Melawan Krisis Kesusastraan
0 Komentar 438 pembaca
Sumber ilustrasi dari Google

Melawan Krisis Kesusastraan

Buah Pikir

Sastra adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia dan masyarakat umumnya, melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek positif terhadap kehidupan manusia. Mursal Esten (Esten, 1978: 9). Begitu pentingkah Sastra bagi kehidupan manusia?

Sastra merupakan karya yang tidak hanya memberikan perasaan senang kepada pembaca, namun memberikan pendidikan juga melalui nilai-nilai ekstrinsik yang terkandung di dalamnya. Mendidik adalah sifat alamiah dari karya yang dibuat dengan penuh perhatian terhadap isi dan bentuk dasarnya. Sehingga dapat memberikan informasi, pengetahuan, wawasan atau kebijaksanaan (wisdom) baru yang dapat dihubungkan dengan kehidupan.

Keberadaan sastra juga menjadi azas nilai sosial yang turut berlaku di masyarakat, namun sayangnya di era yang serba canggih ini masih saja mengira bahwa sastra hanya sebagai simbol atau sebuah tugu kuno saja, yang hanya dinikmati atau hanya segelintir orang-orang yang kurang kerjaan yang mengetahuinya. Tak hanya itu saja, sastra bahkan hanya menjadi sebutan omong kosong bahkan bagi orang yang setengah-setengah mempelajari sastra baik itu individual maupun di dunia pendidikan. Tak salah jika saya katakan, sastra sedang krisis keberadaannya karena menganggap teori ini hanya sebagai lambang atau simbol.

Di era yang serba canggih ini, tentu seharusnya sastra menjadi modern dengan berbagai versi, karena pun sastra sangat mengikuti perkembangan zaman dengan teori yang masih berlaku dari dulu hingga sekarang. Berkisah di zaman sekarang, entahlah, saya sangat khawatir bahwa keberadaan sastra di dunia pendidikan hanya menjadi bacaan yang dilupakan. Karena memandang perkembangan sekarang, bahkan mahasiswa yang berstatus mahasiswa sastra atau bahasa kerennya "Anak Sastra" menjadi lemah karena kekurangan imunisasi. Imun di sini yang saya maksudkan adalah pengetahuan, referensi buku, diskusi dan bahan bacaan. Mereka menjadi lemah karena kurangnya imun untuk diserap dalam dunia pendidikan, memandang dari sumber masalah mereka jauh lebih menikmati dunia hiburan media sosial dari pada menikmati keberadaan sastra bahkan di dunia hiburan itu sendiri.

Saya kira, di masa pandemi sekarang ini kekuatan sastra seharusnya tidak melemah terkhusus untuk anak Sastra. Pandemi mengajak bahwa sastra harus berkembang dan mengikuti fungsional perkembangan zaman, menjadi nakhoda dalam setiap hal untuk menghidupkan kesusastraan yang tidak krisis terhadap pengetahuan. Namun entah, bahkan diskusi terkait buku, puisi, novel, karya ilmiah, fiksi saja entah ada entah tidak. Karena dari mata kita bisa melihat, bahwa perkembangan pengetahuan sastra menjadi memperihatinkan keberadaannya di kalangan mahasiswa sastra, hal ini saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, kurangnya diskusi terkait sastra membuat mereka melupakan bahwa jadi diri kehidupan mereka di akademik terkhusus menyandang keberadaan sastra seharusnya sastra mendarah daging dengan pengetahuan mereka. Namun lagi lagi entahlah, mungkin hanya Fatamorgana saya saja, yang melihat mereka lebih menikmati dunia game dari pada menikmati berimajinasi dengan membaca buku, diskusi, bahkan menyelami dunia kesusastraan.

Semakin mengerucutnya pengetahuan mereka, maka ada dua pilihan, semakin tajamkah atau semakin sempit. Itu tergantung masing-masing mereka, memang dunia pendidikan belum tentu memastikan mereka hidup dalam satu bidang, namun dari pendidikan setidaknya mereka menjiwai, merasuki, bahkan sudah bergelut dalam dunia kesusastraan. Maka tak salah saya mengatakan Mahasiswa Sastra sedang krisis bahkan termasuk spesies langka untuk menghidupkan sastra dalam dunia pendidikan, berbagai sumber saya rasakan, kurangnya diskusi, kurangnya memandang dunia, kurangnya membaca menjadi mereka tumpul dengan pengetahuan, sekiranya mereka dapat menyadari kesesatan dalam berenang di dunia sastra dan dunia kata-kata.

Dalam hal ini juga, kita diajak untuk selalu melatari diri dengan pengetahuan sesuai apa yang sudah menjadi sandangan, menjadi mahasiswa sastra tentu harus menguasai, bahkan belajar mengetahui, bukan malah menghilangkan keberadaan dan senyap bahkan gagap terhadap dunia. Sastra mengajarkan sebagaimana pentingnya kehidupan dan keindahan untuk menikmati seluruh jagat raya ciptaan Tuhan ini dengan sempurna. Mari lawan kemalasan membaca buku, kemalasan diskusi, kemalasan menerima hal baru, karena kita sedang krisis dan kritis untuk mematahkan mitos bahwa kita bukan sekedar lambang dalam dunia pendidikan.

Penulis: Awi Andjung

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas