KEMBALI...
0 Komentar 208 pembaca
Gambar hanya ilustrasi

KEMBALI...

Cerpen

Cahaya redup membuat hati juga ikut redup, mataku yang tak pernah bisa berpaling dari wajahmu, bahkan dari balik bingkai foto dirimu masih menawan, Jang. Mata bulat berpadu dengan hitamnya kornea, hidung yang tak terlalu mancung namun sedikit lebih tinggi dari hidungku, mulut yang tersenyum menjadi penyempurna dirimu. Oh, sungguh aku tengah merindu, Jang, tentu padamu.

Apakah kau ingat kejadian yang lalu? Tentang kita yang masih dimabuk cinta, tentang kita yang sering lupa bahwa di sebelah kananmu selalu duduk sosok pria bermata sipit, yang sudah menemani hidupmu selama hampir separuh usiamu.

"Aku?"

Tiba-tiba, pria bermata sipit itu membuyarkan lamunan indahku tentang dirimu. Aku menatap Dino yang berjalan menghampiriku, sambil membenarkan posisi kaca matanya dan duduk tepat di samping kananmu.

"Kenapa? Aku tidak sedang memikirkanmu."

Tatapanku kembali padamu, Jang.

"Maksudku, sudah saatnya aku menjadi orang yang kau tatap."

"Tidakkah kau lihat, bahwa ia tampak sangat bahagia?"

Bagaimana tidak, saat itu kau mungkin jadi orang yang paling bahagia sedunia, Jang. Di dampingi oleh orang-orang yang amat sangat kau cintai. Aku, Dino, dan dirimu sendiri. Kita selalu bersama waktu itu, apakah kau ingat, Jang?

***

Aku sibuk memamerkan kemampuanku dalam merias wajah, dengan berbagai peralatan kecantikan, aku lupa bahwa saat itu juga ada dirimu. Sejak awal aku memulai, kau sudah ada di sana hingga tiba penghujung aksi meriasku, polesan terakhir tentu benda merah yang juga akan membuat bibirku ikut memerah. Sesekali kualihkan mataku dari kaca, untuk sekedar memeriksa ekspresi wajahmu tentang kelakuanku saat ini.

"Mungkin sekarang kepalamu sedang dipenuhi tanda tanya. Kira-kira kata-kata apa yang akan kau gunakan untuk membuat pipiku merona karena gombalanmu?"

Aku tersenyum dengan benda merah yang sudah menempel di bibirku, kau masih tampak serius.

"Sudahlah Nirmala, tak usah kau hiasi lagi wajah cantikmu dengan semua benda berkilau itu. Karena seperti yang sudah kau ketahui, wanita itu cantik seutuhnya. Aku pikir kau akan jauh lebih cantik bila menempatkan aku di hati dan pikiranmu. Apakah gombalan ini sudah membuat pipimu merona?"

Waktu itu aku termakan omongan konyolmu, Jang. Yah, kau tahulah sekuatnya hati wanita ia tetap takluk dengan kata-kata yang diucapkan oleh orang yang disuka. Aku rasa, banyak yang begitu.

***

Tanpa sadar aku tersenyum malu saat menceritakan pada Dino tentang hari di mana aku mulai merasa resah dengan segala hal yang berkaitan denganmu. Padahal saat itu kita masih membuat diri dengan garis persahabatan, bahkan aku tak pernah tertarik untuk melewatinya.

"Bukankah dia adalah orang yang paling egois yang pernah kau kenal? Ia yang memulai dan ia pula yang mengakhiri. Kata yang mengikat hatimu dan kata itu juga mampu membuat Lakuna di dalam pikiranmu."

Aku terbangun dari mimpi indah yang kau ciptakan, Jang. Hanya dengan mendengar perkataan Dino ini, seketika dunia penuh cinta, ikatan kasih sayang dan sebuah kepercayaan yang sudah susah payah kita bentuk, runtuh begitu saja. Kini hanya sebuah jarum yang tersisa, dengan semua literan air hujan yang tak pernah reda, Jang. Aku seperti terjebak di tengah-tengah hutan gelap yang sudah kehilangan cahayanya. Tak tahu harus kemana.

"Pandu Surya, ingat saja namanya. Nama itu yang pernah menjadi kain lap, oh atau tisu yang selalu ada untuk membinasakan air matamu, namun kau juga tak boleh lupa bahwa nama itu yang telah menancapkan belati berkarat di hatimu. Ia akan jadi orang yang akan kau cintai dan kau benci diwaktu yang bersamaan."

Dino melanjutkan perkataannya dengan mata yang kehilangan cahayanya, karena tertutup genangan air mata. Sepertinya Dino yang merasa lebih tersakiti dan merasa dikhianati melebihi diriku. Kau tahu Jang, kau adalah satu-satunya sahabat yang ia miliki.

"Mengapa kau terluka, No? Perpisahan kami bukanlah tentang cinta, tapi tentang kebahagiaan. Juga bukan karena kami tak lagi saling percaya ataupun cinta yang tak lagi tersisa di hati, kau tahu sendiri bahwa segala perkara adalah kenyataan. Kenyataan telah merenggutnya dariku, aku tak berdaya melawan kenyataan, No."

Begitu caraku menenangkan sahabatmu ini, Jang. Sejak tiga tahun yang lalu, Dino mulai sensitif setiap kali aku bercerita tentang dirimu. Mungkin ia masih tak bisa terima kepergianmu, Jang. Karena disaat kau tak berdaya, disaat paling mendebarkan bagimu dan disaat kau sudah kehilangan hidupmu, ia tak mampu berdiri di sampingmu, ia tak bisa menggenggam tanganmu dan menjadi teman terakhir yang menatapmu dihembusan nafas terakhirmu, ia tak bisa menjadi dirimu yang selalu ada untuknya bahkan disaat ia tengah dilanda sakit perut. Ditambah kekecewaan yang telah menjadi rasa bersalah, saat kami tak tahu tentang sakit yang telah menggerogoti dan memakanmu, Jang. Sungguh kami telah tersedak rasa sedih yang amat sangat dalam hingga ke dasar paling dalam.

Tiga tahun lalu, saat kau dan aku memutuskan untuk berpisah dengan alasan bahwa kau ingin bahagia. Kau telah menghabiskan sisa hidupmu di kota Istimewa Yogyakarta, karena di sana Ayah dan Ibumu saling memadu kasih bahkan hingga keduanya bertemu di ujung jalan mereka.

"Kita kehilangan dirinya, tapi tidak dengan kenangannya."

Aku dan Dino menatap senyumanmu yang tak pernah luntur bahkan disaat kau menanggung sakit. Terima kasih Jang, untuk segala cinta yang kau berikan. Terima kasih Jang untuk segala kebaikan dan kata-kata konyolmu selama bersamaku, dan terima kasih Jang sudah menemani Dino selama hampir separuh usiamu. Terima kasih juga untuk suratmu yang kau kirim dari Jogja, di akhir waktumu.

...

Pekanbaru, 15 Februari 2021.

GhaP adalah editor Tabloid Tanjak yang memiliki nama asli Dirga Putri. "Kembali..." merupakan cerpen ketiga dari Tetralogi "Surat Untuk Nirmala" (Surat Untuk Nirmala, Untuk Yang Terkasih Bujang, dan Kembali...). Tertinggal satu seri lagi yang masih dirahasiakan.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas