Apa Masih Ngaku Orang Pekanbaru, Jika tidak mengenal Ini?
0 Komentar 89 pembaca

Apa Masih Ngaku Orang Pekanbaru, Jika tidak mengenal Ini?

Berita

TabloidTanjak.com. Kegitan kedua dalam Peresmian dan Pembukaan Acara Pekanbaru Membaca Jilid VI adalah Seminar Nasional dengan tema “Membaca Kota Pekanbaru dari Sejarah Bersama Pekanbaru Heritage”. Diadakan dilantai tiga ruang seminar rektorat dengan mematuhi Protol Kesehatan (Prokes). Jumat, (15/10/21)

Pemateri dalam Seminar Nasional dengan tema “ Membaca Kota Pekanbaru dari Sejarah Bersama Pekanbaru Heritage” yaitu Bayu Amde Winata, beliau merupan seorang foto grafer, seorang pendiri Pekanbaru Heritage dan penulis sejarah yang telah menerbitkan buku.

Beliau menjelaskan bahwa Pekanbaru merupakan kota yang masih muda 237 tahun, karena Pekanbaru diresmikan oleh Raja Siak yang ke lima pada tanggal 23 Juni  1784 .  Pekanbaru merupakan sebuah kawasan perdagangan, dulunya Pekanbaru merupakan pasar yang dibuka oleh Raja Sultan Muhammad Abdul Jalil Muazzam  Syah yang merupakan anak dari Sultan ke empat Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.

Seiringnya waktu, Pekanbaru terus berkembang. Perkembangan Pekanbaru bukan seperti sekarang. Pekanbaru dulu dia memangjang dari sisi barat ke sisi timur, artinya mengikuti alur sungai Siak. Sedangkan Pekanbaru sekarang dia mengambil sisi selatan.

“Tanpa kita sadari kakak dan nenek kita yang ditanggal ditepi sungai sekarang sudah termasuk golongan anak indie, kenapa demikian? Karena Pekanbaru termasuk salah satu kota Indonesia kita bisa melihat sisi Sunset dan Sunrise, posisi kota diselatan sunset sebelah barat kita bisa melihat dijembatan letton dan sunrise debelah timur  kita bisa melihat di jembatan siak empat. Karena posisi kota memangjang dari barat ke timur “ Ujar Bayu Amde Winata

Dahulunya dipekan baru lebih tepatnya di daerah Panam sekarang adalah kilang minyak besar, berada tiga kilo dari simpang Raja Wali. Sungai Siak juga merupakan sungai yang terpanjang di Indonesia, berdasarkan peta Belanda kedalaman sungai Siak mencapai 25 meter tahun 1873 dan telah masuk kapal-kapal uap dengan berat 700 ton.

Bandara di Pekanbaru merupakan bandara tertua yang ada di Sumatera, 27 september 1930 pesawat mendarat di sana dan disambut oleh Sultan Syarif Kasim II. Bandara itu menghubungkan Batavia, Palembang, Pekanbaru dan Medan.

Tempat-tempat bersejarah yang pertama adalah Rumah Singgah Tuan Kadi yang berada di , Rumah Tenun, Rumah Pribadi Tuan Kaji. Dahulunya Pekanbarau memiliki rel kereta api yang menghubungkan Sawalunto, Teluk Kuatan, Lipat Kain, Teratak Buluh dan Pekanbaru. Panjangnya kurang lebih 270 kilo, dibangun pada saat kedudukan Jepang. Tapi sayangnya hilang di kilokan pada tahun 70, yang tersisa bisa dilihat di jalan Hang Tuah dekat samping telkom.

YS

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas