BUKU HARIAN
0 Komentar 142 pembaca
Dirga Putri, mahasiswi Universitas Lancang Kuning Fakultas Ilmu Budaya, jurusan Sastra Indonesia

BUKU HARIAN

Cerpen

“Aku rindu, tapi tak tahu pada siapa aku dapat melampiaskan rindu ini.”


Hembusan angin terdengar sangat jelas di balik dinding kamarku, terasa samar-samar lembutnya sentuhan angin yang melewati sela-sela ventilasi dan menyentuh sekujur tubuhku. Di sinilah aku, duduk termangu memandangi kertas putih kosong yang ada di layar komputerku. Kertas itu kosong, begitu juga pikiranku. Sudahlah, tak perlu kau pertanyakan kemana perginya pikiran aku ini, karena sudah pasti ia sedang mencari sesuatu untuk mengisi semua kekosongan ini. Berharap terisi penuh seperti kamarku yang penuh dengan barang-barang hingga aku tak bisa leluasa, bahkan untuk bernafas.


Tapi aku telah mencarinya kemana-mana, berkelana tanpa arah tujuan namun tak kunjung kujumpai apa yang aku cari itu. Kau tahu, rasanya seperti telah kehilangan sesuatu yang tak pernah aku miliki sebelumnya. Ternyata beginilah rasa kesepian itu. Sebelumnya semua isi otakku hanya ada imajinasi-imajinasi liar yang selalu aku tuangkan ke dalam kertas kosong ini.


Kadang aku bercerita tentang indahnya jatuh cinta, romantisnya mereka yang tengah di mabuk cinta, walaupun sebenarnya aku tak begitu paham atau lebih tepatnya tak tahu apa itu cinta. Kadang aku bercerita betapa mengerikannya hantu-hantu yang tengah mengusik tidurmu dan mengacaukan mimpi indahmu, walaupun aku belum pernah merasakan peristiwa mengerikan itu, setidaknya hingga hari ini. Kadang aku juga bercerita tentang betapa kejamnya para pembunuh yang memamerkan gelak tawanya setelah mereka menancapkan beberapa belatih di tubuh para korbannya, walaupun aku hanya pernah menontonnya di film-film kriminal.
Aku jadi teringat tentang apa yang pernah diucapkan oleh Jostein Gaarder dalam salah satu tulisannya…


“Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan pembohong yang paling antusias. Mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli cerita hasil kebohongan mereka.”


Kalian bisa jumpai kalimat itu pada novelnya yang berjudul ‘The Magic Library’. Maksudku, apakah berarti aku adalah pembohong itu? Yang mencoba “menjual” hasil kebohongan pada para sahabatku, bukan berarti mendapatkan tambahan uang jajan, tapi ini tentang kepercayaan. Bukankah mereka (para pembaca) akan merasa seolah-olah sang penulis yang menjadi tokoh utama dalam cerita yang mereka buat? Tapi, kebohongan itu bukanlah masalah besar, karena semua tulisanku hanya untuk kesenangan mereka dan kepuasanku sendiri. Kalian tahu, aku cukup puas dengan hasil perpaduan imajinasiku dengan banyaknya campuran fiktif dan tentu saja dengan tambahan kreatifitas.


Dulu aku bisa menciptakan sedikitnya 5 sampai 6 cerita pendek dalam satu minggu, betapa lezatnya cerita itu untuk disantap sebelum kau tidur. Tapi hanya berlaku untuk kata ‘dulu’, nah di sinilah aku sekarang duduk bersama kekosongan ini. Tak lagi ada adonan liar itu, tak lagi ada rasa haus akan hasil imajinasi. Jika terus seperti ini, aku mungkin akan benar-benar merasa sangat kesepian. Ini sudah sangat lama terjadi, rasa jenuh saat menulis sudah menggerogoti diriku. Aku merasa sangat jauh dari tulisan-tulisanku dulu, semua pikiranku hanya tentang bagaimana orang lain bisa menikmati hasil karyaku.


“Bagaimana jika seandainya cerita-ceritaku ini hanyalah sekedar tulisan yang tak sengaja ditemukan oleh para penjelajah internet? Bagaimana seandainya tulisan-tulisanku ini hanyalah sebatas kisah anak remaja yang bahkan tidak menarik untuk dibaca oleh para remaja itu?”


Itu kataku pada hati dan pikiran yang tak pernah sejalan ini, aku sedang kecewa kawan. Kecewa pada kemampuan yang selama ini aku percayai adalah milikku, namun pada kenyataannya ini hanya sekedar omong kosong diriku sendiri, semua kebohongan ini hanya untuk memenuhi rasa banggaku saja. Aku telah kehilangan imajinasi itu, aku telah kehilangan rasa banggaku dan aku merindukan hari dimana jari-jariku menari mengikuti irama yang dihasilkan oleh keyboard komputerku. Membiarkan imajinasi itu tumpah menghitami putihnya kertas di layar komputer itu.


Dosenku pernah bilang, mungkin kata-kata ini adalah kata-kata andalannya untuk tetap memberikan motivasi kepada para anak didiknya agar tetap berkarya, khususnya di bidang penulisan.
“Teruslah menulis, perbanyak membaca karya-karya orang lain.”


Kurang lebih begitulah bunyi kalimatnya, dan kalimat ini juga sering aku ucapkan pada junior-juniorku saat mereka meminta saran agar tetap semangat dalam menulis. Lagi-lagi ini hanya aku yang sedang menyebarkan omong kosong belaka, karena setiap kali aku membaca karya-karya orang lain, seperti novel Andrea Hirata, atau Tereliye, atau karya-karya Hang Kafrawi, aku selalu kehilangan rasa percaya diriku terhadap menulis. Rasanya aku tak ingin menulis cerita-cerita pendek itu lagi. Aku tak tahu mengapa hal itu terjadi padaku, aku merasa sangat sedih. Sesedih Sastra Indonesia saat kehilangan sosok Sapardi Djoko Damono, dan air mata hanya tertahan di dalam, ia enggan keluar karena tertahan dengan yang namanya HARGA DIRI.


Apakah ini berarti akhir dari kisahku? Apakah ini berarti aku harus mengakhiri kebahagiaan itu dan menuju tempat kesepian? Mungkin akan sedikit ditemani oleh penyesalan. Aku harap, ini bukanlah tulisan terakhirku. Aku tak pernah tahu dengan masa depan, mungkin sajakan suatu saat nanti sebuah pelangi kembali menghias ruang imajinasiku.
Yah inilah aku, Dirga Putri.
“Yang merindu, namun tak tahu pada siapa aku dapat melampiaskan rindu ini.”

~Aku harap, aku tak pernah menyerah~
Pekanbaru, 15 September 2020

 

Oleh: Dirga Putri

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas