Idealisme Yang Dilupakan Mahasiswa Sastra
0 Komentar 297 pembaca
Gambar ilustrasi dari Google

Idealisme Yang Dilupakan Mahasiswa Sastra

Buah Pikir

Bukan tanggung-tanggung, mahasiswa yang dijuluki Mahasiswa Sastra dengan idealisme dan pengetahuan analisis yang tidak diragukan, ini menjadi beban dalam hal moral. Bagaimana tidak, pada hari ini semakin menipisnya minat orang-orang terhadap sastra, bahkan mahasiswa sastra itu sendiri melemahkan semangatnya dalam bidang yang ditekuni.

Merujuk sejarah, mahasiswa Fakultas sastra yang dikenal dengan idealisme yang banyak dikagumi karena keberanian berbicara lantang dan dengan bahasa yang sastra, anak sastra menjadi pelopor dalam suatu pergerakan. Seperti salah satu aktivis mahasiswa yang dulu dikenal sebagai semangat demokrasi, ia dikenal sebagai Soe Hoek Gie, ia adalah seorang aktivis keturunan Tionghoa-Indonesia yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia selama kurun waktu sebagai mahasiswa menjadi pembangkang aktif, memprotes Presiden Sukarno dan PKI. Soe adalah seorang penulis yang produktif, dengan berbagai artikel yang dipublikasikan di koran-koran seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia. merujuk dari karyanya, Soe menjadi mahasiswa yang mampu membakar mahasiswa di Fakultas Sastra Universitas Indonesia untuk bergerak dan tidak tuli dengan penyimpanan rezim.

Salah satu puisi dan kata-kata Soe Hoek Gie yang terkenal ialah: Kepada Pejuang-pejuang Lama, (Puisi Soe Hok Gie)

Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatnya.
Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya.
Dan datanglah kau manusia-manusia
Yang dahulu menolak, karena takut ataupun ragu.
Dan kita, para pejuang lama
Yang telah membawa kapal ini keluar dari badai
Yang berani menempuh gelombang (padahal pelaut-pelaut lain takut)
(kau tentu masih ingat suara-suara dibelakang…”mereka gila”)
Hai, kawan-kawan pejuang lama
Angkat beban-beban tua, sandal-sandal kita, sepeda-sepeda kita
Buku-buku kita ataupun sisa-sisa makanan kita
Dan tinggalkan kenangan-kenangan dan kejujuran kita
Mungkin kita ragu sebentar (ya, kita yang dahulu membina
Kapal tua ini
Di tengah gelombang, ya kita betah dan cinta padanya)
Tempat kita, petualang-petualang masa depan akan
Pemberontak-pemberontak rakyat
Di sana…
Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuh
Gelombang baru.
Ayo, mari kita tinggalkan kapal ini
Biarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnya
Biarlah mereka yang ingin mobil mendapatnya
Biarlah mereka yang ingin rumah mengambilnya.
Ayo,
Laut masih luas, dan bagi pemberontak-pemberontak
Tak ada tempat di kapal ini
Tentang kemerdekaan
Kita semua adalah orang yang berjalan dalam barisan
Yang tak pernah berakhir,
Kebetulan kau baris di muka dan aku di tengah
Dan adik-adikku di belakang
Tapi satu tugas kita semua,
Menanamkan benih-benih kejantanan yang telah kau rintis….
Kita semua adalah alat dari arus sejarah yang besar
Kita adalah alat dari derap kemajuan samua;
Dan dalam berjuang kemerdekaan begitu mesra berdegup
Seperti juga perjalanan di sisi penjara
Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosan
Kemerdekaan adalah keberanian untuk berjuang
Dalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya kita
Adalah manusia merdeka
Dalam matinya kita smua adalah
Manusia terbebas.
Mandalawangi-Pangrango
Sendja ini, ketika matahari turun
Ke dalam djurang-djurang mu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, di dalam sepimu
Dan dalam dinginnya.
Walaupun setiap orang berbicara
Tentang manfaat dan guna
Aku bicara terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menjelimuti mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.
“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi jang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah.
Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu,
Melampaui batas-batas djurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Cukup mewakili semangat pemuda yang berdarah Indonesia ini, menjadi pemberani dalam membuat perubahan. Namun menjadi pertanyaan besar, apa kabar Mahasiswa Sastra sekarang? Saat ini kemalasan sudah membabibutakan mereka untuk bungkam terhadap kekeliruan. Karena kekuatan mahasiswa adalah dengan menguatkan dan mengkokohkan idealisme yang akademik dan sosial yang tinggi pula, kita sedang dalam kerisauan ketika ada mahasiswa sastra yang diam dalam hal dunia aktivis maupun dunia sastra itu sendiri, maka perlu dicurigai bahkan diwaspadai, karena mereka akan tetap bungkam terhadap kezaliman maka perlu dipertanyakan idealismenya.

Saat ini kekutaan itu sudah melemah, merespon tulisan saya minggu lalu dengan judul Melawan Krisis Kesusastraan yang saya ceritakan tentang bagaimana krisisnya mahasiswa sastra terhadap keilmuan mereka, dan di sini saya juga menyatakan dengan tegas bahwa mahasiswa sastra juga sedang dalam krisis untuk berkarya, merespon hal-hal dunia akademik, menjadi letoi dalam idealisme, dan melemahnya ideologi. Hal ini sangat menjadi penyakit. Seharus mereke berani membalik, mendobrak, dan menerjang kesalahan itu. Namun jika tulisan saya ini salah, mereka berani berpendapat dengan menulis di media manapun. Saya terima dengan berbagai kritikan, namun jika mereka setuju, seharusnya mereka tahu betul apa yang akan mereka lakukan untuk membuat perubahan.

 

Penulis: Awi Andjung

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas