Dan Ada Mimpi yang Mesti Digapai
2 Komentar 1098 pembaca
Ilustrasi (g. net)

Dan Ada Mimpi yang Mesti Digapai

Cerpen

Cerpen Husaini alias Kucay

Sebuah desa kecil di sudut Sumatera Bagian Timur, tepatnya di Desa Rantau Tanjung Sakti, aku dilahir dan dibesarkan. Sebuah desa dengan mayoritas penduduk hanya mengandalkan hasil dari pertanian dan perkebunan. Di desaku ini pernah lahir seorang tokoh hebat yang telah membantu kemerdekaan republik ini. Aku terlahir dari keluarga yang termasuk dalam kategori masyarakat golongan bawah. Aku tingggal di sebuah rumah panggung yang hanya berdinding papan dan beratap daun rumbia bersama ibu dan seseorang yang bagiku tak pantasku anggap ayah. Dari kecil aku telah membencinya, aku tak pernah dapatkan perhatian seperti anak-anak lain pada umumnya. Dia tak pernah memuji saat aku selalu menjadi juara di kelas. Dia tak pernah memberikan nafkah kepada ibu dan juga kepadaku. Semua hal yang berhubungan dengan kebutuhan material selalu saja ibuku yang melakukan segalanya. Dia tak pernah peduli tentang itu semua, yang dia tahu hanya makan, tidur dan mabuk-mabukan bersama kawan-kawan yang bagiku tak ubahnya segerombolan sampah yang tidak berguna. Jikalau saja bukan karna memikirkan ibu, mungkin sudah kumasukkan racun ke dalam kopi yang setiap pagi kuhidangkan untuknya agar dia hilang dari muka bumi ini.

Aku tak tahu mengapa kebencian kepadanya begitu dalam di hati ini, hingga tak ada sedikit pun perasaanku menganggapnya sebagai seorang ayah tapi melainkan seorang bajingan. Aku selalu menyesali mengapa aku harus mempunyai ayah seperti dia. Tetapi inilah kenyataan hidup yang harus kujalani, setidaknya aku masih mempunyai seorang malaikat yang berhati baja. Dia tak pernah mengeluh dengan kehidupan yang di jalaninya. Walaupun setiap hari harus dilaluinya dengan kerasnya perjuangan hidup. Mengayuh sepeda tua untuk pergi mengambil upah menyadap karet hanya demi menyekolahkan dan membesarkanku tetap di jalaninya dengan ikhlas. Sungguh betapa tak berdayanya aku dengan semua ini. Dia tak pernah mengizinkanku membantunya bekerja. Terus belajar dan tetap menjadi juara di kelas, itu sudah lebih dari cukup baginya. Dia tak ingin aku mengalami nasib sama sepertinya. Dia selalu bercerita tentang khayalannya padaku bahwa suatu hari nanti dia ingin melihatku menjadi seorang dokter agar aku bisa mejaga dan merawatnya di hari tua nanti.

Pernah suatu hari aku mendengar ibu menceritakan semua khayalannya itu kepada tetanggaku.
“Tak usah berkhayal terlalu tinggi, Cik Minah, bisa menyekolahkan Limah sampai tamat SMA saja seharusnya Cik Minah sudah bersyukur,” aku dengar Bu Susi menjawab pernyataan ibuku dengan penuh cemoohan.

“Di kampung kita ini belum ada wanita yang bersekolah hingga tamat SMA, Cik Minah. Ita anakku saja selepas lulus SMP langsung kusuruh untuk menikah. Bukankah kodrat wanita itu memang hanya untuk menjadi ibu rumah tangga,” tambahnya lagi.

Saat itu kulihat ibu hanya tersenyum kecil padanya. “Aku tak pernah memaksanya untuk menjadi seseorang seperti yang selalu kukhayalkan,” ucap ibuku lirih.
Di pipinya kulihat air mata mengalir. “Aku Cuma berharap, Limah tahu bahwasanya dalam hidup ini harus ada sesuatu yang mesti dia kejar, ada sebuah impian yang mesti harus terwujud, dan ada mimpi yang mesti di gapai,” ibuku mengusap air mata di pipinya.

“Cukuplah cuma aku yang merasakan semua kepahitan ini. Aku tak ingin anakku juga merasakannya. Aku ingin dia selalu bahagia dalm hidupnya, biarlah badanku ini terlepas dari tulangku asalkan anakku tetap bisa sekolah dan bermimpi lebih baik dari padaku,” ucap ibuku lagi.

Aku tak kuasa menahan air mata ketika mendengar pernyataan ibuku yang penuh ketulusan itu. Sungguh ingin sekali rasanya aku berlari memeluknya dan mengucapkan “Ibu, satu janjiku kepadamu, aku akan membuatmu tersenyum dan bangga suatu hari nanti,” gumamku lirih sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi ini. Begitu hina rasanya jika kelak aku tak bisa mewujudkan mimpi malaikat dalam hidupku itu. Sungguh tak berguna rasanya jika kelak aku mengecewakan ibu.

Semenjak hari itu, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan selalu membahagiakan dan membuat bangga malaikatku itu. Masa remaja yang seharusnya kulalui bermain bersama teman-teman kuhabiskan hanya untuk belajar dan belajar. Aku tak ingin ibu kecewa jika aku tak bisa menjadi juara kelas lagi di sekolah. Karena hanya itu yang baru bisa aku persembahkan untuk ibu. Aku tak peduli teman-temanku yang selalu bilang bahwa aku terlalu lugu dan tak tahu bergaul seperti mereka. Aku tak peduli tentang mereka yang selalu bilang aku tak laku karena tak pernah punya pacar di dalam hidupku. Meskipun sekarang aku sudah kelas tiga SMA belum sedikit pun terpikir dalam benakku untuk mempunyai seorang kekasih. Karena bagiku hanya ibulah kekasih dan orang yang paling kucinta dan kusayangi dalam hidup ini.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, aku telah menyelesaikan masa putih abu-abuku. Hari ini aku akan pergi meninggalkan kampung halaman untuk mengejar mimpi-mimpiku dan mimpi ibu. Aku akan melanjutkan studi di sebuah universitas kedokteran kebanggaan di Riau. Berbekal sebagai mahasiswa undangan, aku pun akhirnya bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke sekolah yang telah aku impi-impikan sejak dulu itu.

Lima jam perjalanan yang telah kulalui hingga akhirnya aku sampai ke kota tujuanku, yaitu kota Bertuah Pekanbaru. Dengan hanya mengandalkan badan sebatang mau tak mau aku harus memulai kisahku di sini dengan sedikit kepedihan. Mungkin bagi sebagian orang berada di Kota Bertuah ini adalah suatu keberuntungan, tapi lain halnya dengan aku, karena aku tak bisa melupakan bayang-bayang ibuku di kampung yang tak bisa lagi aku ketahui kabarnya setiap hari. Kalau bukan karena tekadku untuk membahagiakan ibu mungkin aku sudah pulang ke kampung dan lebih memilih untuk menjaga dan membantunya di sana. Tapi aku tahu di sana dia selalu berharap cita-citaku yang baginya hanya selangkah lagi ini akan tercapai sebentar lagi. Aku masih ingat hari itu saat guruku datang ke rumah dan memberitahunya bahwa aku lulus sebagai mahasiswa undangan di universitas yang selalu kuceritakan padanya. Tak pernah dalam hidupku melihatnya segembira itu. Dia memelukku dan berteriak kepada tetangga-tetangga yang dulu pernah meremehkan mimpinya itu. Mereka hanya bisa terdiam menyaksikan kegembiraan yang sedang kami alami.

Tapi ternyata takdir tak berjalan seperti apa yang kubayangkan. Di tengah jalan ternyata aku harus mengalami sebuah masa yang begitu sulit untuk dilalui. Ibuku mengalami kecelakaan dan dia harus beristirahat entah untuk beberapa lama ke depan. Dan itu semua membuatku harus berusaha mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan harianku. Aku pun mencoba melamar pekerjaan di beberapa tempat, tetapi ternyata mereka tak bisa menerima lamaranku karena mereka tak menerima pekerja seorang seorang anak kuliah. Akhirnya itu semua memaksaku harus mengambil cuti dari kuliahku untuk mengumpulkan uang.

Masalah tak berhenti di situ saja, ternyata pihak kampus mencabut beasiswaku dan itu semua membuatku semakin bingung. Aku tak mungkin memberitahu ibuku tentang itu semua, karena itu akan menambah beban dalam pikirannya. Di tengah kesulitan yang kualami seorang teman mencoba memberiku solusi yang tak pernah terbayangkan oleh aku sebelumnya. Dia mengajakku untuk menjadi pelayan nafsu bejat laki-laki hidung belang.

“Aku tak mau melakukan itu semua, Rin, biarlah aku menjadi pemulung daripada harus menyerahkan kehormatanku pada laki-laki bejat di luar sana,” bantahku dengan nada sedikit tinggi.

“Aku hanya ingin membantumu saja, Limah. Bukankah kamu tak ingin mengecewakan ibumu di kampung?” dia memandang dan memegang tanganku.“Limah, aku tahu mungkin ini sangat sulit bagimu, tapi aku percaya apapun yang kamu lakukan semua itu adalah semata-mata hanya untuk membahagiakan ibumu. Aku tahu kamu sangat menyayangi ibumu dan aku tahu kamu takkan mungkin mau melihat ibumu sedih dan kecewa bukan?” ucap temanku mencoba meyakinkanku.

Di satu sisi aku merasa semua itu takkan mungkin aku lakukan. Jangankan untuk melayani dan tidur bersama laki-laki, berpegangan tangan dengan laki-laki saja tak pernah aku lakukan dalam hidupku. Tetapi di sisi lain, aku merasa tak berdaya jika harus membayangkan kesedihan di muka ibuku jika akhirnya aku harus mengubur semua mimpi-mimpiku dan mimpi-mimpi yang ibu harapkan selama ini.

Akhirnya aku memutuskan juga untuk terjun ke dunia yang begitu kelam bagiku itu, walau hati ini selalu saja menangis dengan apa yang kualami saat. Aku tak peduli lagi rasanya tentang kebahagiaanku, bagiku yang terpenting hanyalah kebahagiaan untuk ibuku. Aku tak ingin melihatnya kecewa dan sedih, bagiku sudah cukuplah ayah saja yang telah mengahancurkan hatinya. Dan sekarang aku hanya berharap dia diberi umur panjang dan bisa melihatku memakai toga dan bergelar dokter seperti yang selalu diimpikannya selama ini.

Husaini alias Kucay adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

  1. cara menyembuhkan hernia dengan pijat 16 Februari 2017 - 12:40:01 WIB

    siaplah kudu iee mah https://mysp.ac/3iyjI

  2. cara menyembuhkan hernia dengan pijat 16 Februari 2017 - 12:40:27 WIB

    siaplah kudu iee mah https://mysp.ac/3iyjI

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas