SUNGAI YANG BERTENGKAR
0 Komentar 93 pembaca
Gambar didapat dari google

SUNGAI YANG BERTENGKAR

Cerpen

Ini adalah hari ke tiga ratus enam puluh dua Daff datang ke pemakaman. Setiap hari ada saja yang mati karena virus corona. Ia masih hapal betul siapa jasad yang telah ditanam dalam kubangan. Sangat ingat nama-nama mereka tanpa perlu melihat di epitafnya.

            Matanya mendadak bengkak. Setiap hari ia dipaksa menangis dan menahan amarah. Bahkan ketika ia melihat orang-orang kemarin berbondong-bondong mendatangi istana dewan keadilan yang becek akibat berhari-hari hujan deras tanpa henti. Melihat warga begitu murka. Menuntut untuk menghapuskan sebuah aturan PSBB, lalu melihat sepanjang jalan Daendels merah membara. Tubuhnya masih terlalu kecil untuk ikut serta dalam acara bakar-bakaran. Sore ini, tepat setelah kidung dan ayat-ayat kesepian selesai dibacakan di depan pemakaman, Daff melangkah pulang bersama payung hitam di atas kepalanya dengan tangan terus dikepalkan.

            Selesai dari pemakaman, Daff selalu melihat daftar nama di buku catatan kematian milik ayahnya. Melihat sebuah nama yang mengingatkan pada karibnya, Ron. Adiknya yang telah mati empat hari yang lalu. Sahabatnya itu biasa bermain bersamanya di pinggiran sungai berisikan air hujan yang jernih tepat di belakang rumahnya. Tak jarang Daff ikut menceburkan diri, tenggelam, lalu berenang, tertawa lalu pura-pura hanyut demi membuat Ron diliputi kecemasan. Tapi, tak ada yang lebih menyedihkan dari melihat adik sahabatnya yang hilang ditelan sungai yang mulai menyebarkan malapetaka.

            “Besok jangan berenang di sungai timur. Ayah tak ingin kehilanganmu.”

            Ayah benar-benar marah ketika melihat Daff dan Ron pergi ke sungai timur. Saat itu adik Ron memaksa ikut pergi berenang. Mereka tak tahu jika air sungai itu telah berubah warna sekarang. Cenderung berbau dan berwarna kehitaman. Apakah hujan bulan ini menjadi berwarna kehitaman? Hingga akhirnya petaka itu datang. Zio, adik Ron tewas entah karena keracunan atau positif covid. Ia lebih dulu berenang ketika Daff dan Ron masih asyik kejar-kejaran di pinggir sungai. Kata warga yang menemukan mayatnya, Zio terpapar cairan berbahaya yang mereka juga tak tahu dari mana datangnya. Hingga saat itu warga mulai membuat peraturan untuk pelarangan pergi ke sungai timur. Entah itu mengambil air minum atau sekadar untuk mandi belaka. Berhari-hari hujan baru kali ini Daff mendengar bahwa air hujan berwarna kehitaman.

            Rasa penasarannya bertambah ketika teman Ron yang lain, Bad juga tewas. Rumahnya tepat di samping aliran sungai timur. Air di rumahnya tercemar. Ketika hal itu ditanyakan pada ayah Daff, ia bilang jika sumber air di dalam rumahnya tercemar. Bahkan sebagai orang yang dituakan di kampungnya, ayah Daff bingung apa yang harus dilakukan. Hulu sungai timur di ujung atas berbatasan dengan pemakaman raja-raja Imogiri. Tak seorang pun diperbolehkan masuk kecuali keluarga langsung dari kerajaan. Itu pun harus dengan surat vaksin dan surat pengantar jelas dari dewan keadilan. Berbekal rasa ingin tahu, Daff dan Ron berencana menuju hulu sungai timur demi melihat apa yang terjadi di sana. Tanpa memberi tahu ayahnya.

            Maka, ketika matahari masih sembunyi dan malu-malu, Daff dan Ron berlari ke utara menyusuri tepian sungai timur. Tak lupa pula mereka membawa masker, payung dan sandal jepit karena jalanan semakin bertambah becek. Mereka heran, beberapa waktu yang lalu sungai itu masih terlihat jernih airnya. Bahkan lebih jernih dari sungai barat. Kadang mereka bisa melihat gumpalan awan putih yang terpantul di permukaan sungai. Hari ini, mereka dibuat penasaran dengan semua yang terjadi.

            Perjalanan mereka terhenti. Mendadak mereka mendengar deru buldoser di kejauhan. Ron sudah ketakutan. Takut jika mereka berdua juga dalam bahaya dan tak bisa kembali. Daff terus meyakinkan, ia sangat kesal teman dan saudaranya banyak yang mati tanpa tahu harus kepada siapa meminta pertanggung-jawaban. Daff benar-benar ingin tahu sumber masalahnya. Dari alasan itulah Ron menurut dan terus mengikuti Daff.

            “Apa ayahmu tak marah? Bagaimana kalau kita tersesat dan tak bisa kembali? Apa tak lebih baik kita kembali dan pulang saja.”

            Daff tidak menjawab dan malah terus menarik lengan Ron. Daff bilang sedikit lagi sampai di hulu sungai. Tempat pertemuan dua sungai timur dan barat yang pernah ayah Daff ceritakan padanya.

            Maka ketika keduanya melihat keanehan dua aliran yang berbeda warna, mereka terdiam. Kening mereka sama-sama berkerut. Bunyi buldoser seakan makin dekat. Daff yakin ujung hulu sungai timur bukanlah tempat raja-raja Imogiri dimakamkan seperti yang pernah ayahnya ceritakan. Perlahan dia sadar jika itu semua kebohongan. PSBB juga penuh kebohongan. Mereka semua mengarang cerita demi menakuti warga agar tak pernah datang ke hulu dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Warga sudah terlanjur nyaman dengan hamparan hilir yang hijau Tanpa perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di ujung hulu sungai.

            Daff dan Ron masih sembunyi di antara ilalang yang basah karena setiap hari diguyur hujan di sela pagar kawat pembatas. Melihat para pekerja mengeruk dan memindahkan tanah dan bebatuan. Sesekali, Ron menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu memamah ujung rumput karena bingung apa yang harus dilakukan. Di ujung sana, Daff melihat tiga cerobong asap besar. Berdiri di tengah-tengah satu bangunan tinggi. Membuat langit yang seharusnya biru mendadak tergores tiga garis hitam.

            “Kenapa ayah tak pernah cerita tentang ini? Bukankah pembangunan pabrik semen di atas bukit ini juga harus meminta izin pihak dinas lingkungan?”

            “Bukankah kemarin kita melihat warga berdemo besar-besaran, Menuntut peraturan seperti itu juga dihapuskan. Kata orang, dewan keadilan sedang membuat peraturan baru agar investor asing lebih mudah masuk dan membangun negeri ini. Semacam peraturan pembangunan usaha dua perindustrian.”

            “Lalu apa artinya jika jalan itu dipermudah tapi akhirnya malah merusak lingkungan kita?. Bukannya bersama-sama membuat pandemi agar cepat usai, justru ini malah semakin memperparah keadaan.”

            “Aku tak tahu. Kenapa juga kita tak bersama-sama menolaknya. kita sangat mudah dipecah belah hanya dengan segepok uang. Apa tak sebaiknya kita pulang saja Daff. Hari semakin sore. Orang tua kita pasti menunggu.”

            Daff tak menghiraukan ucapan Ron. Menarik kembali lengan Ron dengan cepat kemudian berlari mendatangi dua aliran sungai yang bertengkar. Daff tahu, sungai barat tercipta dari aliran gunung yang bersih. Ditambah lagi air hujan yang jernih turun mengaliri desanya di sebelah barat. Sungai timur tercipta dari sumber mata air pegunungan kapur yang juga mengaliri air bersih. Tapi kini, airnya berubah kehitaman. Tidak mungkin air hujan yang membuat sungainya menjadi seperti itu. Mendadak, tiba-tiba mereka melihat dua aliran saling beradu. Bisa dibayangkan jika aliran sungai barat kalah dan malah membuat aliran sungai yang turun ke bawah ikut tercemar semua.

            “Aku rasa kita harus bilang ke warga untuk segera pindah sekarang.”

            Daff melihat aliran sungai barat mulai kecoklatan. Tinggal menunggu waktu air sungai itu turun ke bawah lalu mencemari sumber air yang ada. Tak bisa dibayangkan berapa lagi saudara dan teman-temannya yang akan mati. Kemaren mati karena virus corona, sekarang malah mati karena keracunan limbah.

            “Ron, ayo kita cepat pulang. Kita harus pindah.”

            Daff menggandeng tangan Ron lalu berjalan turun lebih cepat dari tadi. Terbayang dalam kepalanya bagaimana jika aku sampai mati dalam keadaan belum sempat merasakan indahnya dunia tanpa corona.

            “Daff, kita harus bisa mencari jalan keluarnya. Kita tidak boleh mati. Kita ini generasi muda yang penting bagi desa” Ucap Ron.

            Daff tak menjawab. Matanya mendadak berkaca-kaca, ia hanya ingin secepatnya pindah bersama warga ke tempat yang lebih baik. Seisi sungai kini perlahan mulai tercemar. Sambil terus berlari, Daff mengelap sumber air yang tiba-tiba keluar dari sudut matanya. Lalu berbisik sendiri tanpa bisa didengar sahabatnya.

            “Ron, kamu memang benar. Peran kita sangat dibutuhkan bagi mereka.”

 

 

Rizki Adi Saputra merupakan juara satu dari lomba penulisan cerpen Bulan Bahasa FIB Unilak

 

***

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas