Sebuah Tekat Anak Bujang
0 Komentar 497 pembaca
Asrul Irawan

Sebuah Tekat Anak Bujang

Cerpen

Oleh: Asrul Irawan

Sudah beberapa hari ini Ujang selalu pulang tengah malam, badannya mulai tirus, mata mulai cengkung, dan kulit pun mulai gelap. Namun apa boleh buat, hanya ini yang bisa Ujang lakukan untuk membahagiakan kedua orang tua yang umurnya sudah mulai senja.

Ujang tak peduli dengan kondisi dirinya saat ini, yang ia pikirkan bagaimana besok ia bisa pulang membawa uang untuk kebutuhan meraka dan juga kesembuhan Abahnya. Abah Ujang sudah hampir satu bulan terbaring lemah di tempat tidur, penyakit gula kering yang diidap Abah, membuat Ujang menggantikan posisi Abah sebagai tulang punggung keluarga, semua pekerjaan Abah, Ujang yang menggantikan. Mulai dari pekerjaan buruh bangunan sampai menjadi nelaya di sungai Siak yang terkenal dalam.

Dari pukul 06.00 pagi Ujang memulai aktivitas dengan menjadi buruh bangunan hingga selesai pukul 02.00 siang, lalu dilanjutkan Ujang menjaring ikan di sungai Siak hingga tengah malam. Hujan, badai ujang lalui di tengah sungai dengan ikhlas. Tak bisa di pungkiri bahwa Ujang terkadang iri melihat kawan-kawan sebaya bisa melanjutkan pendidikan S1 di Pekanbaru, namun apalah daya Ujang ia hanya bisa menjadi buruh bangunan, menjaring, dan menjala ikan untuk bertahan hidup. Cita-citanya yang ingin melanjutkan kuliah di urungkan karena kondisinya yang sangat tidak mendukung. Ketika Ujang berkumpul dengan kawan-kawan sebaya tak jarang Ujang merasa canggung melihat kawan-kawannya yang sudah mulai mengikuti gaya hidup kota Pekanbaru, mulai dari cara bicara, pakaian, dan bahkan tingkah laku.

Apalagi ketika mendengar cerita kawannya tentang kota yang menjadi impian Ujang untuk menuntut ilmu. Disaat kawan-kawan Ujang bercerita tentang indah dan bagusnya kota Pekanbaru yang dihiasi dengan bangunan-bangunan megah berdiri kokoh memperindah mata untuk melihatnya, namun apalah daya Ujang, hanya melihat tumbuhan bakau setiap hari yang tumbuh berjejeran di pinggir sungai memperindah bentuk sungai Siak. Dan saat kawan-kawanya menceritakan tentang motor baru yang dibelikan Ayah meraka untuk kuliah, Ujang hanya menunduk karena ia hanya punya sampan kecil untuknya mencai nafkah.

Malam itu Ujang sangat senang karena hasil menjala ikannya lumayan banyak, Ujang bergegas menjual hasil ikan yang ia tangkap itu kepada seorang toke ikan yang terkenal kaya di kampungnya.

“Assalammualaikum…”

“Waalaikumsalam” jawab Wak Mamut dengan hangat.

“ooh Ujang, ada apa Jang?

“Ini Wak, saya nak jual hasil tangkap ikan saya malam ni, Alhamdulilah lumayan banyak dari sebelumnya Wak.”

“Ikan apa Jang?” tanya Wak Mamut

“Ikan juara Wak, lumayan besar-besar ni Wak.”

“ee memang pas betul engkau datang ni Jang, dahlah Wak ambik semua tu.”

“e betul ni Wak?” tanya Ujang seakan tak percaya

“betul Jang, besok pagi Atan balik dari Pekan Jang. Jadi nak masakkan yang sedap-sedap sikit untuk dia Jang.”

“Weh memang mewah batul Atan Wak”

“Iya Jang, engkau kenapa tak bergarak-gerak dari kampung ni Jang? Cukuplah Abah engkau yang jadi nelayan Jang, kalau bisa engkau jadi pengusaha bukan jadi nelaya juga.”

Perkataan wak Mamut membuat Ujang bungkam seketika.

eee wak ni, kenapa pulak aku yang kenak ni” jawab Ujang dalam hati

“Oh iya Wak, hutang minggu kemarin besoklah Ujang bayar ya Wak. Ujang nak belikan obat Abah yang dah abis wak.”

“Ha iyalah Jang”

Wak Mamut memang toke yang baik hati, ia selalu mengerti dengan kondisi keluarga Ujang. Setelah menerima uang hasil nelayan Ujang bergegas pulang.

Pagi itu Ujang memulai aktivitasnya seperti biasa menjadi buruh bagunan, Ujang bekerja begitu semangat dan rajin kerena hari ini adalah hari semua buruh bagunan tunggu-tunggu, hari di mana mereka akan menerima gaji dari hasil kerja keras mereka beberapa bulan ini. Setelah semua pekerjaan selesai semua yang bekerja dikumpulkan, tak tertinggal juga Ujang yang ikut berkumpul. Semua pekerja bersorak gembira karena akan menerima hasil jerih payah mereka beberapa bulan ini.

Semua berkumpul mengambil gaji mereka masing-masing, Ujang yang berbaris paling belakang tersenyum senang bahwa hari ini ia akan membawa pulang uang untuk tambahan berobat Abahnya. Pas giliran Ujang yang ingin menerima gaji, amplop gaji tersebut habis dan Ujang terkejut.

“Hey Jang, kau mau ambil gaji apa?” Tanya seorang pria paruh baya.

“Gaji saya Bos” jawab Ujang dengan polosnya

“Jang, Jang, hutang Abah engkau banyak Jang, gaji ni pun belum cukup untuk menutupi hutang Abah engkau tu Jang, jadi gaji kau tak ada Jang dah abis di potong hutang Abah engaku.”

Ujang menatap Bosnya dengan kesal ia merasa dicurangi, selama ini Ujang selalu bekerja dengan rajin bagaimana mungkin ia tak menerima gajinya.

“Tapi Boss…”

“dah, dah Jang” potong Bos Ujang

“Proyek ni kan belum habis jadi untuk bulan ni engkau tak dapat gaji, di potong hutang Abah engkau, bulan besoklah engkau terima gaji lagi Jang.”

“Aku tak terima semua ni Bos, aku bekerja bahkan lebih berat dari pekerja yang lain kenapa pulak gaji aku tak keluar? kalau memang Bos nak potong hutang Abah aku kenapa tak berunding terlebih dahulu.”

“Kau ni memang tak tahu di untung Jang, aku dah kasih kau makan gratis, kasih engkau dan abah engkau pinjaman tapi engkau melunjak pulak.”

Ujang mulai terpancing emosi.

“Dah untung aku mau kasih engkau bekerja di sini Jang, kalau tidak tiap hari engkau berayut mencari ikan di sungai Siak tu. Sadar diri Jang, kantor mana yang mau menerima karyawan tak bersekolah tinggi seperti engkau ni, gaya banyak, cita-cita besar tapi tak tahu diri. Cukup Abah engkau yang menjadi nelayan Jang, tapi gimana cara agar kau sukses sekolah aja tamat SMA, banyak di luar sana Jang tamat SMA yang menjadi sampah masyarkat.”

Karena Ujang tak tahan lagi mendengar hinaan dari bosnya itu, Ujang pun terpancing emosi, ia membanting gergaji yang sedang di pegangnya.

“Cukup Boss, dah cukup kau hina hidup aku. Aku memang tak bersekolah tinggi, aku memang miskin tapi aku masih punya harga diri.”

“Cuuuihh, bawaklah harga diri kau tu pergi dari hadapan aku Jang, tak laku sama aku harga diri kau tu”

Dengan rasa kesal dan amarah ujang pergi dari tempat pekerjaannya, sambil berjalan Ujang memasang tekat bahwa dia akan merantau dan menjadi sukses di kampung orang dengan usahnya sendiri, ia akan buktikan kapada orang kampung yang sudah menginjak harga dirinya bahwa dia akan sukses dan tak akan kembali ke kampung tempat ia dilahirkan ini.

Pagi itu Ujang berpamitan kepada kedua orang tuanya,

“Mak, Abah, Ujang nak bekerja di kampung orang. Doakan Ujang jadi orang sukses yang bisa bahagiakan Mak dan Abah, jangan risau Abah dan Mak Ujang tetap akan menafkahi Mak dan Abah dari jauh, Ujang akan kirimkan uang untuk Mak dan Abah di kampung.”

“pegilah nak, tapi jangan lupa untuk pulang karena di kampung ni butuh orang hebat sepertimu nak.” Pesan Mak Ujang

“Betul Jang, pergilah merantau. Tapi ingat Jang kalau samapi di kampung orang jangan seperti ayam jantan yang selalu mencari lawan, dan pasangan. Ingat selalu pesan Mak dan Abah ni Jang” di sambung oleh Abah Ujang.

Suasana haru terjadi pagi itu Mak dan Abah Ujang harus merelakan anak semata wayang merantau meninggalkan mereka di kampung. Ujang melangkah dengan tekat bulat akan jadi orang sukses. Ujang merantau ke Batam karena di sana ada sebuah PT besar yang sedang membutuhkan banyak karyawan.

Sesampainya di Batam Ujang lansung menuju lokasi PT yang membutuhkan karyawan itu, Ujang mendapatkan informasi dari surat kabar bahwa ada sebuah PT besar yang sedang membutuhkan karyawan. Singkat waktu Ujang langsung di terima kerja.

Sudah hampir 4 tahun Ujang merantu dan karena kesungguhannya, Ujang berhasil naik pangkat menjadi kaki tangan Bos yang pemiliki PT tersebut, hidup Ujang pun sekarang sudah berubah ia sudah memiliki rumah besar dan mewah di kota tempat dia merantau, Ujang di segani oleh semua karyawan bawahannya. Seperti janji Ujang kepada orang tuanya bahwa ia akan selalu mengirimkan uang untuk kebutuhan Abah dan Maknya di kampung, sudah hampir 4 tahun Ujang tak bertemu Abah dan Maknya di kampung karena rasa dendam kepada masyarakat kampung Mak dan Abah Ujang pun menjadi korban keegoisan Ujang.

Ujang tak pernah mengirimkan kabar sedikit pun kepada Abah dan Maknya di kampung bahkan setiap surat yang di kirim Mak Ujang, tak pernah Ujang baca apalagi membalasnya, namun tanggung jawabnya sebagai anak jantan tak pernah Ujang lupakan, hanya uang yang Ujang kirim, kabarnya tak pernah sampai kepada orang tau kandungnya di kampung. Soal rindu jangan di tanya sudah pasti Ujang sangat merindukan orang tuanya namun itu semua sirna kala Ujang mengingat ketika harga dirinya diijak-injak orang kampung.

Siang itu waktu istirahat pun tiba, seperti biasa Ujang mencari tempat istirahat untuk menyantap makan siangnya.

Tok…tok…tok...” suara ketukan pintu yang menghentikan aktivitas Ujang seketika

“Masuk” perintah Ujang

“Maaf Pak, saya mengganggu jam istirahat Bapak”

“Tidak, ada perlu apa?”

“Maaf Pak, seperti pembicaraan kita di telpon semalam bahwa hari ini saya ingin pulang kampung karena Bibik saya sakit keras. Oleh karena itu saya ingin pinjaman dana dari Bapak.” Penjelasan perempuan tersebut.

“Ini cek silahkan tulis berapa pun kamu perlu dana, sudah saya tanda tangan juga”

“Terima kasih banyak Pak”

“Tinggal Bibik sayalah tempat saya berbakti Pak, Ibu dan Ayah saya sudah meninggal sejak saya kecil dan saya di rawat oleh Bibik saya Pak, hanya dia tempat saya pulang, hanya Bibik saya tempat saya bermanja.” Cerita perempuan itu sekilas tentang dirinya.

Mendengar pembicaraan itu Ujang terduduk lemas, tak bisa di pungkiri bahwa dia tengah memikirkan kedua orang tuanya saat ini. Rindu Ujang semakin memuncak kepada Abah dan Mak di kampung.

“Kamu anak yang berbakti” Ujang membuka suaranya yang mulai berat.

“Iya Pak, hanya Bibik saya tempat saya berbakti Pak, karena Bibik saya, saya bisa sekuat saat ini menjalani hidup. Bahkan saya tak pernah tahu seperti apa rupa Ayah dan Ibu saya, belum sempat saya berbakti namun beliau sudah pergi meninggalkan saya. Kalau seandainya waktu bisa di putar saya ingin memohon kapada Tuhan agar bisa melihat senyum kedua orang tua saya pak, agar bisa merasakan hangatnya di pelukan orang tua saya Pak.” Tangis perempuan itu pun pecah di hadapan Ujang.

Ujang hanya menunduk dan merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan kepada kedua orang taunya, pembicaran perempuan itu membuatnya tertampar. Hanya karena dendam kepada orang kampung oranag tua kandungnya pun menjadi korban. Selepas perempuan itu pergi dari ruanganya, Ujang pun mencari surat terakhir yang di kirim Mak kepadanya.

“Untuk anakku Ujang.

Nak, mungkin sekarang engkau sudah sukses di kampung orang Nak. Engkau sudah berhasil mewujdkan impianmu Nak, Pulanglah Nak, bangun kampung yang sudah mulai gersang akan penghuni, sudah tak ada lagi orang muda yang mau menbangkitkan kampung kita Nak, Pulanglah Nak, tidakkah kau rindu dengan Abah dan Mak di kampung? Mari kita bangun kampung kita agar tak hilang seperti cakap pujangga kita Hang Tuah, “TAK KAN MELAYU HILANG DI BUMI” tegakah engaku melihat kami hidup dalam sunyi.” Itulah pangkalan surat yang dikirim Mak untuk Ujang.

Selepas membaca surat itu rasa rindu Ujang sudah tak terlahan lagi, dia segara menyelesaikan pekerjaan dan mengemas barang-barang untuk bergegas pulang kampung, tiket pesawat sudah di pesankannya. Setelah menelpon salah satu travel yang akan mengantarkan dirinya ke bandara. Tiba-tiba ia terkjetut saat menyenggol salah satu vas bungan di sampingnya. Traaaaaakkkkk gelegar suara yang jatuh menghantam sisi dinding rumahnya.

“Astaghfirullah, Abah” secara sepontan Ujang menyebut nama Abahnya.

Lalu ponsel Ujang berdering, tertulis nama kawan lamanya di kampung, Atan. Dengan segara Uajang menekankan tombol hijau yang tertera di ponselnya.

“Hallo Jang, pulanglah Jang Ayahmu sudah meninggal dunia, dari tadi kami menelponmu tapi tidak aktif. Pulanglah Jang Abahmu akan segera dikebumikan” pembicaraan Atan langsung keintinya.

Tubuh Ujang melemas, tak sanggup berucap apa-apa.

Innalilahi wainnailahiroji’un

Abah meninggal dunia, sudah menghadap yang maha pencipta. Baru saja Ujang merindukan kedua orang tuanya, namun Abah sudah tiada. Inikah Azab untuk Ujang dari Allah tak membiarakan rindu Ujang berlabuh, Ujang menagis sejadi-jadinya menyesali semua perbuatan, hanya karena dendam kepada orang kampung Ujang menyiksa batin Abah dan Maknya, hingga Abah Ujang menghentikan napas terakhirnya.

Sahabat, tidakkah kita ingat bagaimana susahnya orang tua merawat dan membesarkan kita, pernahkan kita berpikir bagaimana pengorbanan mereka, bagaimana lelahnya mereka, bagaimana tersiksanya meraka saat kita kecil menagis di tengah malam padalah mereka sangat ngantuk dan butuh istirahat?

Sahabat, mungkin orang tua kalian masih hidup sekarang, kalaulah boleh aku bertanya. Masih ingatkah kapan terakhir kalian melihat senyum ayah dan ibu kalian, masih ingatkah kapan terakhir kalian mengecup tangan ayah dan ibu kalian, masih ingakatkah kapan kalian bercanda bersama ayah dan ibu kalian, masih ingatkah kapan kalian terakhir mendengar omelan ayah dan ibu kalian? Berbaktilah kepada orang tua kita selagi masih ada waktu, mereka tak butuh harta yang mewah, yang mereka butuhkan anak yang menemani di saat usia mereka senja.

“Abaahhhhhh” jeritan Ujang memanggil Abahnya, tak mengulurkan waktu Ujang langsung bergegas berangakt agar bisa mencium pipi jasad abahnya.

Namun apa boleh buat sahabat, kewajiban orang hidup harus segera menguburkan yang meninggal dunia tanpa harus mengulur-ulur waktu. Atas dasar itulah Ujang tak dapat melihat wajah Abah untuk terakhir kalinya.

Singkat cerita sampailah Ujang di kampung halamanya yang sudah hampir 4 tahun tak pernah diinjaknya lagi, Ujang berjalan tak berdaya masuk ke rumah panggung yang masih sama seperti dulu, Ujang memeluk Emaknya dengan hangat dan menumpahkan air matanya untuk kedua kalinya. Ujang tak melepaskan pelukan itu, ia menumpahkan semua penyesalan, amarah, benci, dendam dan rindu menjadi satu di pelukan Emaknya. Setelah cukup puas menangis Ujang melepskan pelukannya dan berkata.

“Antarkan aku ke pemakaman Abah”

Dengan langkah yang berat Ujang diantar oleh tetangga ke pemakaman Abahnya, sesampainya di sana lagi-lagi Ujang terisak menangis sepertia anak kecil, ia sudah tak peduli lagi rasa bersalahnya cukup besar kepada Abahnya.

“Abahhh maaf, maaf, maafffff. Maafkan anak bujangmu Abah, Ujang sangat menyesal Abahh, bangun Abah ayo kita bangun kampung ini seperti kata Abah di dalam surat itu. Abaahhh jawab Bahh, Ujang sudah datang ingin memeluk Abah menumpahkan semua kerinduan ini Abahhh.”

Tiba-tiba tubuh Ujang melemas, tubuhnya terasa kaku, namun tangannya masih memeluk nisan Abahnya dengan air mata yang tak kunjung henti keluar. Lalu Ujang jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.

Sahabat, tragis bukan. Jangan buat orang tua tersikas karena rindu. Sejauh mana pun kita pergi pulanglah walau hanya sehari untuk mengobat rindu orang tua, meski harta yang kita berikan bahkan kita lapisi tubuh orang tua dengan emas tak akan pernah terbalas sedikit pun oleh kita jasa mereka.

 

Editor: GhaP

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas