PENANTIAN
0 Komentar 499 pembaca
Gambar dari Google

PENANTIAN

Cerpen

Banyak orang bertanya mengapa aku selalu membiarkan jendela kamar terbuka disetiap malam. Bahkan ketika udara dingin di bulan Juli, yang menusuk semua tulang sanubariku. Mereka yang jendelanya masih tertutup rapat masih, menggunakan kain selimut tebal untuk menghangatkan suhu tubuh mereka. Tetapi apa yang membuat begitu kuat dengan semua ini ?.

Jawabannya sangat-sangat sederhana didengar oleh semua orang, yaitu sebuah penantian. Jendela yang terbuka di dalam kamarku telah mempertemukan dengan “dia”. Membuatku merasakan apa arti jatuh cinta yang hebat. Bahkan aku sendiri sulit untuk mengungkapkannaya pada dirinya.

Ya, disetiap malam aku selalu duduk di bawah jendela kamarku, dengan memandang ke arah langit luar yang terbentang luas dengan dihiasi oleh cahaya-cahaya kecil yang menghiasi langit di waktu malam. Yang penuh dengan kegelapan. Di sinilah aku selalu berimajinasi yang bergitu tinggi.

Aku yang selalui ingin melihatnya dengan mata ini, dan tidak ada satu beda yang bisa menghalangi itu. Jangan pernah memintaku untuk menceritakannya kepada kalian untuk lebih jelas, karena kalian tidak akan mengerti bahkan kalian akan mengagap aku gila. Pada saat aku menceritakan itu yang belum pasti kalian bisa terima semua jalan pikiranku, kalian tidak akan pernah mengerti itu. Kisah ku dengannya akan terdengar seperti dongeng untuk menghantar anak-anak kecil sebelum tidur. Sehingga cerita itu akan pudar dengan sendirinya. Biar hatiku yang akan mengukir semua kisah itu dan menyimpannya dengan rapat-rapat.

Pada malam ini langit tidak begitu cerah dan tidak terlalu banyak cahaya yang meyinari kegelapan itu. Bahkan aku sendiri dapat menghitung berapa banyak bintang di  langit pada malam ini dengan menggunakan jari-jariku. Hebusan angin malam dari timur yang membawa perubahan cuaca, awan-awan hitam yang berlari kecil menutupi langit yang dihiasi beberapa bintang kecil berubah menjadi gelap. Karena awan-awan itu tidak bisa lagi menahan semua pada dirinya, sehingga harus meluapkan isinya pada bumi.

Namun pada malam ini aku tidak berhasil melihatnya lagi. Aku membiarkan jendela kamar tetap terbuka agar dia tahu aku di sini senantiasa menunggunya, tanpa lelah, tanpa mengeluh sekali pun. Aku terjaga dari tidurku karena ada bunyi arloji jam di meja belajarku. Sehingga membuat mataku terbuka oleh suara jam yang menandakan tengah malam.

Aku termenung di bawah jendela itu, masih melihat langit hitam tanpa cahaya. Sampai sekarang jendelaku masih terbuka bahkan sampai kapan pun jendelaku akan tetap terbuka hanya untuk melihatmu. “Oh” andai malam ini aku bisa melihatmu lagi untuk yang terakhir kalinya untuk malam ini, sebelum sinar surya terbit di langit. Bulan purnama.

 

Oleh: Narima

Editor: GhaP

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas