JANJI ANAK JANTAN
0 Komentar 819 pembaca
Gambar Ilustrasi dari Google

JANJI ANAK JANTAN

Cerpen

Pagi subuh buta, dua jam sebelum subuh tepatnya. Raga kurus ini menggigil dihantam angin laut selat Melaka yang menyusur jauh hingga ke sungai yang membelah kampung kami. Dan ditepi sungai ini aku tegak berdiri, diantara bakau dan nipah tempat buaya muara bertelur, juga tempat ular bakau beranak-pinak. Hitam malam begitu gelapnya. Segelap air sungai berwarna keruh dan berputar dihantam pasang keling ujung tahun ini. Bayangan serasah bakau dan nipah bagai jembalang laut bergerak menyeramkan oleh cahaya suluh obor yang aku pegang. Cemas aku memperhatikan permukaan sungai.

Dan byurr..

Kepala Abah muncul dari dalam sungai.

“Tarik Ayub..” serunya serak. Cepat aku menangkap tali rotan yang dilempar Abah, dan aku pun menariknya sekuat tenaga.

“Hei anak jantan, tak bisakah kau tarik lebih kuat?” seru Abah tertawa.

Aku mengerahkan segenap tenaga yang ku punya. Dan perlahan-lahan, sesosok benda besar muncul dari dasar sungai dipangkal tali rotan yang aku tarik. Abah membantu mendorong benda itu ke tepi sungai.

“Tahan intan payung! Jangan sampai hanyut terbawa arus pasang”. Cepat aku tambatkan tali yang aku pegang pada tunggul kayu bakau agak ke darat, sambil berseru;

“Usah panggil aku intan payung Bah, panggil aku anak jantan!” seruku kesal. Abah terbahak.

Akhirnya benda bulat hitam besar itu pun tertambat rapi di tepi sungai; sepotong besar balak tim kayu punak! Abah tersenyum puas membayangkan harga yang akan didapatkannya saat touke cina menjemput hasil kami menumpil balak. Menjelang fajar, seperti biasa Abah membentangkan sejadahnya. Di bawah bayangan kayu ara bibir tuanya menggumam takbir sholat subuh.

“Mengapa Abah selalu memanggil aku Anak Jantan?” tanyaku suatu ketika.

“Karena engkau memang anak jantan, kan?” jawab Abah tersenyum menggoda.

“Lagi pula itu sesuai dengan nama sungai ini dulu kala, Sungai Jantan. Dan engkau adalah anaknya, yang menjaga sungai ini dari kerusakan kelak” sambung Abah.

“Lalu mengapa pula kita mencuri kayu balak tim dari sungai ini, Bah?” tanyaku.

“Kita bukan mencuri anak jantanku. Kayu itu memang tak ada pemiliknya”. Jawab ayah membelai kepalaku dengan sayangnya.

“Kemana orang yang punya Bah?”.

“Dulu, setiap ponton kayu pembawa balak menyusuri sungai menuju pabriknya di hulu sana, ponton itu habis dijarah oleh orang-orang kampung sepanjang sungai ini. Mereka membawa sampan dan mengepung ponton itu dan melompat ke dalamnya. Beramai-ramai mereka mencampakkan balak itu ke sungai, sementara yang lainnya terjun berenang mengumpulkan kayu balak itu untuk dijual ke penadah. Tak terhitung diantara mereka yang mati terhimpit balak atau jatuh terbawa arus, atau mati terhisap air sungai yang berputar misterius”, aku bergidik ngeri.

“Tak semua kayu balak itu terapung di sungai saat dicampakkan. Ada banyak juga yang tenggelam. Yang tenggelam itulah jenis kayu punak, kayu berakualitas terbaik dengan harga terbaik pula”. Kata Abah tersenyum penuh arti.

“Kayu itukah yang kita ambil, Bah?” seru ku takjub.

“Benar. Daripada membusuk tak berguna di dasar sungai elok kita ambilkan?” jawab Abah.

Aku tersenyum jika mengingat itu semua. Tapi kawan, itu semua adalah kenangan belaka! Iya, kenangan. Kenangan saat aku masih terperangkap di kampung yang menyedihkan itu sebelum aku meninggalkannya. Semuanya berawal saat sahabatku yang mengajakku merantau ke kota.

“Di sana senang mencari uang”, katanya membujuk.

”Kita bisa menjadi kuli panggul ikan di pasar bawah, atau menjadi kernet oplet di pasar pusat seperti kawan-kawan kita yang telah ke sana”, serunya.

Aku terlena, terbuai dan menerima ajakannya. Lalu perdebatan kecil pun terjadi antara aku dan Abah.

“Apa pasal yang nak kau ke kota anak jantanku? Jika kau pergi kampung ini akan menjadi kampung mati. Semua anak lajang merantau ke kota, hanya tersisa orang tua yang tinggal menunggu mati dan anak kecil yang tak punya masa depan”. Kata Abah. Seperti biasa jari tuanya mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang.

“Masa depan yang macam mana yang Bah maksud? Masa depan penumpil balak? Atau petani ladang yang tiap hari tanamnnya dilantak babi?”, jawabku sinis meniru kalimat sahabatku.

“Haii.. Pandai kau becakap sekarang Ayub?”, kata Abah tersenyum sabar.

“Abah pun tak mau menjual tanah untuk biaya aku lanjut ke SMA Kabupatenkan? Lalu masa depan apa yang Abah harapkan?”.

Abah terdiam. Andai aku tahu bahwa kalimatku menggores hatinya taklah aku sampai hati mengucapkan kalimat itu.

“Ini sudah kita bahas Ayub. Kalau Bah jual satu-satunya tanah ladang milik kita, lalu apa yang hendak kita makan satu keluarga ini?. Engkau anak pertama dan satu-satunya anak jantanku, seharusnya engkau memahaminya, Nak”, keluh Abah terbata-bata. Takku sadari setetes air mata jatuh dari sudut-sudut matanya yang telah digurati garis-garis ketuaan.

Aku tak perduli kawan. Aku pun tetap berangkat ke kota. Aku berangkat meninggalkan kampung bersama segala kenangannya.

“Abah tak usah khawatir. Bah tak perlu mengirimkan uang membantu hidupku di kota. Jika sudah berhasil aku akan kembali dan membangun kampung seperti yang Bah harap. Ini janji Anak jantan Abah”, kataku memeluk Abah, meski Abah hanya menggeleng kepala menolak janjiku.

Kawan, Allah memang sayang padaku, mungkin. Ataukah DIA menguji aku dengan sayang-Nya itu?

Semua cita-citaku dipermudah-Nya seperti harapan janji aku pada Abah. Bersama sahabatku, berawal menjadi kuli panggul di Pasar Bawah kami akhirnya bisa menamatkan SMA bersama. Lalu dari program beasiswa prestasi aku juga akhirnya meraih gelar Insinyur Pertanian di universitas negeri kota ini, sementara sahabatku memutuskan berdagang. Pejalanan hidup siapalah yang tahu, terkadang semuanya bagaikan mimpi. Karena tak lama setelah aku wisuda, aku mendapatkan panggilan kerja di perusahaan perkebunan sawit milik negari ini.

Namun janji aku sebagai Anak Jantan kepada Abah tak sepenuhnya aku tunaikan. Aku tak hendak pulang kampung karena terlena dengan karirku yang terus melejit.

Satu-satunya janji yang aku penuhi adalah menolak semua kiriman uang dari Abah. Sejak awal, setiap menerima wesel pos berisi uang kiriman Abah maka uang tersebut aku kirim balik ke kampung karena aku bertekad ingin hidup mandiri. Sebenarnya ada satu alasan mendasar mengapa aku melakukannya. Sebagai anak jantan aku merasa rendah diri jika dibantu hidup dari orang tua saat merantau di negeri orang, terlebih dari ayah tiriku.

Ayah tiri? Iya kawan. Sebenarnya Abah adalah ayah tiriku, karena ayah kandung aku meninggal dunia saat aku bayi. Lalu tak lama kemudian emak dipersunting Abah hingga kemudian lahir adik-adik tiiriku. Entah mengapa saat hidup diperantauan yang hidup bagai “Ke atas tak berpucuk- ke bawah tak berakar”, baru aku menyadari arti rindu terhadap seorang ayah kandung. Bukan seorang ayah tiri, namun seorang ayah yang merupakan awal dari daging dan darahku ini berasal.

Apakah kurangnya sayang Abah selama ini? Aku tak tau dan akupun tak bisa menjawabnya. Namun aku merasakan rindu sebenarnya, rindu terhadap sosok ayah yang wajahnya tak pernah aku kenal. Itu semua menjadikan jiwa aku kering, dan menjadi sinis terhadap Abah.

“Pulanglah Nak, Abah merindu mu”, tulis Abah dalam setiap suratnya.

Sebuah rindu dari seorang Ayah Tiri? Ah... aku malah berpikir itu adalah hanya sekedar bunga kehidupan, atau bahkan omong kosong belaka. Maka hari-hari selanjutnya membuat jiwa ini lebih kering. Ragaku tenggelam dalam rutinitas kerja yang membuat karir ku semakin bersinar.

Hingga suatu ketika, saat dalam suatu perjalanan dinas ke suatu daerah pedalaman meneliti prospek pengembangan perkebunan, seorang karyawan daerah tergopoh-gopoh menghampiri aku. Dia mengajukan peminjaman uang kas perusahaan dan meminta rekomendasiku selaku salah satu manajer pusat. Jumlahnya cukup besar. Tertera dalam format rekomendasi itu bahwa pinjaman uang tersebut untuk pengobatan ayah tirinya. Aku tercekat. Ayah tiri?

“Sakit apa ayah mu?”, tanya ku.

“Sakit komplikasi Pak”, jawabnya hormat.

“Di sini tertera kamu anak terakhir, sementara di atas mu ada lima anak laki-lakinya yang lain. Kemanakah mereka?”

“Mereka…..?”, jawabnya ragu.

Aku menunggu. Aku lihat wajahnya mendung menyimpang kesedihan teramat dalam.

“Tolonglah saya Pak, saya membutuhkan dana itu untuk pengobatan ayah saya”.

“Aku tahu. Tapi itukan ayah tiri kamu? Dimana anak kandungnya?”, desak ku.

“Apakah ini diperlukan sebagai syarat rekomendasi ini Pak?”, Katanya bingung.

“Ya..”, jawab aku tegas.

“Abang-abang saya orang tak mampu Pak, mereka tak mampu mengobati sakit ayah sehingga saya mengajukan pinjaman ini”.

“Benarkah? Namun di sini pekerjaan mereka Pegawai Negeri Sipil dan Wiraswasta”, desakku.

“Kamu ada waktu untuk menceritakan semua, sekarang”, entah mengapa aku makin penasaran dengan “kasus” bawahan aku yang satu ini.

Dia menghela nafas.

“Abang-abang saya telah memiliki dunia mereka masing-masing Pak. Mereka tidak perduli lagi dengan ayah yang telah membesarkan mereka”, jawabnya lirih. Sorot mataku mengajukan sejuta pertanyaan. Dia maklum dan melanjutkan kalimatnya.

“Bapak beruntung memiliki ayah yang sangat menyayangi Bapak, seperti halnya ayah saya menyangi abang-abang saya sebagai anak kandungnya. Sementara sebagai anak tiri, saya dikesampingkan. Sejak saya mengenal abang-abang saya, ayah memanjakan mereka dengan sangat berlebihan. Mereka tumbuh sebagai anak yang malas, manja dan sebagainya. Sering saya mengadu pada Ibu mengapa saya diperlakukan tidak adil?. Ibu tak bisa menjawan apa-apa selain berusaha memberikan pengertian bahawa saya anak tiri ayah. Lalu apa bedanya dengan ayah kandung?. Bukankah semuanya sama-sama ayah?. Saya sadar saya sudah tidak memiliki ayah kandung yang memang sudah dipanggil oleh Allah Pak. Tapi bukankah Allah juga memberikan seorang ayah baru bagi saya?. Saya tak perduli apapun sebutannya. Namun mengapa saya tak mendapatkan kasih sayang dari ayah baru saya? Dari lahir saya tak pernah merasakan lembutnya jari-jari seorang ayah menyentuh pipi saya. Saya tak pernah merasakan tangannya membelai kepala saya. Saya tak pernah mendengar seorang ayah yang memanggil saya dengan sebutan kesayangannya. Tidak… Beliau tidak ubahnya seperti patung berjalan, atau bahkan saya yang mungkin dianggapnya seperti patung. Namun saya tetap menghormatinya sebagai seorang ayah, seraya berdoa semoga Allah menjadikannya benar-benar sebagai ayah sejati saya. Dan harapan tingallah harapan. Semuanya tidak berubah hingga kami tumbuh dewasa. Abang-abang saya dikuliahkan oleh ayah saya ke universitas luar negeri sedang saya melanjutkan ke universitas propinsi saja, itupun karena saya lulus SMPTN. Kalau tidak entah bagaimanalah nasib saya Pak”.

Selama dia bercerita jantungku berdetak keras karena kisahnya seakan-akan mengadili aku yang menganggap kasih sayang Abah hanya sekedar omong kosong belaka. Memang betul apa yang dikatakannya tadi bahwa aku beruntung memiliki seorang ayah tiri seperti Abah. Ah..Ayah tiri?. Bukankah ayah tiri tak ubahnya ayah kandung?. Kerinduan ku kepada Abah tiba-tiba datang membuncah. Sehatkah Abah sekarang? Sakitkah Abah sekarang? Masihkah Abah menumpil balak? Siapa yang membantunya?

“Lalu..?”, tanya ku parau.

“Sekarang ini sayalah yang belum berkeluarga. Abang-abang saya telah menikah dan mendapatkan istri masing-masing jauh dari kota kami. Sementara itu ayah tambah tua dan uzur. Saat pertama kali ayah sakit adalah mereka menjenguk sekali-dua. Namun sakit ayah ternyata tak kunjung sembuh. Mereka awalnya membuat jadwal secara bergantian menjenguk ayah. Namun jadwal itu hanyalah sekedar jadwal karena sebenarnya mereka berpura-pura peduli terhadap ayah padahal tidak. Tak ada yang melaksanakan jadwal itu, lalu mereka saling menyalahkan hingga terjadi pertengkaran. Mendengar ini sakit ayah semakin berat, sementara mereka makin tenggelam dengan dunia mereka saja. Harta ayah sudahlah habis membiayai kuliah abang-abang saya sampai mereka menjual rumah peninggalan ayah kandung saya. Tak apa, saya ikhlas Pak. Namun yang tak saya ikhlaskan, mengapa mereka yang dikatakan anak kandung malah menyia-nyiakan ayah mereka sendiri?.

Pak..Saya ingin sekali berbakti kepada ayah kandung saya semasa hidup, tapi itu sudah tak mungkin saya lakukan karena beliau sudah meninggal dunia. Maka izinkan saya berbakti kepada penggantinya terserah ayah apapun sebutannya. Izinkan saya meminjam uang perusahaan agar ayah saya sembuh dari sakitnya. Agar beliau bisa mengelus pipi saya, mengusap rambut saya, memanggil nama saya dengan penuh kasih sayang Pak”, Isak tangisnya tumpah.

Demikian juga aku yang merasakan rindu kepada Abah semakin hebat.

“Duhai… Anak jantan macam apakah aku ini, Bah?”

Segera setelah semua urusan dengan bawahanku selesai, aku kembali ke kota. Aku mencari surat terakhir Abah untuk mengobati rasa rinduku padanya. Sesampai di kota telepon genggam aku berdering. Adik tiriku menelepon dari kampung. Aku panik. Pucat. Dan histeris mendengar apa yang di sampaikan adikku.

“Mengapa tak engkau kabari Abang secepatnya?”, seru ku.

“Dari pagi buta aku telepon Bang, tapi Hp Abang mail box terus”, jawab adikku di ujung saluran telepon.

Ya Rasul, Baru aku sadar di pedalaman tadi tidak tersedia signal jaringan telepon seluler. Belasan tahun merantau aku selalu siap menjawab dan menghadapi segala persoalan. Tapi soal yang satu ini, aku tak pernah menduganya menimpaku.

Innalilahi wainnailahiroji’un. Abah meningal dunia , menghadap Yang Mencipta-Nya. Baru saja aku merindunya kawan. Baru saja aku merindunya namun Allah tak mengizinkan rindu ini berlabuh. Aku terisak bagai anak kecil. Air mataku jatuh berderai-derai membayangkan jasad Abah terbujur kaku di rumah panggung kami yang aku pun lupa bagaimana lagi bentuknya. Ayah tiri? Aku memukul-mukul kepalaku sendiri. “BODOH KAU AYUB” teriak hatiku histeris. Penyesalanku sungguh tidak terkira melebihi batas kemampuanku, hinga aku sempat tak sadarkan diri saat itu.

Tragis kawan. Kerinduan seorang ayah yang tak bertepi kandas hanya ke-egoan puteranya yang mengkotak-kotakkan status ayah kandung dengan ayah tiri. “Anak Jantan Macam Apa aku ni Abah?”.

Aku meluncur ke kampung detik itu juga. Dipelupuk mataku terbayang sosok Abah melaksanakan shalat subuh di bawah rindang kayu ara di tepian sungai. Aku tersedu.

“Astaghfirullahalaziim..Astaghfirullahalaziim..”

Aku mengulang-ulang kalimat itu sepanjang jalan. Aku memohon ampun kepada Allah, mohon ampun layaknya seorang anak yang durhaka kepada ayahnya.

Kawan, mungkin ayah mu masih hidup sekarang. Tapi kalaulah boleh aku bertanya: “Kapankah engkau  terakhir kali tersenyum bersama ayah mu? Kapankah engkau terakhir kali melakukan hal-hal kecil bersama ayah mu? Kapankah engkau terakhir kali makan bersama ayah mu? Kapankah engkau terakhir mendengar takbir sholat ayahmu, atau bahkan menjadi makmumnya? Kapankah engkau terakhir kali melihat kasarnya telapak tangan ayahmu, namun merasakannya menjadi betapa lembut saat tangan itu meraba pipimu? Mengusap kepalamu, menarik hidung mu?. Maka beruntunglah bagi kamu yang masih ingat itu semua. Beruntunglah bagi kamu yang bahkan masih bisa merasakan itu semua.

Beruntunglah kamu yang masih bisa menemuinya saat kamu selesai membaca kisahku ini, dan memintanya melakukan itu semua seperti saat-saat masa kecil mu. Iya kan? Tapi bagaimana denganku???

“Abah…!!” Jerit hatiku meredam bibirku yang menggigil. Keinginanku sudah tiada terbendung memburu waktu untuk mencium pipi Abah sebelum dikebumikan.

“Tapi apakah sempat?”, teriakku dalam hati.

“Duhai anak jantanku….Kampung kita semakin sunyi, hanya dengung siamang mengisi kesunyian kampung. Tak ada lagi cengkerama anak-anak muda. Orang-orang tua tak telap lagi bekerja, hingga untuk menyambung hidup mereka menjual tanah-ladang leluhur kita kepada orang luar. Pulanglah Nak, pulanglah..Kita bangun kampung ini agar tak hilang seperti cakap pujangga kita Hang Tuah; Takkan Melayu Hilang Di Bumi. Tegakah engkau melihat kami hidup dalam sunyi?”.

Itulah penggalan isi surat terakhir ayah yang kembali terngingang ditelingaku, menambah kesedihan mendalam bagiku.

…………………..

Kawan..

Kewajiban bagi yang hidup adalah segera menguburkan yang meningal dunia tanpa mengulur-ngulurkan waktu. Atas dasar itulah Abah segera dikebumikan tanpa aku sempat melihat wajahnya untuk terakhir kalinya, tanpa aku sempat mencium pipinya. Aku tersenyum getir memeluk emak dan adik-adikku. Orang-orang kampung dirumah panggung kami terkejut melihat aku pulang kampung setelah sekian belas tahun merantau. Anak yang hilang itu telah kembali.

“Tolong antarkan aku ke makam Abah”, pintaku lirih.

“Mari Nak”, seorang lelaki tua menjawab. Aku mengenalnya sebagai guru mengaji surau kami dahulu, Wak Amir.

Kami berjalan kaki menyusuri tepian sungai arah ke hulu. Dikejauhan tampak jembatan megah melintang di atas sungai yang melegenda ini, sungai tempat aku dan Abah menumpil balak belasan tahun silam. Mengingat itu kembali aku terisak seperti anak kecil, rindu dan sedih tak berkesudahan.

“Usah bersedih Nak, banyak beristighfar. Lihatlah bangunan itu” hibur Wak Amir sambil menunjuk sebuah bangunan permanen diantara rumah-rumah panggung orang kampung khas melayu. Tertera diatasnya tulisan sederhana PESANTREN TAHFIZ QUR’AN “AL-AYYUBI”. Aku tercekat, itu penggalan nama lengkap ku; Muhammad Al-Ayyubi?!

“Kami sangat berterima kasih kepadamu disebabkan telah membuatkan gedung pesantren di kampung ini” katanya tersenyum.

“Tapi..aku tak pernah membantu kampung ini Wak. Dan bukankah itu namaku? Mengapa menjadi nama pesantren ini?”, kataku bingung menyeka air mata.

“Aku tahu nak. Abah mu bercerita, engkau selalu menolak uang kiriman belanja yang selalu dikirimnya setiap bulan. Akhirnya beliau bernazar uang itu diinfaqkan membangun pesantren ini setiap bulannya dengan jumlah yang sama selama belasan tahun, alhamdulilah seperti ini hasilnya”. Sesak dadaku mendengar kalimat Wak Amir.

“Awalnya sudah aku nasehati beliau, alangkah baiknya uang itu ditabung pribadi agar beliau bisa menunaikan ibadah haji. Tapi beliau menolak mentah-mentah. Beliau lebih memilih menunda menunaikan ibadah haji asalkan kampung kita memiliki pesantren hingga kemudian Allah memanggilnya. Semasa beliau hidup dinamainya pesantren ini dengan namamu karena beliau ingin anak jantan kesayangannya yang menjadi pengajar di pesantren ini. Begitulah yang selalu ia ceritakan kepadaku”.

Pandanganku gelap. Hingga sampai di pusara Abah aku rubuh memeluk bumi tempatnya terbujur.

“Abah... Maafkan Anak Jantanmu ini yang tak bisa memenuhi janji. Tapi setelah ini, jika Allah mengizinkan aku akan pulang kampung menyelesaikan janji si anak jantan yang tertunda" 

***

*Bambang Bonari, berdomisili di Sungai Apit. Merupakan seorang Tenaga Pendidik disalah satu sekolah negeri menengah atas (SMAN 1 Pusako). Beliau aktif menulis guna untuk mengangkat kearifan lokal budaya Melayu Siak Sri Indrapura agar kisah-kisah pahit pada masa lalu tentang kehidupan orang dahulu tak hilang begitu saja ditelan waktu, seperti cakap pujangga kita Hang Tuah Takkan Melayu Hilang Di Bumi.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas