LAKUNA
0 Komentar 115 pembaca

LAKUNA

Cerpen

Takdir memang misteri. Mereka kira tidak akan pernah melihat wajah satu sama lain lagi. Namun justru di sinilah mereka berdiri sekarang. Arka tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sekar yang sedang berdiri kira-kira sejauh tiga meter darinya. Begitu juga dengan Sekar yang terdiam dan terpaku melihat Arka. Meskipun stasiun saat itu sedang ada di jam-jam sibuk, riuh orang-orang terasa begitu samar bagi mereka berdua yang tidak sengaja bertemu.

 

Selagi memandang satu sama lain, memori Arka dan Sekar kembali berputar ke kejadian tiga tahun yang lalu. Kejadian yang membuat mereka terpisah dan tidak bertemu selama tiga tahun lamanya. Ada satu pertanyaan yang sama di benak Arka dan Sekar.

"Apa alasan sebenarnya kau melakukan itu?"

Seiring dengan pertanyaan yang selalu berputar di benak Sekar, perempuan cantik itu mulai melangkahkan kakinya, mendekat ke arah Arka. Tatapan mereka terkunci, saling melepas rindu satu sama lain dan mencoba melenyapkan masa lalu yang suram.

 

“Apa kau merindukan aku, Sekar?”

Sebuah kalimat mengalun dari bibir tipis Arka yang tersenyum, hingga membuat matanya juga ikut tersenyum. Mata yang membentuk lengkungan bulan sabit, namun secerah mentari pagi. Senyuman seorang Arka Alvaro yang selalu berhasil mengikat Sekar Naora Putri.

Sekar juga tersenyum, namun matanya menumpuk air mata yang siap untuk ia tumpahkan. Oh, betapa rindu hatinya pada sosok pemuda tampan yang kini tengah berdiri dengan gagah di depannya. Sekar menatap dengan sendu iris hitam pekat sekelam malam, namun memancarkan pelangi yang muncul di musim semi milik Arka. manik berbingkai kaca mata yang selalu Arka sembunyikan.

 

“Aku punya banyak alasan untuk merindu padamu Arka, tapi aku tak punya satu pun alasan untuk bisa melenyapkan rasa rindu ini padamu.”

Sekar menumpahkan semua air matanya, menyalurkan rasa sedih yang di tahan selama ini. Arka tidak akan pernah mengerti, bahwa penyesalan Sekar amatlah besar. Perpisahan mereka tiga tahun yang lalu meninggalkan lubang hitam di hati Arka.

 

“Tak apa Sekar, aku sudah selesai dengan kesedihan ini. Kau sudah bisa bahagia.”

Lengkungan bulan sabit di mata Arka tak luntur, senyuman menenangkan pemuda tampan itu pun menjadikan sendu yang berangsur menghilang.

Tepat tiga tahun yang lalu Arka memutuskan hubungannya dengan Sekar secara sepihak. Tanpa adegan kelanjutan, tanpa penjelasan, tanpa kata jawab dari tanda tanya yang Sekar lontarkan. Arka membawa kakinya menjauh dari Sekar, menghilang bersama serpihan hati Sekar yang masih tertanam penuh pada cinta Arka.

 

“Apa alasan sebenarnya kau melakukan itu?”

Lagi, kata tanya seperti itu yang akan selalu Arka dengar dari Sekar. Tapi kali ini, ada jawab yang sudah Arka siapkan untuk sang pemilik hati. Pada kenyataannya, hati Arka hanyalah untuk Sekar dan akan selalu tentang Sekar.

 

“Kau tak bahagia Sekar, bersamaku.”

Sekar termangu, jawaban yang tidak akan pernah dapat di mengerti olehnya. Apa yang sebenarnya Arka maksudkan? Mereka sudah empat tahun menjalin hubungan kasih, apa sekarang Arka meragukan cintanya?

“Aku bahagia. Bahkan kau telah menjadi duniaku.”

Arka menggeleng menanggapi pernyataan Sekar.

“Kau tidak. Kita kehilangan semuanya, dunia kau dan juga aku. Kita berakhir bukan karena cinta, tapi karena dunia.”

 

Arka mengatakan kalimat itu dengan penuh kepedihan, ada kenyataan yang harus ia hadapi. Ada pilu yang selama ini menjadi ranjau di hatinya, bertahan dengan kokoh selama 3 tahun, bila ia salah berpijak maka hidupnya akan hancur.

 

Hening. Bahkan hiruk-pikuk stasiun tidak dapat menghilangkan suasana hening di hati dua insan yang berbeda itu.

“Sudah Sekar, kau bisa pergi dan bahagia. Aku akan menanggung penyesalan dan rasa sakit ini seorang diri. Kau tahu, bahwa cintaku hanya milikmu. Aku berpisah bukan dengan cintamu, tapi dengan duniamu.”

 

Arka melangkahkan kakinya, membawa langkahnya dengan erat menuju papan informasi yang tergantung di ujung stasiun. Sebuah karangan bunga krisan putih di genggam dengan penuh ketulusan. Matanya fokus pada satu nama yang pernah menghiasi hari-harinya. Namun sosok itu telah pergi, menggantinya dengan hiasan mimpi di setiap malam terlelap Arka.

‘Sekar Naora Putri’

Ada rasa pedih di hati Arka saat membaca nama itu. Ia tahu, bahwa dirinya adalah salah satu dari puluhan orang yang bersedih karena kehilangan orang yang mereka sayangi. Arka telah kehilangan cintanya, kekasihnya dan dunianya.

 

Kecelakaan yang terjadi di stasiun ini merenggut Sekar dan 39 raga lainnya, menyemayamkan jiwa yang seolah direnggut paksa, padahal ini adalah takdir.

Arka meletakkan karangan bunga krisan itu di tumpukan bunga-bunga lainnya, ia menutup matanya sejenak. Membayangkan wajah Sekar yang sedang tersenyum penuh cinta padanya, merasakan genggaman tangan lembut Sekar di tanggannya yang berhasil menenangkan hatinya.

 

Pada akhirnya Sekar adalah dunia Arka, dan ia telah kehilangan itu. Arka akan menerima takdirnya, Arka akan melepas Sekar sekarang. Membiarkan pemilik hati itu tenang di sisi-Nya, bersama cinta Arka. Mereka akan kembali bertemu suatu saat nanti, dan Arka akan selalu menunggu Sekar kembai ke setiap mimpinya.

Selesai.

Dirga Putri

 

Dirga Putri merupankan alumni dari Sastra Indonesia,

beliau juga pernah menjabat sebagai editor Tabloid Tanjak.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas