Senja Pengemis Renta
0 Komentar 340 pembaca
Gambar Ilustrasi (net)

Senja Pengemis Renta

Cerpen

Senja telah menyapa. Suasana kota yang begitu besar masih tetap saja riuh. Aku yang sedang duduk di taman penuh bunga bewarna-warni menikmati pemandangan. Tampak pengemis renta menadahkan tangan seperti meminta sekeping atau selembar uang untuk keberlangsungan hidupnya. Tepat di depanku beliau berdiri dengan pakaian lusuh dan rombeng sambil memegang sebuah gelas plastik bening  bungkus air mineral. Aku mulai meronggoh kocek saku, dan mengeluarkan uang yang aku rasa itu cukup untuk membeli makan malamnya hari ini. Tak sengaja aku menatap wajah pengemis renta itu tersenyum tapi tampak kaku.

“Ini, Buk. Semoga bermanfaat untuk ibuk dan keluaga ibuk.”, kataku dengan nada pelan.

Tetapi, pengemis renta itu masih tetap tersenyum sambil membungkukan badannya seperti mengucapkan terimakasih tetapi dalam bahasa tubuh dan ia mulai pergi menjauhiku. Terus aku memandangi pengemis renta itu dengan seksama.

Aku mulai melihat jam yang ada di tangan kananku. Waktu telah menunjukan pukul 19.00 WIB. Lalu aku bergegas pergi meninggalkan bangku taman, karena aku mesti menonton sebuah pertunjukan seni di sebuah gedung megah.

Selesai aku menyaksikan pementasan seni, aku melihat suasana di luar gedung yang mulai tampak sepi. Aku menuju ke pinggiran jalan raya, aku melambai tangan pada sebuah mobil taksi dan menaiki taksi itu. Di dalam mobil taksi aku melihat-lihat keadaan kota ketika malam tiba. Tak sengaja pandanganku melihat pengemis renta yang sebelumnya aku lihat tadi duduk dengan lesu di tepi halte bus yang begitu kumuh. Lalu aku menyuruh supir untuk menghentikan mobilnya dan aku turun dari mobil. Bergegas aku pergi ke pengemis renta tadi dan aku melihat ia tampak menangis tersedu-sedu.

“Ibuk, kenapa menangis?”, tanyaku dengan rasa iba.

“Anak ibuk nak...tidak ada disini. Padahal dia belum makan nak.”, jawab ibuk renta yang masih menangis dan merangkul makanan untuk anaknya.

“Loh, anak ibuk memangnya kemana? Kenapa tidak bersama ibuk tadi?”, kembali aku bertanya.

Tetapi ibuk pengemis renta ini tidak menjawab. Ia menatapku begitu dalam. Tangannya yang reot itu memegang wajahku, lalu ia berdiri dan pergi meninggalkanku.

“Ibuk, mau kemana?”, kembali aku bertanya yang masih terasa gantung.

 Aku kembali masuk dalam taksi dan pergi melanjutkan perjalananku yang sempat terhenti tadi.

Keesokan harinya aku juga kembali mengunjungi taman kota. Memang aku suka mengunjungi taman kota setiap kali aku selesai menjalani aktifitas. Di taman kota inilah aku selalu melepas beban dan pikiran. Tampak seperti biasa, kota masih tetap terlihat riuh dan matahari telah bersembunyi di ufuk barat. Sesekali aku menikmati pemandangan sebuah taman yang dekat dengan laut. Angin sesekali menyapa kulitku dan bermain indah dengan daun-daun yang bergesekan. Ibuk pengemis renta itu kembali datang dan lewat depanku, tetapi kali ini ia tidak menadahkan tangan. Hanya lewat begitu saja. Aku mencoba memanggil ibuk pengemis renta itu.

“Ibuk...”, kataku sambil menghampirinya.

“Ya nak...ada apa?”, jawabnya dengan nada rendah.

“Lupa ya sama saya yang semalam?”, tanyaku lagi.

“Siapa ya? Ibuk lupa nak.”, kata ibuk renta.

“Loh, saya yang menghampiri ibuk semalam di halte?”

Ibuk pengemis renta itu hanya terdiam dan tak lama ia menangis tersedu. Aku merasa heran dan sedikit merasa bersalah, apa ibuk ini ada masalah atau bagaimana.

“Loh, kenapa menangis, Buk? Ada masalah apa, Buk?”, tanyaku dengan penuh tanda tanya.

Ibuk itu masih tetap menangis. Lalu ia berdiri dengan kaki yang bergemetar dan ia meninggalkanku sama seperti yang ia buat kemarin. Kini aku diserang beribu penasaran, kenapa ibuk pengemis renta ini selalu menangis jika melihatku. Aku pun pergi melanjutkan aktivitasku.

Aktivitasku telah selesai. Aku kembali ke taman kota untuk menikmati suasana malam. Tetapi, dari kejauhan orang-orang berlari menuju persimpangan dan tampak juga sebuah mobil ambulan. Akupun bergegas menuju ke tempat keramaian itu.

“Maaf, kak ada kejadian apa, ya?”, tanyaku penuh kebingungan.

“Ada orang ketabrak mobil. Yang menabrak lari saat warga beramai-ramai datang.”, jawab seorang perempuan sambil menutup mulut.

Aku penuh kebingungan siapa orangtua itu. Lalu aku masuk disela-sela kerumunan. Sungguh aku tak sanggup menahan derai air mata ini, dan aku pun terhenyak sambil memeluk erat si ibuk pengemis renta. Anak ibuk pengemis renta yang hilang beberapa hari, kini ditemukan terbujur kaku bermandikan darah sambil memeluk foto ibunya.

 

Eric F. Junior adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB Universitas Lancang Kuning.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas