JEJAK MULIA GARUDA MUDA
2 Komentar 94 pembaca

JEJAK MULIA GARUDA MUDA

Cerpen

Suara knalpot dari sebuah sepeda motor tua terdengar meraung keras. Keberadaannya  memecahkan keheningan malam di jalan aspal yang berliku. Rodanya yang licin dengan rantai gerigi berkarat karena dimakan usia berputar sangat cepat. Kendaraan tersebut tampak dipaksa untuk berlari di luar kondisi normalnya dalam mengitari pinggiran Kota Pekanbaru.

Terlihat dua orang pria bergamis putih sedang serius menunggangi ‘kuda besi’ itu, sembari tetap fokus memilih bagian permukaan jalan raya yang memang aman untuk dilalui. Lelaki muda berwajah tampan bernama Azzam duduk di bagian belakang jok sepeda motor, sedangkan di depannya seorang pria berusia separuh baya yang sangat berwibawa. Dia adalah Ustadz Zainal, pimpinan pondok pesantren Al-Marwa, tempat Azzam menuntut ilmu.

Malam itu, Ustaz Zainal sedang berjuang untuk mengantar Azzam agar bisa pulang ke rumahnya. Mereka berdua terus bergerak cepat. Hujan deras yang turun membasahi “Kota Bertuah” ternyata tidak mampu menghentikan langkah keduanya dalam membelah gelapnya malam. Mereka berdua terlihat sangat asyik berpacu dengan waktu dan tidak sabar lagi untuk segera sampai di tempat yang dituju.

Waktu telah berlalu sekitar empat puluh menit. Motor tua milik Ustaz Zainal akhirnya sampai juga di depan perkarangan sebuah Rumah Panggung, rumah tradisional kebanggaan Masyarakat Melayu. Itulah rumah keluarga Azzam.

Ustaz Zainal dan Azzam terkejut luar biasa karena di depan rumah Azzam telah ramai dipenuhi masyarakat. Sebagian dari mereka merupakan wajah-wajah yang sangat dikenali oleh Azzam, tetapi sebagian yang lain masih terlihat asing baginya. Azzam berkata dalam hatinya: “Apakah yang sedang terjadi? Kenapa masyarakat sangat ramai berkumpul di depan rumahku?”

Azzam tampak tidak bisa lagi menenangkan dirinya sendiri. Kakinya langsung melompat dari sepeda motor dan berlari untuk menaiki tangga dan segera menggapai pintu rumahnya. Hati remaja ini semakin penasaran dan penuh tanda tanya. Kesabaran Azzam pun akhirnya menghilang tak tersisa. Dia segera menaiki satu persatu anak tangga, lalu mengucapkan salam, dan melangkahkan kaki kanannya ke dalam rumah. Akan tetapi, saat mulai bergerak, tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat. Praak..., tas yang dipegangnya pun mendadak terjatuh. Tiba-tiba Azzam berdiri mematung, kaku, dan tak bersuara. Selanjutnya, remaja tersebut langsung menatap seorang perempuan yang duduk bersimpuh lemah di sudut ruangan. Perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya. Perempuan itu bernama Bu Halimah.

Bu Halimah tampak sedang menangis sembari dikelilingi oleh beberapa perempuan lainnya. Suara telapak kaki Azzam di dalam rumah membuat perempuan setengah baya itu pun tersadar dan seketika mengangkat kepalanya. Dia berusaha untuk terlihat kuat dan menantap wajah anak bungsunya itu. Akan tetapi, dia tetap tidak mampu menyembunyikan air mata yang mengucur deras di pipinya.

Azzam tidak mempedulikan siapapun saat dia melihat ibunya. Dia langsung memeluk orang yang paling disayanginya. Lalu, dia berbisik lembut: “Wahai Ibuku sayang! Kenapa Ibu menangis? Kenapa ibu terlihat sangat bersedih. Siapakah orang yang telah berani menyakiti Ibu?”. Perempuan tua yang penyayang itu hanya diam. Bibirnya tidak berkata, meski hanya satu aksara.

Walaupun bibir Bu Halimah terkunci dan tampak membisu, tetapi sepasang tangannya tetap berusaha meraih tubuh Azzam dan memeluk buah hatinya tersebut dengan penuh kasih sayang. Bu Halimah mulai menyeka air matanya.

Bu Halimah mulai mencoba untuk berkata dengan bibir yang bergetar: “Azzam, Anakku sayang! Bagaimana pendapatmu, jika seseorang menitipkan miliknya kepada kita dan setelah beberapa lama, dia kembali mengambil titipannya dari kita?”tanya Bu Halimah.

Azzam menjawab mantap: “Kita harus ikhlas melepaskannya, karena itu hanya titipan sementara. Itu bukan milik kita, tetapi milik orang yang menitipkannya. Kita harus bersabar karena telah kehilangan dia, benar kan, Bu?” Bu Halimah sontak menangis keras sembari berkata dan membelai kepala anaknya: “Kamu benar Nak, Bersabarlah, Nak! Kak Azizah yang telah dititipkan Allah Ta’ala dalam kehidupan kita telah diambil-Nya”.

“Maksud Ibu?”, tanya Azzam. “Kak Azizah, Kakak perempuan kandungmu telah meninggal dunia. Kakakmu telah tenang menghadap Sang Pencipta alam semesta. Sekarang dia telah berpulang menghadap Zat Yang Maha Kuasa dan berkumpul dengan Almarhum ayahmu”, jawab Bu Halimah.

 Azzam langsung melepaskan pelukan Ibunya dan mencari Kakaknya. “Kakak..., Kakak..., dimana Kakak, Bu?’, teriaknya. Dia berlari kencang menuju ke semua kamar, ruang keluarga, dan dapur, tetapi dia tidak menemukan kakak yang sangat disayanginya itu. Lalu, dia menuju ibunya lagi dan berkata: “Dimana Kak Azizah, Bu?”,   tanyanya sambil menangis keras seakan tak percaya.

Kakak Azizah telah meninggal dunia. Dia telah dimakamkan sore tadi, Nak”, Bu Halimah meyakinkan anaknya. Azzam menangis keras, dan berkata: “Wahai Ibuku! Kakakku belum meninggal, Ibu. Dia masih hidup. ”.lalu dai memluk ibunya.

“Kakak sedang berada di tempat kerjanya”, ujar Azzam dengan air mata yang deras membasahi pundak ibunya. Azzam masih tidak percaya bahwa kakaknya telah tiada dan pergi menghadap Sang Pencipta. Dia tidak bisa menerima keadaan yang sangat ditakutinya ini. Dia tidak menyangka, bahwa dirinya harus kehilangan dua orang yang paling dicintainya dalam waktu satu tahun saja. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya di bulan kedelapan terjadinya pandemi, Azzam  juga telah kehilangan ayah yang sangat dicintainya.

 “Jenazah kakamu diselenggarakan sesuai dengan protokol jenazah pasien Covid 19, sehingga tidak seorang pun boleh mendekati, menyelenggarakan, dan mengiringi jenazahnya, kecuali petugas khusus. Kondisi ini sama dengan prosesi penyelenggaraan Almarhum ayahmu delapan bulan yang lalu.

Azzam, maafkan kesalahan kami yang menutupi semuanya dari dirimu”, ungkap Bu Halimah sambil kembali mendekap erat tubuh anaknya. Bu Halimah memahami bahwa anaknya sangat terpukul dengan kepergian kakaknya.

Bu Halimah mencoba menguatkan anaknya dan berkata; “Azzam, maafkan kami, Nak. Kami tidak bisa rutin mendatangimu ke pondok pesantren setiap pekannya, karena selama dua bulan ini, kakakmu sedang berjuang di ruang isolasi rumah sakit. Kakakmu terpapar virus Covid 19 dari seorang pesien yang ditanganinya”.

“Pesien dan keluarganya berbohong dengan kondisi nyata penyakit yang dideritanya saat kakakmu memeriksanya. Kakakmu sebagai seorang perawat tetap melayaninya, tetapi tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap saat itu, karena keterbatasan persediaan APD tersebut di rumah sakit dan membludaknya pasien Covid 19. Kakakmu hanya mengenakan masker dan kaus tangan saja, tambah Bu Halimah.

“Ternyata sifat tidak jujur sebagian oknum masyarakat terhadap kondisi kesehatannya menyebabkan banyak korban jiwa pada petugas kesehatan di rumah sakit. Satu di antara korban terpapar Covid 19 tersebut adalah kakakmu”, imbuh Bu Halimah.

Azzam menangis penuh penyesalan setelah mendengar penjelasan dari ibunya. Hatinya terenyuh dan seketika berkata membatin: “Ternyata selama ini aku telah berburuk sangka kepada ibu dan kakakku. Aku menyadari sekarang bahwa mereka berdua sangat menyayangiku. Mereka berdua jarang menjegukku ke pondok pesantren dalam dua bulan ini bukan karena mereka berdua tidak mencintaiku, tetapi karena memang kakakku sedang berjuang untuk kepentingan umat. Kakakku seorang pejuang. Maafkan diriku. Kak!” Azam terus larut dalam lamunan panjangnya. Dia mencoba untuk mengingat kembali kenangan bersama sang kakak tercinta.

Renungan Azzam tiba-tiba terhenti saat Ustaz Zainal datang mendekatinya. Ustaz Zainal memegang pundak santri kesayangannya tersebut sambil berkata: “Azzam, Dengarlah nasehat Ustaz!, dia mulai memecahkan keheningan. “Anakku, renungkanlah! Azizah,  Kakakmu adalah  perempuan yang shalehah, penyayang, peduli, dan pekerja keras. Dia gugur dalam menjalankan tugasnya. Kakakmu, persis seperti ayahmu, seorang dokter spesialis paru yang juga gugur saat melaksanakan tugas dalam merawat ratusan pasien Covid 19 di Provinsi Riau”, tambah Ustadz Zainal.

Ustaz Zainal melanjutkan kata-katanya: “Kakakmu telah memberikan teladan yang sangat baik bagimu? Dia adalah pejuang yang tangguh bagi kemaslahatan umat. Dia selalu berada di garda terdepan untuk mencegah dan menanggulangi bencana wabah pandemi Covid 19 yang sedang menyerang masyarakat. Dia bagaikan garuda muda Indonesia yang berjuang untuk menyelamatkan anak bangsa. Dia telah membuat jejak-jejak mulia. Ya... Jejak Sang Garuda Muda. Jangan sia-siakan pengorbanannya!”, tambah Ustaz Zainal.

Azzam menggangguk setelah mendengar nasehat dari gurunya itu,  dan berkata: “Thayyib, Syukran, Ustaz”. Selanjutnya, anak muda ini pun memohon izin untuk menghadap ke kiblat. Dia menegadahkan tangannya. Terdengar lirih doa-doa terbaik dari bibirnya untuk kebahagian almarhum ayah dan almarhumah kakaknya.

Azzam juga semakin sadar bahwa musibah ini telah menjadi titik balik kehidupannya untuk segera berbenah, bangkit, dan memberikan pengorbanan terbaik untuk ibunya, masyarakat, dan agamanya. Dia juga bertekad akan melanjutkan perjuangan ayah dan kakaknya untuk menjadi Garuda Muda dengan jejak-jejak yang mulia. (Pekanbaru, 11 Oktober 2021)

 

Fery Mulyadi. S.H.I. merupakan pemenang dari penulisan cerpen Bulan Bahasa FIB Unilak 2021

 

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

  1. Khaled Mohammed 22 November 2021 - 15:22:29 WIB

    Hello

    How are you doing today? Please Are You a Company Owner,Business Owner,Project Owner,Consultant/Broker In Need of Immediate fund for your Projects/Businesses/Investments and for your clients? Our company GTI is Offering Funding at the moment at 2-3% annual interest upto 15 years Repayment plan with 1-2 grace periods,So Kindly revert here (khaled.mohammed1313@gmail.com) for more details on the procedure if interested.

    Regards
    Prof Khaled Mohammed
    VC GTI

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas