Sejenak Tentang Desa Bokor
0 Komentar 732 pembaca
Tim observasi dan narasumber

Sejenak Tentang Desa Bokor

Khazanah

Tradisi dan budaya merupakan identitas suatu kelompok masyarakat, begitu juga dengan Riau yang memiliki berbagai tradisi dan budaya. Kebudayaan yang tersebar diberbagai penjuru tanah melayu ini, kabupaten, kecamatan dan juga desa-desa yang ada di Riau, kental akan kebudayaan dan tradisi yang masih ada hingga saat ini.

Tentu saja tradisi dan kebudayaan tidak terlepas dari yang namanya sejarah, yang merupakan cikal-bakal terbentuknya tradisi dan kebudayaan tersebut. Sejarah merupakan tonggak bagi kebudayaan dari masing-masing desa yang ada di Riau.
Salah satu desa yang memegang sejarah sebagai pengetahuan awal untuk tetap melestarikan budaya adalah Desa Bokor, yang terletak di Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Bagi masyarakat desa Bokor, sejarah bukan hanya sebagai kisah sebelum tidur anak-anak mereka, tetapi juga sebagai cerita yang mereka wariskan secara turun-temurun, agar menjadi pembelajaran bagi generasi muda desa.

Desa Bokor dibuat oleh Tengku Arif (Tengku Bagus Syed Muhammad Toha) yang merupakan seorang keturunan kerajaan Siak. Pada suatu ketika, Tengku Arif dan rombongan beristirahat di sebuah pulau milik kerajaan Siak Sri Indrapura yang daratannya lebih tinggi dari permungkaan air laut, pada masa Tumenggung Siak I.

Ternyata nama Bokor sendiri didapat dari sebuah wadah atau sebuah piring besar yang cengkung dan bertepi lebar, biasanya terbuat dari perak atau tembaga dan biasa digunakan oleh para Raja, Bangsawan ataupun orang – orang yang terpandang dimasanya. Di kerajaan Siak, kata melayu dari Bokor adalah Bokou. Wadah (Bokou) yang digunakan oleh Cik Saedah yang merupakan Srikandi Cik Puan, tidak sengaja menjatukan Bokou tersebut saat ingin mengambil air sungai tersebut. Rombongan pun mencari Bokou yang terjatuh di sungai yang dalam dan sangat luas, tetapi tidak ditemukan Bokou itu selama mereka mencari. Dikarenakan Bokou hilang di sungai tempat rombongan beristirahat, maka rombongan kerajaan Siak itu memberi nama kuala Sungai adalah Bokou (Bokor), hulu sungai dinamakan Hulu Sungai Bokou (Bokor), serta daerah sepanjang kuala dan sampai ke  hulu yang merupakan daratan atau dusun disebut Dusun Bokor. (http://bokor.desa.id/profil/sejarah/)

Pada ceritanya. Di zaman dahulu, penduduk sempat diserang oleh lanun (bajak laut). Seluruh warga berlari ke hulu Bokor yang merupakan kampung terbesar Desa Bokor, untuk bersembunyi dari para lanun itu. Dari Hulu Bokor tersebut akan terlihat dusun-dusun dan pusara – pusara yang berumur lebih dari ratusan tahun (mungkin berkisaran antara tahun 1700 atau 1800 – an, menurut narasumber yang ditemui), dari tempat itulah penduduk menggali dan mendapatkan kisah sejarah Desa Bokor ini. Penduduk pernah menemukan sebuah makan yang memiliki panjang yang tidak normal seperti makam – makam lainnya, mereka merasakan aura mistik yang amat kuat, menurut narasumber saat penduduk desa hendak membersihkan makam tersebut, setiap kali mereka mengayunkan pisau (parang) mereka, selalu turun hujan di sekitaran makam tersebut.

Setelah para lanun itu pergi, maka dibentuklah suatu pemerintahan desa , yaitu dipimpin oleh para Batin (yang dikenal dengan suku akik atau orang asli). Para Batin itu adalah, Batin Suir, Batin Limbang dan Batin Galang. Setelah dibentuknya masa kepemimpinan Batin Galang, seluruh masyarakat yang bersembunyi di Hulu desa Bokor berbondong – bondong menempati desa yang saat ini di sebut Desa Bokor. Setelah kepemimpinan Batin berakhir, barulah dibentuk kepemimpinan Penghulu (yang saat ini dikenal dengan kepala desa).

Desa Bokor sampai saat ini masih memiliki penduduk asli yaitu suku Akik dan terdapat sembilan puluh sembilan persen keturunan melayu asli. Begitu panjang perjuangan mereka untuk mempertahankan tradisi yang sudah ada sejak dulu dan mereka tak sedikit pun menghilangkan tradisi tersebut dengan cara menceritakan sejarah kampung tersebut kepada anak dan cucu mereka.
Semakin berkembang nya zaman era milenial tak sedikit pun menggubris tradisi yang ada di Desa Bokor ini, salah satunya yaitu tata letak rumah yang ada di Desa Bokor, tataan rymah yang begitu rapi dan indah dipandang, begitu juga dengan menjaga silaturahmi dengan jiran tetangga selalu mereka jaga. Tak hanya warga Riau yang datang berkunjung untuk melihat surga nya Desa Bokor tetapi berbagai masyarakat manca negara pun sudah mengunjungi Desa tersebut untuk mengadakan pertunjukan seni yang diadakan warga kampung Desa Bokor yaitu Bokor Fiesta.

Desa Bokor juga banyak menghasilkan sumber daya alam seperti buah-buahan, kopi, dan ikan. Dengan hasil panen yang mereka miliki maka mereka memiliki kebudayaan yang setiap tahunnya diselenggarakan yaitu "Pesta Bokor" yang diadakan sejak tahun 2012.
Tak luput dari hal sejarah Desa Bokor sudah mentradisikan zapin melayu pada tahun 70-an dimana ranah melayu sudah melekat pada desa tersebut. Desa Bokor juga memiliki lagu khas daerah mereka dengan judul "Kampung Halaman" yang diciptakan oleh sanggar batu galang, dan lagu tersebut selalu di nyanyikan ketika event-event besar di Desa Bokor.
Desa Bokor adalah salah satu surga dunia yang dititipkan Tuhan kepada kita, yang harus menjaga dan melestarikan apa yang sudah disediakan oleh-Nya. Maka dari itu masyarakat desa Bokor tak pernah melupakan sejarah bagaimana nenek moyang mereka yang berjuang mempertahankan tanah melayu tersebut dari serangan lanun (bajak laut), melestarikan budaya demi anak dan cucu yang kelak membangkitkan dan memperkenalkan desa tersebut hingga kanca Internasional.

 

Kata penulis : Mohon Maaf apa bila terdapat kesalahan dalam penulisan, karena penulis masih dalam tahap belajar. Terima kasih untuk seluruh penduduk dan narasumber desa Bokor yang telah memberikan informasi dan membantu penelitian penulis.

Laporan ini dibuat oleh mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning, Dirga Putri dan Ummi Atika berdasarkan observasi langsung ke desa Bokor dan mendapatkan informasi tambahan dari internet (sumber tercantum). Dibuat pada tanggal 29 Juli 2019. Tulisan ini pernah dimuat di tabloid tanjak cetak edisi-8 untuk periode Januari-Februari 2020.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas