Broken me
0 Komentar 384 pembaca
Gambar dari Google

Broken me

Cerpen

   “menyenangkan kalau utuh”, tulisku pada sebuah buku diary yang senantiasa menemani setiap dukaku. Diary yang selalu menjadi cawan air mataku saat semua luka membekas air mata. Setiap orang punya kisahnya sendiri. Kisah keluarga yang awalnya indah dan berakhir duka adalah cerita hidupku. Aku seorang anak yang menjadi korban orang tua. Apa salahku dilahirkan ke dunia? Apa aku layak menjadi pelampiasan kalian yang tak harmonis di dalam keluarga? Bukankah katanya kita keluarga?

      “Pergi, dan jangan pernah kembali biadap”

Dengarku dari sudut meja makan di rumahku. Dari kejauhan semua barang di rumah berantakan dan pecah seperti kapal karam kata orang. Kudengar tangis dari balik pintu kamar ibuku yang terkunci rapat. Ya benar, kala itu adalah pertengkaran ayah dan ibu yang saling menghujat dan memaki. Aku menjadi pendengar yang baik tanpa bersuara. Hanya diary ini yang ku selamatkan dari amukkan ibu.

“tok-tok-tok, ibu”, ujarku memanggil ibu.

 “diam dan jadilah anak baik” ujar ibuku sambil membentak dari kamarnya.

     Tanpa ada suara lagi, aku melangkah terinjit-injit menelisik kaca di lantai rumah hingga sampai di pintu kamarku yang terpisah dari pasaknya. Tangisku mulai keluar hingga tidur menjadi jalan keluarnya.

    “Ibu?? Ibu??? Ibu???” panggilku mencari ibu tanpa ada sautan. Aku tiada tahu kemana pergi ibu pada saat fajar belum muncul ini. “Ibu??” aku masih memanggil sambil memegang erat diatur dengan iringan air mata bercampur cemas. Tiada yang menyahut dari panggilan ibu. Hanya suara ayam berkokok yang selalu berbunyi bak musik cempreng.

     Kutanyai keberadaan ibuku pada semua tetangga sebelah rumahku. Namun tiada yang tahu kemana ibu pergi. Hingga tangisku tiada mengeluarkan air mata lagi. “Ibuku pergi” tulisku pada teman setiaku, diary. Padahal aku masih berumur 9 tahun, apa aku harus menjalani hidupku tanpa orang tua yang mendidik hanya karena keegoisan mereka??

    Hari demi hari, kubersihkan rumah yang penuh dengan kayu dan barang plastik di lantai, pecah dan berserakan. Sampai semuanya terlihat rapi lagi. Kucoba bertahan hidup dengan menjual koran di jalanan, sama seperti kawanku yang lain. Kadang ada juga yang memberi makan dengan melempar roti bekas gigitan dari sebuah mobil bagus di lampu merah, dan aku sangat senang bisa mencicipi roti yang dulu pernah ku makan juga saat aku, ibu dan ayah masih bersama.

     Kiniku putuskan untuk tinggal di jalanan karena rumahku dulu hanya sebuah kontrakan sehingga aku tidak mampu membayarnya dari uang koran ini. Angin Segar selalu menemani tidurku dari sebuah kotak dan triplek bekas ini. Bunyi jangkrik dan aroma limbah selalu menjadi keseharian tidurku.

   “Ibu ayah bagaimana kabar kalian?” tulisku dalam diary ini dengan harapan mereka menjemputku ditempat  ini.

Aku hancur tiada terdidik lingkungan, hanya sebagai pelengkap manusia yang tiada diinginkan. Bahkan sampai saat ini. Dewasaku menjadi beban semua orang. Hingga sebuah kejadian yang merenggut kaki dan tanganku

   Ya, aku mengalami tabrak lari yang merenggut kaki dan tanganku yang berharga. Dan ini menjadi alasanku untuk tidak bertahan hidup. Dan mungkin ini juga alasannya aku meninggalkan duka dunia ini. Bahkan untuk menulis diary ini, ku gunakan mulutku hingga bisa membuat coretan diary ini.  Terima kasih Tuhan atas semua nikmat ini. (HA)

 

Editor: GhaP

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas