Takdir!
0 Komentar 997 pembaca
Gambar dari google

Takdir!

Cerpen

Kau percaya bahwa takdir tak pernah memihak? Atau kau lebih percaya bahwa takdir selalu memihak? Atau bahkan takdir tak pernah ada di pihakmu sama sekali? Ingin tahu jawabanku? Mengapa harus takdir yang memihak? Aku akan memihak pada takdirku saat ini. Di balik selang infus yang selalu bertengger di punggung tangan kiriku ini, ada hidup yang sedang aku perjuangkan, ada takdir yang sedang aku coba lawan. Di balik ruang putih ini, ada harap yang sedang aku nantikan, untuk segera keluar dari ruangan yang menyesakkan.

Aku tak pernah tahu bahwa takdir akan mempertemukan aku dengan kondisi seperti ini, kondisi yang membuatku tak bisa menikmati hangatnya mentari pagi, lembutnya cahaya bulan yang menerpa wajahku di malam yang dingin. Aku hanya bisa menyaksikan pagi, siang, sore dan pergantian malam dari balik jendela kaca rumah sakit. Ini minggu kedua aku berada di rumah sakit, setelah dinyatakan positif Covid-19.

Minggu lalu, aku dan keluargaku mengeluh demam dan aku yang merasa sesak napas memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Benar saja, ternyata semua pemikiran negatifku menjadi kenyataan. Saat hasil pemeriksaan menyatakan aku positif virus yang telah mengguncang dunia satu tahun ini, membuatku kehilangan hidupku. Seolah sang virus telah merenggutnya, walaupun aku masih bernapas. Mungkin Tuhan tengah menguji takdirku, mungkin ini adalah sesuatu yang memang seharusnya terjadi pada kehidupanku, karena ini adalah takdir.

“Menulis lagi Ra?”

Kak Mila, perawat yang selalu masuk ke dalam ruanganku setiap jadwal pengobatanku. Perawat yang selalu menanyakan hal yang sama setiap kali ia melihatku di depan laptop. Tentu untuk menuangkan semua isi hatiku, karena aku tidak pernah bisa menebak takdir. Bisa saja besok aku tidak lagi melihat indahnya sinar matahari yang sedang menertawakan dunia, ia akan memancarkan cahaya jingganya.

“Kak Mila percaya bahwa takdir selalu memihak kak?”

Aku menampilkan senyuman termanisku, berharap suatu jawaban yang akan membuat hatiku merasa tenang. Senyumanku tentu saja dibalas dengan senyuman yang tak kalah manis dan terkesan tulus dari bibir tipis Kak Mila.

“Kenapa? Apa Rara merasa bahwa takdir sedang tidak ada di pihakmu?”

“Hm, aku rasa itu tak penting Kak. Takdir akan berubah jika kita mengubahnya sendiri, kan? Jadi aku hanya perlu mengubahnya dengan kemampuanku. Bahwa aku masih berharap dapat bertemu bulan kembali.”

Mataku menatap sendu ke arah jendela. Benar saja, sepertinya matahari tengah berpesta di luar sana. Cahayanya sangat terik.

Kak Mila duduk di samping ranjangku, ia mencoba untuk sedikit mengintip tulisanku yang telah memenuhi kertas putih di laptopku.

“Benar Ra, mereka yang sedang berjuang sepertimu tengah mencoba untuk mengubah takdir mereka. Berusaha untuk sembuh tanpa menyelipkan kesedihan. Kau hanya harus terus percaya bahwa takdirmu adalah kesembuhan.”

Kata-kata penenang kak Mila ternyata memang sangat ampuh padaku, aku benar-benar merasa bahwa takdirku adalah sembuh.

“Jangan lupa selalu berdoa, ya Ra. Jangan jadikan cobaan ini sebagai alasan untuk menyerah, karena kau tidak pernah sendiri Ra. Akan selalu ada orang yang menantimu di luar, untuk menikmati teriknya panas matahari.”

Kak Mila mulai melangkah untuk keluar ruanganku.

“Kak, tolong ingat namaku ya kak. Rara Agustin. Nama yang kau ingat karena aku yang berada di luar rumah sakit untuk bercanda ria, atau untukku yang tengah singgah di mimpi seseorang.”

Aku kembali menampakkan senyumanku, dibalas dengan anggukan lambat dari Kak Mila. Setelah seminggu lebih aku berada di sini, ini pertama kalinya aku melihat mata berkaca Kak Mila. Ia sendu, tentu. Menyaksikan banyak pilu dan ribuan air mata setiap harinya, tentu saja telah menjadi benalu di dalam hatinya, menggerogoti, menyisakan luka yang menganga.

Terima kasih takdir, sudah menjadi sesuatu yang aku perjuangkan. Terima kasih diri, sudah berjuang dengan baik. Terima kasih untuk mereka yang juga telah berjuang untuk mempertahankan takdir mereka sendiri, maupun untuk takdir orang lain. Mari bertemu di tempat paling indah suatu hari nanti.

(Selesai)

Pekanbariu, Minggu 18 Juli 2021.

22.47.

Dirga Putri, merupakan alumni Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning, dan merupakan mantan Redaktur Tabloid Tanjak.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas