Puisi-Puisi Pemenang Lomba Cipta Puisi Bulan Bahasa FIB Unilak 2021
0 Komentar 190 pembaca

Puisi-Puisi Pemenang Lomba Cipta Puisi Bulan Bahasa FIB Unilak 2021

Puisi

Rumah Penjara

Oleh: Dang Mawar

 

Apakah kau tahu, Mat?

Rumah yang kau banggakan tak lebih dari rumah penjara

Matahari telah membusuk dan rembulan bernanah

Luka menahun wujud dari mata darah perempuan dan kanak-kanak

Kesunyian menyerbu di balik jeritan pilu

 

Ini hati telah bersarang serigala

Menerkam keserakahan

Di tengah timbunan sampah berdasi dan perut buncit

Atau gaya elegan bersama koper berisi usus saudara sendiri disulap menjadi dollar

 

Inikah rumah kebanggaanmu, Mat?

Virus menari dialiran nafas

Menghancurkan raga bahkan harta

Tiada lagi yang nak dikais, sesuap nasi bagai berlian

Vaksinasi lahan meraup keuntungan

Kegilaan apa lagi yang akan ditontonkan

Bintang-bintang enggan bergantung di langit

Kunang-kunang terlelap panjang, enggan memgembara.

Kita diantara ada dan tiada.

 

"Rumah ini rumah kebanggaan kita, kawan.

hanya kini ternoda tikus-tikus menebar luka dimana-mana. Hati nuraninya telah terbakar, bahkan angin dan udara pun hendak di dibakar."

 

Lalu

Apakah kita hanya bisa mencatat badai dan pohon pohon tumbang lalu menghimpit kita?

 

"pahatlah wajahmu tetap pada yang benar, mengapa mengeluh, bukankah tikus takut dengan kucing? Kucing dalam diri mengaumlah, Bukankah kau percaya Tuhanmu selalu menjagamu? Rumah ini menjadi penjara saat kau percaya dirimu bisa terbelenggu."

 

Jangan jadi batu

Hanya tengadah melihat dedaunan dan diam memdengar desau angin lalu berlumut dan dilupakan.

 

 

 

Menggembala Sukma Kabilah Bangsa

Karya : Muhammad Iqbal Khoironnahya

 

/Hikayat I/

Kepada waktu-waktu yang usang dan takdir yang tak menemui titik makna

segenap manusia menghidu aroma tubuh yang tandus

—dipenuhi noda-noda ganjil

lantas merambat,

menusuk liang-liang aksara di jantung warta

: penuh penggal-penggal megatruh yang belum utuh meniti intensi nasib

atas selaksa kehidupan yang berkarib dengan galat berinduk pada dosa

 

/Hikayat II/

Maka dipetiklah serepih rasa lapang dari tirai krida kepatuhan

dianyam nan dipanen di tubuh musim pusara

yang menyajikan risalah ajal.

 

Berbondong-bondong bumiputra memafhumi roman yang mencekam

dengan hamparan rasam tata cara memelihara usia yang tak kasat mata

merasuk dalam jiwa-jiwa pencita moksa

kini yang tersisa ialah panorama segala keringat,

senyum, dan biduk-biduk yang beranak-pinak.

Saat udara tak lagi dipingit amat likat oleh wabah niskala

mimbar-mimbar telah mengumandangkan ayat-ayat Tuhan.

 

/Hikayat III/

Kilatan desah pun sedia tercipta dari dekap yang melelehkan gulana

kehidupan seperti bayi yang baru dilahirkan

dengan pernak-pernik rasa haru yang ditanam dan dituai di dalam liang nurani

: terciptalah monumen yang rimbun terisi memorabilia afwah dari rahim lika-liku peradaban bijana

maka hendaklah, hasta-hasta saling menganyam kukuh kewaskitaan

lantas, menggalang nuraga: agar bentala tak lagi didekap wabah niskala.

 

Sleman, 15 Oktober 2021

 

 

 

Katasrofa Puaka Wabah

Pusvi Defi

 

Dunia sedang tidak baik-baik saja, bumi terkurung dalam demam wabah

Angin berhembus ke utara, wajah cuaca berubah di sekujur tubuh nusantara

Akankah kiamat segera tiba, dan sekuntum bunga akan layu,

Merebak kemarau membawa luyu

 

Di televisi, aku menelisik betapa pandemi yang diramalkan itu

Menjentera serupa waktu

Merangsek dari benua-benua, negara ke negara,

Pulau demi pulau hingga kota-kota dikepung duka

;membelukar karantina, berkelebatan serupa panji bunga kanikara

 

“Inikah namanya katasrofa

Puaka

Wabah?”

 

Seiring rona kematian kian menjerat mangsa,

Menyulam belangah luka renjana

Pada para kulawangsa bermulam gelebah

 

                        “kita harus tetap waspada,

corona semakin meraja!” imbau Pemerintah lewat sosial media.

 

Sementara, seorang Ayah membanting tulang di terik siang

Menjajakan koran, demi sesuap harapan

Dapat membeli gawai dan kuota untuk buah hatinya belajar virtual

Meskipun cobaan menjerit keadaan, memikul beban khayal

 

Di perempatan jalan, pengemis tua mengetuk pintu rumah,

Menengadah iba pada keroncongan perut yang melilit derita

 

Di suatu tempat, sekumpulan orang membakar dupa

Memanggil roh nenek moyang untuk mengirim kesatria

Membasmi corona, mendatangkan waskita

 

Dari sekian kembara, kini lelah mengantar manusia

Pada simpang muara berkidung rasa sumarah,

Sebelum tubuh dan batin terbelah,

Maka kembalilah pada jalan pulang yang agung

Meminta ampunan pada Tuhan yang maha relung.

 

Palembang, 08 Oktober 2021

 

Dang Mawar, Muhammad Iqbal Khoironnahya, Pusvi Defi merupakan Pemenang dari cipta puisi Bulan Bahasa FIB Unilak 2021

 

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas