Seutas Kata Pembuka Mimpi
0 Komentar 390 pembaca
Foto by: Dirga Putri

Seutas Kata Pembuka Mimpi

Puisi

KAPAL TANPA NAHKODA
Oleh: Leni Marlena

Badai telah berlalu,
bersama perahu kecil, yang diseret ombak mengantarkanku kesebuah pulau yang tak berpenghuni.
Kutemui pelepah pohon kelapa yang berguguran dihempas angin.
Hati kecil bertanya mengapa semua daun enggan marah kepada angin yang menggugurkan.
Lalu bagaimana dengan aku dan perahu kecil yang terdampar ini.
Kemana nahkodaku?
Terdampar di pulau lain, atau sudah berlayar di kapal baru.....


DUA MUKA
Oleh: Qolby Anisa

Kehidupan penuh berwarna
Jalan dilalui beragam
Penuh dengan berjuta kejutan
Getir kehidupan
Tak dapat dihindari

Jangan kau usik
Air yang tenang
Tak perlu habiskan tenaga
Jangan kau buat keruh
Itu tak akan mengubah
Jalan hidupmu
Cukup dia yang mengatur
Aku, kamu, dia, dan mereka
Kita cukup menjalani kehidupan


TETES AIR HUJAN
Oleh: Mia Aspiwati

Tetes air hujan
Rasa dikoyak kulit
Rasa digigit daging Rasa ditusuk tulang
Yang terlalu lama
Menyirami tubuh ini,
Sehingga hati beku
Jiwa pun mati

Bungkam
Bukan berpura-pura
Bukan tak ingin tahu
Bukan tak peduli
Bukan tak mengerti
Tetapi, dengan bungkam
Aku bisa
Berpikir apa yang akan terjadi nanti.
Tunggu saja


LUKA ANGIN LALU
Oleh: Asrul Irawan

Kucoba rangkai kata di daun kering,
Kutuliskan sajak-sajak hampa dengan tinta air mata.
Gemerlap cahaya senja sirna ditelan duka

Tersisa khayalan rindu yang ditikam masa lalu
Api yang ku buat sendiri,
Membunuh harga diri
Aku terlalu dalam memaknai cinta
Hingga aku terjerat dalam luka

Aku ingin lari namun pekikan malam menghantui.
Aku bukan senja yang mampu menyapa alam dengan mesra.
ingin rasanya memutar waktu
Namun terburu hamparan angin lalu.

Tamparan malam membuat ku bisu.
Hingga aku tahu, bahwa aku belum kuat untuk merelakan kepergianmu.


RINDU
Oleh: Hendi Saputra

Gemah heningan malam
Kudekap kesunyian yang kelam
Kutatap langit nan hitam
Kuhembus semua api kerinduan yang tiada berujung
Oh.... Rindu
Mengapa selalu menjelma dalam nadiku
Mengapa selalu menjelma dalam hembusan angin
Mengapa selalu menjelma dalam kicauan burung, lalu hilang dalam kesunyian
Oh.... Rindu
Dengarkah engkau jeritan-jeritan rindu yang terdampar di pulau sebrang
Hingga menggema dalam kegelapan
Oh.... Rindu
Lekas kembali di pelukanku


PENYESALAN
Oleh: Yulinda Fristika. S

Takdir harus kita terima sepenuhnya
Bagaikan hembusan angin yang tak bisa disentuh tapi bisa dirasakan
Seperti waktu, hari, bulan, dan tahun yang sudah berlalu
Deraian air mata yg ingin menyerah untuk menitik akan tetapi tak bisa terhenti

Kita semua tahu
Penyesalan itu datangnya belakangan
Tetapi kepada penciptalah kita lupa
Tidak diberi tahu
Tinggal memohon dalam berdoa

Hari terus berlalu
Malam mulai mencekam akan datangnya esok
Waktu terus berubah
Namun jiwa dan hati dalam diri selalu berdoa TUHAN beri aku petunjukMu

 

SELEMBAR BENANG
Oleh: Zulvanny Fatwa Firmananda

Meniti hari demi hari
Tak kunjung benang itu kurangkai jadi sepotong kain
Sementara kubah biru di langit
Terasa indah saat aku ingin menggapainya

Bayangkan kerinduan yang tidak kuhargai ini
Ketika rasa cintaku padamu hanya kusembunyikan di balik punggung
Tanpa kain selendang itu, aku malu untuk bertukar sapa

Suatu hari nanti
Aku akan menapaki jalan yang kau pijak
Dengan selendang biru di bahuku
Saat itu aku baru berani memanggil namamu


KUAT
Oleh: Sulastri

Aku bagai karang di laut yang gersang,
terhempas ombak yang datang
aku bagai layangan yang selalu mengikuti kemana arah angin

Begitulah bayangan hidup ku,
Harus tahan saat badai datang,
Harus kuat saat sepi malam menyerang

Tapi aku yakin,
skenario tuhan tak salah jalan
Akan ada yang memberi ketenangan hingga nyawa terlepas dari badan.


ELEGI NEGRIKU
Oleh: Serina Putri

Ratusan tahun lalu, banyak raga yang berdarah
Tunak bekerja siang dan malam
Meregam nyawa demi yang di cinta
Berkobar semangat membela Indonesia

Tersimpan asa di balik perjuangan
Di balik sorakkan "MERDEKA" banyak raga yang harus kehilangan nyawa
cinta dibungkus dengan pengabdian
Demi kehidupan anak cucu bangsa

Apa kabar pemuda?
Negrimu sedang tidak baik-baik saja
Apa kabar adat dan budaya?
Peradaban dan ideologi bangsa sedang porak-poranda
Apa kabar bahasa dan sejarah?
Apa kabar indonesia ?

Mari kita bangun Indonesia
Dengan sebuah aksi nyata
Bukan sekedar rangkaian kata saja
Karena indonesia dibangun dengan perjuangan, darah, dan cinta.


RASA GAIB
Oleh: Rahyuni Puspa Sari

Rasa yang tak kunjung henti
Setiap hari mendebar di jantung dan hati
Bak hantu yang bergentayangan di dalam
diri
Menyisahkan luka dan mengiris nadi

Wujudnya sudah tak nampak lagi
Tapi dia dengan mudah menyakiti
Dengan hadir di dalam mimpi
Dan selalu ada di ingatan lagi dan lagi


CINTA YANG SALAH
Oleh: Dameria Sitanggang

Awalnya kau memberiku mencicipi madu dari lebah
Dipertengahan engkau juga selalu memberiku manisnya madu
Hingga aku lupa pahitnya empedu
Dan disaat aku sudah terbiasa dengan kehidupan manis yang kau beri
Kini…kau berubah menjadi seorang yang enggan memberi madu, jangankan memberi madu
Manisnya senyuman pun sudah tak kudapat lagi
Mata sembab bercampur hati yang menggunda gulana
Hati berucap pada logika yang tak sejalan
Dalam hati perasaan selalu menguatkan bahwa kamu hanya berubah dalam sekejab waktu disaat rasa bosan datang
Namun logika berkata, dia datang hanya memberi manis yang sesaat
Disaat maduku sudah habis
Disaat itu pula kau pergi mencari madu yang baru
Aku mulai percaya, bahwa cinta yang salah itu tidak akan bisa menyatuh dengan cinta yang suci
Dipertengahan malam aku berdoa pada sang empunya bumi, tidak untuk mengutukmu, namun hati hanya meminta supaya diberi hati yang iklas, supaya tidak lagi mengingat kenangan kebohongan
Selama dua tahun
Mungkin hari-harimu saat ini masih dalam keadaan yang menyenangkan atau bisa jadi kamu adalah oranag paling bahagia hari ini
Karena terbebas dari omelan wanita kasar menurut lisanmu
Namun kamu harus tau kesenanganmu saat ini tidaklah abadi
Bisa jadi itu awal dari kesengsaraan hatimu kelak, karena telah membuang permata demi biji jagung yang baru kau tanam dalam hatimu saat ini.


ANTARA ROSARIO DAN ARAH KIBLAT
Oleh: Sonia Setiawati

Pahit, manis kehidupan kita lalui bersama.
Tak ada kata yang bisa membuat kita pisah
Namun ku tersadar
Kita memiliki pembatas yang sangat jelas
Ya, pembatas itu bisa kita lalui
Tapi apakah kita bisa melewati?
Aku dan kau memiliki kepercayaan yang berbeda?
Menghadap kepada Tuhan yang berbeda
Apakah kau mau mengalah karena aku?
Atau kah kau akan mempertahankan itu?
Namun sayang
Kau tetap mempertahankan itu.
Kekalahan yang dapat ku raih
Maaf ku tak bisa menentang kata hatiku
Pembatas ini sangat besar, jelas dan nyata
Antara Rosario dan Arah kiblat


HALUANKU, DARAT KU SANGKA LAUT
Oleh: Ayang Nurulfadilah

Kini aku seperti dedaunan kering yang jatuh di tanah
Hempasan daun saat jatuh tidak ku rasa
Meski hari ku jalani bersamamu tapi tak satu pun hujan ingin menyapaku
Tak dapat ku tangkap gerak hujan
Tak dapat ku baca wacana angin
Tak dapat ku rasa warna pelangi
Hariku mengubah haluannya
Jarum yang menusuk jari ku memancarkan percikan darah yang cukup banyak
Tapi jangankan pelangi, kini hujan bahkan angin pun tak menghiraukan ku
Kegaduhahan ku menjadi sahabat
Inikah jawaban bahwa aku sedang tenggelam di daratan

PULANG
Oleh: Cy.Doo

Lelah embun bepergian
Lelah mentari menyinari
Letih siang mengejar malam
Letih malam menghampiri siang
Penat hari mengejar minggu
Penat minggu mengejar bulan
Penat bulan mengejar tahun
Tiada arti mengejar fana
Jejakmu akan menghilang
Dan pada akhirnya
Kau akan kembali kepada yang empunya


KEMATIAN
Oleh: Rindi Yani

Tentang apa manusia bertanya tanya?
Tentang maut!
Dalam hal itu mereka berselisih paham
Bukankah! suatu saat mereka akan merasakan
Bukankah! Suatu saat mereka akan merasakan
Sholatnya dijadikan amal
Tidurnya dijadikan sebagai istirahat
Malam dijadikan penghangat atau pakaianmu
Sungguh!!
Kematian itu sangatlah nyata
Ketika roh di cabut lembut dari jasad.


Rumah, 23 Agustus 2020
Ditulis oleh seluruh mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2018, FIB Universitas Lancang Kuning, untuk para pembaca yang punya mimpi seperti mereka. Menggunakan tulisan pembuka mimpi dan harapan.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas