perjalanan lagi menuju puncak yang adalah akhir dari perjalanan itu.

Tidak terasa sekarang ia sudah berada di Pos I, waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia berhenti sejenak untuk beristirahat dan menunggu azan magrib. Selesai azan ia kembali melanjutkan perjalanannya. Waktu terus merangkak naik dan malampun mulai menunjukkan kegelapannya. Suara burung hantu dan hewan-hewan malam mengiringi langkah kakinya, suara-suara daun yang saling bergesekan seakan menemaninya menyusuri jalan setapak yang di apit oleh pohon-pohon yang besar.

Sampai di Pos II, ia hanya beristirahat sebentar untuk minum dan kembali lagi melanjutkan perjalannyanya ke Pos III. Malam semakin larut, yang awalnya banyak terdengar suara-suara hewan malam, sekarang hanya terdengar suara burung hantu sesekali. Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, ia pun telah sampai di Pos III. Ia memutuskan untuk bermalam di Pos III dan mendirikan tenda agar dia bisa pergi ke puncak gunung untuk melihat matahari terbit esok pagi. Setelah ia mendirikan tenda, ia langsung memasak dan memakan masakannya. Setelah selesai, ia memutuskan untuk mencari kayu bakar dan membuat unggun untuk menghangatkan tubuhnya, serta pergi ke mata air untuk mengisi air untuk perbekalannya esok subuh.

Ia kemudia pergi ke tempat mata air untuk mengisi kembali  tabungnya, setelah merasa cukup ia kemudia mengumpulkan beberapa kayu di dekat mata air tersebut. Ketika sedang mengumpulkan kayu bakar tersebut, sayup-sayup ia mendengar suara seseorang yang menangis. Karena penasaran ia mencari sumber suara tersebut, meninggalkan kayu bakar ditempat mata air. Ia terus berjalan mencari sumber suara tersebut, semakin dekat dengan suara itu, ia melihat seorang wanita yang menggukan pakaian mirip pendaki sedang duduk dibawah pohon memeluk lutut dan menutup wajahnya. Ia langsung mendekati wanita tersebut, ia takut kalau wanita itu tersesat.

“Mbak… Mbak?”

Tidak ada sahutan dari wanita itu, dan wanita itu masih menangis.

“Mbak, kenapa menangis?” Tanya nya, tapi masih tidak ada jawaban

Karena tidak ada jawaban dari wanita itu, ia mulai memikirkan yang tidak-tidak. Jangan-jangan wanita itu bukan manusia. Dengan perasaan yang was-was, ia membalikkan badan dan melangkah pergi. Belum sampai ia melangkah pergi, ia tersentak karna tangannya ditarik oleh seseorang. Ketika ia melihat ternyata yang menarik tangannya adalah wanita yang menangis tadi.

Ia memperhatikan wanita itu dari ujung kaki sampai ujung rambut, tidak ada yang aneh dari wanita tersebut. Hanya saja rambutnya agak berantakan dan matanya sembab sehabis menangis. Kemudia ia merasa legah karena wanita itu bukan hantu.

“Mbak kenapa bisa ada disini?”

“Saya nyasar, Mas. Saya kemarin mendaki sendirian, Ketika saya mencari kayu bakar saya tidak menemukan jalan kembali ke tenda.” Jelasnya

“Ya sudah, sekarang Mbak ikut dengan saya saja.”

Kemudia mereka berdua kembali berjalan menuju mata air yang tadi, posisi mereka adalah, wanita itu di belakang sedangkan ia di depan. Setelah mereka sudah berjalan cukup jauh tapi tempat mata air tersebut belum juga mereka temui, malam semakin larut dan membuat suasana semakin tidak nyaman. Mereka berjalan di dalam diam, tidak ada yang memulai pembicaraan sampai wanita itu berteriak dan menangis ketakutan sambil menunjuk sesuatu.

“Kenapa mbak?”

Tanya nya, sambil melihat kearah yang ditunjuk oleh wanita itu. Dan betapa terkejutnya ia melihat sosok putih terbungkus kain kafan sedang menatap kearah mereka berdua.

“Sudah mbak, yang tenang! Jangan lihat kearah itu lagi, kita lanjut jalan. Jangan lupa berdoa di dalam hati.”

Setelah mengucapkan itu mereka kembali berjalan, tidak lupa ia selalu berdoa dan berzikir didalam hatinya. Sampai tiba saatnya, ia terjatuh terguling. Ia merasakan ada yang sedang memegang kakinya, dan ia kembali berdiri dan melihat ke arah tanah tempat ia terjatuh tadi tidak ada akar atau apapun yang bisa membuatnya terjatuh. Seketika ia langsung merinding, dan melanjutkan perjalananya kembali.

Tidak hanya disitu, gangguan-gangguan terus saja datang silih berganti pada mereka. Yang tiba-tiba ada suara orang minta tolong, suara-suara yang memanggil namanya, dan saat dilihat tidak ada siapapun. Dan terkadang ia sering melihat sekilas bayang yang lewat disamping, diatas, dan dibelakangnya.

Tidak terasa ia semakin masuk kedalam hutan, kengerian tidak hanya sampai disitu saja. Sekarang sosok-sosok yang tadinya hanya terlihat sekilas, sekarang mereka sudah berani menampak kan diri mereka yang sebenarnya. Saat sekarang ini saja, saat mereka sedang melewati jalan yang penuh dengan semak belukar, disamping mereka ada pohon yang begitu besar dan bercabang. Didahan pohon tersebut duduk sosok putih yang wajahnya hitam dan hancur mengeluarkan darah yang menetes-netes terus memperhatikannya.

Ia terus berjalan, disetiap dahan pohon selalu ada saja mahkluk yang sedang duduk memperhatikan nya. Disamping pohon berdiri sosok pocong dengan wajah gosong. Dan saat ia akan melewati batu besar yang ada disisi nya, disitu sudah ada sosok hitam besar dengan taring panjang keluar dari mulutnya. Sekujur tubuhnya penuh dengan bulu. Saat ia melewati makhluk tersebut, tidak hentinya ia berdoa didalam hati. Dan saat sudah melewati makhluk tersebut, tiba-tiba pundaknya dipegang oleh sesuatu. Dengan rasa yang sangat terkejut ia pun langsung berlari tampa menghiraukan apapun.

Setelah merasa cukup jauh dan letih, ia berhenti dan ia pun baru tersadar bahwa wanita yang selalu bersamanya tidak ada lagi dengan nya. Ia baru teringat bahwa ia mungkin meninggalkan wanita tersebut di tempat makhluk hitam besar tadi. Kemudia ia mencoba kembali ketempat tadi, dan mencari-cari wanita tesebut.

“Mbak... Mbak??? Mbak dimana?” Teriaknya

Saat ia sedang berjalan menyusuri hutan tersebut, ia mendengar suara semak-semak yang sedang di injak. Ketika ia ingin melihat semak-semak tersebut.

“Mbak? Apa itu mbak yang tadi? Mbak?” Ucapnya memastikan

Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya,

“Kamu mencari saya? Saya disini, saya dibelakang kamu! Saya selalu berada didekat kamu, hihihihihi”

Seketika ia merinding, dan ketika melihat kebelakang betapa terkejutnya ia. Karena wajah perempuat tersebut tempat di depan wajahnya, ia hanya bisa diam dan menangis karena melihat wajah yang menyeramkan begitu dekat dengannya. Setelah beberapa detik ia tersedar dan langsung berlari tampa menghiraukan apapun.

Setelah lama ia berlari, entah sudah sejauh mana ia memasuki hutan. Akhirnya ia memutuskan untuk istirahat di bawah pohon besar, ia duduk dan menetralkan detak jantungnya. Dan mengingat perjalannya dengan wanita tersebut, kalau diingat-ingat wanita tersebut sudah tidak bersuara dari sebelum ia bertemu sosok hitam besar tersebut. Dan kenapa ia baru sadar sekarang, dan tidak mungkin dari perjalanan jauh yang ia tempuh tidak sedikitpun wanita tersebut berbicara. Dan tanpa ia sadari ia tertidur dibawah pohon tersebut.

“Nak, nak? Bangun lah! Kau sudah lama tertidur,”

Ia terbangun dan ternyata yang tadi hanya mimpi.

Saat ia bangun, dan melihat kesekeliling. Ah ternyata ini bukan mimpi. Ia masih di dalam hutan, eh tapi siapa yang sudah membangunkannya dari tidur. Saat ia melihat kesekaliling, ia melihat sosok lelaki yang sudah jauh darinya berjalan menggunkankan baju putih. Entah mengapa ia ingin sekali mengikuti sosok lelaki tersebut, ia lalu bangkit dan mulai berjalan mengikuti sosok lelaki tersebut dari kejauhan.

Cukup lama ia berjalan, dan terus mengikuti lelaki tersebut. Saat melihat ke arah depan ia pun terkejut akan tempat yang ia pandang sekarang. Tempat itu begitu bercahaya, tempat yang begitu luas, tempat yang begitu nyaman, dan tempat yang begitu sejuk dan menyegarkan mata. Saat ia sedang terpukau melihat tempat yang begitu indah yang berda di tengah hutan ini. Ia dikejutkan oleh suara seseorang di sampingnya.

“Pulanglah, kau sudah lama meninggalkannya. Mungkin ia rindu dengan suaralirihmu , suara yang selalu memuji keagungannya.”

Ketika ia akan melangkah memasuki tempat tersebut, sayup-sayup ia mendengar suara yang begitu indah. Suara seseorang melantunkan penggilan

“Allahuakbar, Allahuakbar....”

Seketika ia terbangun, saat matanya terbuka ia langsung melihat sajadah, peci dan sarungnya yang sering ia gunakan dulu tergantung indah disudut kamar. Hatinya luluh, setetes air jatuh dari matnya. Sudah lama ia meninggalkan perintah tuhannya, sudah lama ia mengabaikan panggilan tuhannya, sudah lama ia tidak pernah mengadahkan kedua tangan meminta kepada tuhannya, dan sudah lama ia tidak melantunkan kalimat suci tuhannya.

Yeyen Santika

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas