Mengenal Sosok Sapardi Djoko Damono
0 Komentar 387 pembaca
Sapardi Djoko Damono

Mengenal Sosok Sapardi Djoko Damono

Berita

tabloidtanjak.com-Unilak. Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unilak kembali Berduka. Sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono telah berpulang ke Maha Pencipta. Mengenang sosok yang diidolakan, FIB mengadakan doa bersama, diskusi, dan membaca karya-karya Sapardi Djoko Damono. Yang dihadari oleh mahasiswa, alumni FIB, beserta dosen-dosen FIB Unilak. Senin (20/07/2020).

Acara Mengenang Sastrawan Sapardi, dipimpin dengan Doa oleh Bapak Ridwan, S. Ah., M. Sy dosen FIB. Dilanjut dengan kata sepatah dari Dekan FIB Unilak, "Pribadi, saya tidak pernah jumpa, namun saya terikat dengan karya-karya beliau. Saya juga merasakan kehilangan pemikir dan budaya dalam karya. Ibarat pepatah mengatakan Gajah mati meninggalkan gading, manusia meninggalkan nama, dan beliau meninggalkan karya-karyanya," ungkap M.Kafrawi, S.S., M.Sn, selaku Dekan FIB.

Pandemi Covid-19 ternyata tidak menyurutkan semangat Mahasiswa FIB untuk tetap menggelar acara mengenang Sapardi, tentu dengan mengikuti protokol kesehatan, seperti mengenakan masker, dan menjaga kebersihan bersama.

Setelah mengadakan doa bersama, acara dilanjutkan dengan diskusi mengenal sosok Sapardi, dimoderatori oleh Alvi Puspita, S. Pd., M.A dosen FIB, dan dinarasumberi oleh Dra. Essy Syam, S.Hum yang juga merupakan dosen FIB Unilak. Beliau menceritakan pengalamanannya menjadi mahasiswi Sapardi, sekitar 20 tahun yang lalu di Universitas Indonesia saat menempuh pendidikan S2.
"Menceritakan tentang Sapardi Djoko Damono, sastra yang begitu punya pesona dengan karya-karya. Pengalaman saya saat menjadi mahasiswa bapak Sapardi Djoko Damono yang saya kenal mempunyai karakter yang tidak berekspresi. Karya beliau banyak menceritakan atau menerjemahkan karya-karya sastra luar, salah satunya "Hujan Salju". Karya-karya terjemahan yang beliau ambil lebih banyak dari Australia. Sebagai seorang penerjemah beliau sangat berhasil menyampaikan pesan-pesan yang sangat berkesan ada di dalam karya tersebut. Hal yang menarik dari karya yang diterjemahkan beliau yang telah saya baca adalah "Menunggu Godo" dan karya terakhirnya yang saya baca adalah "Alih Wahana". Beliau selalu aktif dalam melihat perkembangan teknologi dan selalu semangat dalam berkarya," ungkap sang narasumber.

"Teori dalam segi Akademis, saya mengenal Sapardi sebelum masuk kuliah, sudah mulai menyukai karya-karya beliau. Sampai saya memasuki kelas sastra yang pembahasannya lebih banyak tentang puisi beliau." Sambunynya.
Pertanyaan-pertanyaan diajukan oleh beberapa dosen dan mahasiswa FIB yang hadir, demi mengenal sosok Sapardi.

Selamat jalan bapak Sapardi Djoko Damono, Sastrawan Indonesia. Karya-karyamu akan abadi dan selalu dikenang. Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta, 20 maret 1940, dan meninggal di Tangerang Selatan pada 19 juli 2020.

(RW)

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas