Jabatan Tomok
1 Komentar 230 pembaca
Gambar hanya sebuah ilustrasi. Sumber google

Jabatan Tomok

Humor

            Suatu ketika, ada 2 orang wartawan ingin bertanya kepada Tomok si pembual dalam cerita bodohnya demi kesenangan orang-orang  di sekitarnya. Dua wartawan ini tidak mengetahui dan menyadari bahwa Tomok yang di wawancarainya nanti ini merupakan pemuda yang si pembual dengan cerita bodohnya. Ketika mereka berdua wartawan ini hendak mencari rumah Tomok yang tak ketemu-ketemu selama 2 jam, lalu mereka bertanya dengan warga yang berlalu lalang.

“Permisi, mas. Maaf, mengganggu sebentar. Kami ingin bertanya alamat ini di mana, ya?”, menunjukan secarik kertas kepada warga yang lalu lalang tadi. Warga pun menjawab sambil ketawa.

“Hahaha.. di sini tak ado alamat yang bernamo Gg. Presiden, Cik. Yang ado Gg. Senggol, Gg. Buntu, Gg. Nam Stel, Gg. Gang 4. Manolak ado Gg. Presiden, baru dengo namo gang macam tu. Hmm, tapi cik kalau namo presiden saye tahu cik. Presiden kita saat ini Pak Joko Widodo, yang dipendek namokan JOKOWI, Cik”. 

Dua wartawan pun bingung dengan apa yang ia bicarakan, hingga mereka bertanya lagi,

“Eehh...mas..mas... kalau nama presiden saya tahu juga mas, malahan sampai anak, cucu, cicit, kakek buyutnya saya tahu mas. Kami ini datang dari Jakarta mas, dan ingin mencari seseorang yang mengirim surat ini mas. Hm..mungkin mas tahu, ini tulisan siapa atau namanya ada di surat ini mas.”

Wartawan tadi menunjukan surat tersebut pada warga tadi, dan warga tadi pun melihat secarik kertas tadi dengan seksama.

“Hm...bagaimana mas, apakah mas tahu siapa orangnya?” tanya wartawan.

“Kejap dulu....tak boleh menggaduh orang sedang membaco.” Kata warga. Serius tapi tak pasti warga tersebut melihat dengan wajah heran pada wartawan tersebut.

“Pak, eh mas, bagaimana apakah anda sudah mengetahuinya. Hm, di mana rumah orang yang menulis surat ini?”

“Saye....hm...saye tak paham pade tulisan dikertas itu lah, Cik. Apelagi saye belum tamat sekolah, susah membaconyo. Apo tulisannyo tu, Pak Cik?” tanya warga dengan wajah bingung.

Wartawan pun mulai emosi, karena waktunya telah termakan oleh kelinglungan warga tadi.

“Eh..bung, kirain loe bisa tahu surat ini dari siapanya, rupa-rupanya loe gak tahu segalanya. Huh, dasar. Ya sudah bung (pada temannya) kita berangkat lagi, habis waktu kita sama dia.”

“Eh, Pak Cik, walau pun saye tak pandai membaco, tapi istri saye banyak Pak Cik. Hahaha....begini-begini orang kayo jugo ni Pak Cik. Puah sisih budak kenen tak tahu terimo kasih. Ajap waktu awak habis”, kata warga sambil menggerutu.

            Setelah menghabiskan waktu yang tak ada hasilnya pada warga tadi, mereka masih terus mencari alamat rumah Tomok yang tak kunjung dapat-dapat. Saat mereka mencari-cari mereka hampir menabrak seseorang pemuda. Dan pemuda yang hampir ditabrak tadi menyuruh mereka keluar.

“Woi...keluo dikau dari kat (car) tu. Tak keluo jugo kang aku banting, aku terajang kang dengan kasut swalow aku ha...macam-macam dikau samo aku..ha..kan besungut pulak aku jadinyo...”, warga pun datang melihat Tomok mengamuk tak tentu arah pada mobil wartawan. Dua wartawan pun keluar dari mobilnya, dan meminta maaf pada Tomok.

“Aduh...ma..maaf-maaf-maaf ya, mas. Kami tidak sengaja. Kami tidak melihat kalau ada orang lewat tadi. Ini kesalahan kami, karena kami sedang mencari alamat seseorang”, kata wartawan pada Tomok dengan bersalaman.

“Siapo yang ngajo dikau naik kat ni? Miko ingin nak matikan aku? miko beduo macam cacing keno panas ajo samo dengan kat dikau ni. Sempat ado polisi, kang panjang pekaro miko beduo. (pada warga) sudah-sudah aku tak apo-apo, selamat lahir batin. Bio aku urus budak beduo ni. Dah-dah...besurai lagi...suuhh..”

“Hm, Mas, tidakk terlukakan?” tanya wartawan.

“Hah, Aku terluko? Manolah gampang terluko. Dikau tumbok aku, kang bedaghah tu muke.”

“Kenapa bisa begitu mas?” tanya wartawan.

“Biso lah.”

“Hm, memang ada jurusnya ya, mas?

“Tentulah adola. Cumo aku sajo yang punyo. Tu jurus dari abah aku.”

“Hm, apa nama jurusnya, mas?” tanya wartawan dengan heran.

“Namonyo jurusnyo Penumbok Tak Molek.”

“Kok Penumbok Buluh Lembek, mas?” tanya heran lagi.

“Yo, lah. Jiko ditumbok tentulah membalas, makonyo aku tumbok sampai tak molek lagi muko tu. Mano ado orang keno tumbok menung ajo. (Berpikir) Apo kesah ni miko beduo nak malingkan perkaro dari aku? Miko ni dari mano, macam muko asing di kampung ni lah miko-miko ni?” tanya Tomok dengan heran.

“Maaf mas, kami gak ada maksud jahat apa lagi lari dari perkara masalah kami tadi. Mas kan gak ada terluka jadi damai-damai aja yah mas? Bisakan, mas?” tanya wartawan sambil memohon.

“Peii eh, puah sisieh. Aku ni punyo namo, dan namo aku bukan mas-mas. Dikau kiro aku ni mas karatan, hah? Geli aku dipanggil dengan namo macam tu. Panggil ajo aku Tomok. Yu disten? Ha macam tu lah bahaso kampung aku”.

            Dengan wajah gembira dan lega, akhirnya mereka menemukan orang yang dicari-cari.

“Alhamdulillah, bapak yang bernama Tomok itu ya?” tanya wartawan dengan senang.

“Yo, memangnyo kenapo? Biaso ajolah muke miko beduo tu. Macam baru ketemu om Bama jo. Oh...mungkin miko nak ketemu om Bama ye?” 

Kedua wartawan pun heran.

 “Maaf bang Tomok, om Bama siapa ya? Teman abang?”

“Ckckck.....wawasan miko beduo ni, macam cangkang bekicot. Baru semalam aku dilantik oleh om Bama dari yu..yu...lupo aku namonyo. Negara apo namonyo tu yang uangnyo dollar?” tanya Tomok dengan mulut agak ke depan.

“Oh USA bang, Amerika. Mungkin maksud abang Presiden Barack Obama, ya?

“Tak boleh dikau panggil namo orang macam tu, marah orang tuo tu, hah tahu raso dikau. Aku ajo teman satu partainyo tak berani panggil namo tu, aku sajo manggil dio pakai om, tau tak? Sedap beno dikau beduo manggil namonyo Barak Obama. Kang kene terajang jugo.” Tampak kesal di wajah Tomok.

“Maaf, maaf bang. Tidak sia-sialah kami mencari abang untuk diwawancara. Kami wartawan dari koran Jakarta, ingin mewawancarai abang sedikit, dan kami dari jauh-jauh ingin bertanya sedikit aja bang. Boleh tidak bang?” tanya wartawan sambil mempersiapkan alat rekaman.

“Ahh...segitu beno miko beduo, jauh-jauh hanyo wawancara je. Hah sile lah, nak tanyo apo? Istri aku ado berapo, anak aku lahir di mano, oh atau ukuran kasut aku berapo, kan gitu pulak? Hah..sile tanye”. Tomok tampak malu-malu.

            Dua wartawan tadi tiba-tiba merasa aneh melihat Tomok yang mereka cari. Hingga mereka teringat, bahwa nama Tomok yang ada pada surat itu merupakan orang anggota DPR. Tetapi mereka mencoba bertanya apakah orang yang dicarinya itu benar-benar Tomok atau bukan.

“Begini bang, dari informasi yang kami dapat, Apakah abang pernah mengikuti seperti rapat besar di USA?”

Dengan lagak seperti orang penjabat, Tomok menjawab:

“Yo tentulah, aku orang pertamo di Indonesia ni yang ikut dalam rapat tu bersamo om Bama. Dikau tahu tak, dalam rapat tu semuo orang yang mengikuti rapat tu hadir semuo, tak ado sedikit pun kursi yang kosong, tak samo dengan rapat negaro kito ni, dengo kato rapat dah senyap, sikit-sikit sepi. Ha...baru-baru ni aku dengo kabo sedang rapat ajo bise dio tetidow. Kan tak etis tu. Menurut miko, baik tak penjabat macam tu?”

“eh..tak baik itu bang.”

“Hah, tahu miko. Makonyo, ubahlah sifat macam tu, makonyo rakyat banyak demo, hura sano hura sini, macam ikan jatuh di darat, menggelepak tak tahu arah. Kasihan aku jadinyo. Hah, apo lagi, cepatlah aku nak balik lagi nak piking baju aku.”

“Memangnya abang mau kemana bang? Mau ke Amerika lagi?”

“Aih untuk apo aku pergi ke Amberik tu. Aku dah pensiun dah, aku nak ke sungai untuk menjalo ikan. Soalnyo lagi musim. Dah, ado nak tanyo lagi?”

“Ah...pensiun, bang? Bukannya abang baru di lantik semalam? Masa iya abang langsung pensiun?”

            Tiba-tiba ada warga setengah baya lewat di hadapan para wartawan dan Tomok dan berhenti sekejap.

“Alah, bodoh betul dikau ni. Percaye pulak dikau same Tomok tu? Tak ado yang betul die tu, dah tahu die bekerja sebagai penjale ikan di sungai. Dengo-dengo istilah om Bama lah, tu om Bama yang die maksud, pak ketua RT. Dah lah, Mok kerje lagi. Banyak ikan terjale tu.”

            Apa yang di rasakan oleh wartawan tadi ternyata benar, kalau orang yang dia cari itu bukan orang yang menulis surat itu. Tetapi mereka mencoba bertanya untuk meyakini.

“Maaf bang, jika bapak itu benar mengatakan bapak sebagai penjala ikan, berarti ini surat siapa ya, Bang? Karena disurat ini tertulis nama Tomok Khaidir. Apa benar itu nama abang?” tanya wartawan dengan wajah serius.

Tomok pun tertawa lepas sambil menjawab dengan gurauan:

“Hahahaha, ngapo miko tak tanyo dari tadi. Di sini ado tigo namo Tomok. Rumah tu Tomokin, rumah tu rumah aku, ni orangnyo. Hah..rumah tu yang beso macam kandang gajah tu, baru rumah Tomok Khaidir. Budak tu baru pindah dari Gua nos ires, hah susah cakap kato tu macam tak ado kato lain je. Dah lah, aku nak pergi menjalo ikan dulu dan jangan lupo tu tulis dikoran Jakarta, tak hanyo di Jakarta aje, pokoknyo seluruh Indonesia, agar para penjabat tu sado pentingnyo rapat, jangan asik-asik tido nginces basah-basahkan kursi mahal tu. Yo, jangan lupo tu. Dah aku pamit dulu. Assalamualaikum? Woiii....Pak Cang..Tunggu..”. Tomok pun pergi sambil berlari.

            Wartawan pun mulai tak semangat untuk mewawancarai orang yang ditugaskan dalam surat. Mereka membuat keputusan kalau wawancara yang mereka lakukan pada Tomok tadi untuk di terbitkan disurat kabar seluruh indonesia, dan mereka menyadari bahwa ada benarnya apa yang di katakan Tomok tadi tentang ceritanya yang ada seriusnya, ya walaupun sedikit meleset.

***

Eric F. Junior merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, jurusan Sastra Indonesia.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. Bldild 11 Maret 2021 - 23:48:00 WIB

    tadalafil pill - <a href="http://tadalafiltbs.com/">tadalafil pronunciation</a> generic tadalafil reviews http://tadalafiltbs.com/

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas