27, 2017
0 Komentar 296 pembaca
Sumber google

27, 2017

Cerpen

“Aku tidak hidup, tapi tak benar–benar mati…”


Kau percaya mesin waktu? Mesin yang bisa membawamu dari zaman yang kau tinggali sekarang, menuju zaman yang ada di depanmu, atau sebaliknya membawamu menuju zaman yang pernah kau tinggali. Aku percaya, tapi tidak pada mesin yang tidak jelas ada atau tidaknya. Tepat pada tanggal 27 Juli 2017, pukul 17.07, aku akan mati. Lalu aku akan terbangun di usia ke–17 tahun, pada tanggal 27 Juli 2007, tepat pukul 07.17. Aku rasa, aku melewati mesin waktu kembali ke masa yang sudah pernah aku lalui. Masa lalu.
Namaku Rerisa Yuliana, bekerja sebagia editor di perusahaan penerbit di Jakarta. Aku bisa melakukan segala hal sendiri, untuk berhasil seperti saat ini pun aku melakukannya sendiri. Orang tuaku telah pergi untuk selamanya ketika aku berusia 7 tahun, dan aku terpaksa tinggal di panti asuhan sejak saat itu hingga aku berusia 10 tahun. Melanjutkan hidup, tentu saja.


Awalnya hidupku berjalan dengan lancar, tak ada yang aneh dan mungkin masalah yang membuatku ingin menyerah pada hidup pun tak pernah aku rasakan. Semua hal mengerikan itu terjadi setelah tanggal 27 Juli 2017, semuanya semakin mengerikan. Aku telah merasakannya sebanyak tiga kali, dan aku tak pernah mengerti dengan hal ini.


“Kau percaya mesin waktu?”

Aku menatap teman seperjuanganku yang duduk di sebelahku sambil menyibukkan jari – jarinya menari bersama keybord, matanya yang sipit terlalu fokus menatap layar komputer, hingga nyaris membuatnya melompat.
“Kau pikir, di dunia nyata seperti ini ada kantong ajaib Doraemon? Atau pintu kemana saja?”
Bahkan sedetik pun pria yang aku panggil Egi ini, enggan menatapku.
Aku membalasnya dengan senyuman.
“Jika memang ada pintu kemana saja, aku lebih memilih untuk masuk ke hatimu, menggunakan pintu itu.”
“Kau tidak perlu melakukan itu, bukankah kau sudah berada di dalamnya?”
Kami berdua saling tersenyum.
Percakapan itu menjadi gombalan terakhir yang kami ucapkan. Aku dan Egi mengalami kecelakaan saat menuju rumah, mobil yang kami kendarai menabrak mobil lainya. Aku tak menyangka, usia 27 tahun akan menjadi akhir perjalananku.

Di malam yang dingin itu aku rasakan aliran darah yang mengalir disekujur tubuhku, rasa sakit tak terasa. Hanya seperti kau berada dalam gelap, dan kegelapan itu memakanmu hidup – hidup. Hal terakhir yang aku lihat saat kematian hendak menjemputkan adalah air mata Egi yang menangis sambil memanggil namaku, ia tampak benar–benar ketakutan dengan hiasan darah di wajahnya. Aku tidak akan pernah bisa mengungkapkan isi hatiku kepada Egi, tak ada kesempatan lagi untuk itu. Hanya tinggal penyesalan, kenapa diakhir ceritaku, aku tak bisa mengatakannya kepada Egi? Jika aku bisa kembali ke masa lalu, hal pertama yang ingin aku lakuakan adalah mengatakan bahwa aku mencintainya.


Kau percaya mesin waktu?

“Huh……”

Aku bangun dengan terkejut, sekujur tubuhku dabasahi keringat. Aku menatap kalender yang tergantung di dinding kamar. Lagi, hal itu terulang kembali. Hari ini tanggal 27 Juli 2007 lagi, ini keempat kalinya aku kembali ke masa lalu, 10 tahun yang lalu. Rasanya kecelakaan pertamaku baru kemarin terjadi.
Aku ingat pertama kalinya hal mengerikan ini terjadi, saat aku dan Egi mengalami kecelakaan, dan aku benar – benar merasa kematian sudah datang. Tapi saat aku membuka mataku, aku kembali ke hari ini. Awalanya aku tidak bisa menerimanya, aku menjadi Risa yang gila. Keluar masuk rumah sakit jiwa, tinggal di rumah rehabilitas gangguan kejiwaan, tak bekerja dan menjadi tunawisma selama 10 tahun.
Kematian keduaku datang saat gedung percetakan majalah mengalami kebakaran, situasinya berubah dari sebelumnya. Namun Egi tetap sama, dia menjadi orang terakhir yang aku pandang. Kali ini wajahnya hanya dipenuhi air mata penyesalan.


Kembali aku terbangun di tanggal yang sama seperti sebelumnya. Kali ini aku menjalani kehidupan dengan sangat baik, seolah – olah hal ini biasa bagiku. Butuh waktu 10 tahun hingga aku harus kembali mati, jadi tak ingin rasanya aku menyia – nyiakan hal ini. Tapi tetap saja aku tak bisa bilang cinta pada Egi, karena aku memilih untuk tidak bertemu dengannya.


Kematian ketigaku terjadi saat aku memutuskan untuk mengakhiri hidup sebelum tanggal 27 Juli, saat itu yang aku ingat hanya wajah Egi yang menangis. Aku telah melakukan ini selama 30 tahun. Dan ini terulang kembali, aku bangun kembali di tanggal 27 Juli 2007, pukul 07.17, 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Aku memang selalu terlambat saat datang ke sekolah, setiap kali aku terbangun di hari ini. Tentu saja ini sudah aku ulangi sebanyak 3 kali, dan tak pernah berubah dengan itu.


“Kenapa kau terlambat? Berhentilah begadang saat malam hari.”
Lia menatapku yang baru saja duduk di bangkuku.
“Jangan khawatir, ini sudah sering terjadi…”
Lia menatapku bingung. Aku tahu, baginya ini pertama kali aku terlambat.
“Dimana guru?”
Aku memperhatikan sekitarku, kenapa hari ini malah guru yang terlambat?
“Belum datang, aku melihat siswa baru di ruang guru hari ini. Sepertinya ada anak baru yang akan masuk ke kelas kita, aku lihat dia sedang berbicara dengan pak Rian.”
Sekarang wajahku yang tampak bingung, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Sekolahku, tidak pernah menerima murid baru hingga aku keluar dari tempat ini.
Aku terkejut saat pak Rian masuk ke kelas bersama seorang murid laki–laki, yang tampak tidak asing bagiku. Pria itu terlihat tampan, tingginya kira–kira 173cm, murid–murid di kelasku tampak terpukau saat melihatnya. Pria bermata sipit itu adalah, Egi. Sekarang apa yang terjadi?


“Egi Prayoga.”
Sekedar itu perkenalannya. Mataku terlalu enggan berpaling darinya, bahkan sedetik pun. Seharusnya aku bertemu dengan Egi, lima tahun dari sekarang. Di depan gedung percetakan majalah di Jakarta. Seharusnya saat itu aku mulai jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Bukan di depan kelas, di usia 17 tahun ini.
Hari demi–hari berlalu, aku hanya bisa berspekulasi, tak berani menghampirinya, memandangnya dari jauh dan mencoba untuk tak menarik perhatian.

“Apa kau tertarik padaku?”

Suara itu mengagetkanku.
“Apa?”

Suasana perpustakaan saat itu terasa horor, aku tak tahu harus menghadapi Egi seperti apa.

“Aku rasa kau sering memperhatikanku akhir–akhir ini, dan pandangan itu telah mengusikku. Maaf jika aku terlalu percaya diri.”

Senyuman Egi berhasil membuat hatiku bergetar. Aku berdiri dan tersenyum, mari kita selesaikan hari ini.
“Kau percaya mesin waktu?”

“Kau pikir, di dunia nyata seperti ini ada kantong ajaib Doraemon? Atau pintu kemana saja?”

“Jika memang ada pintu kemana saja, aku lebih memilih untuk masuk ke hatimu, menggunakan pintu itu.”

Matanya menatap dengan serius.

“Kau tidak perlu melakukan itu, bukankah kau sudah berada di dalamnya?”

Kami saling membalas senyuman.
Seharusnya ia katakan hal ini 10 tahun yang akan datang, tetapi sepertinya ini datang lebih cepat dari dugaanku.

Kami menghabiskan waktu bersama, menikmati masa SMA dengan penuh kebahagiaan. Pengulangan hidupku ini terlupakan begitu saja olehku, berharap masa depanku berubah. Aku rasa akan begitu. Aku memutuskan tidak menceritakan hal aneh yang terjadi kepadaku selama ini, mungkin saja dia akan menganggapku tidak waras. Kita nikmati saja ini.

Satu bulan berlalu, dan kami masih dimabuk cinta. Kami hanya menjalani ini tanpa status pacaran. Aku selalu teringat kejadian saat aku akan membuat wajah Egi dipenuhi air mata dan penyesalan setiap kali menatapnya dengan penuh cinta. Terpikir olehku untuk mengatakan kepadanya bahwa aku menyukainya. Karena kematian akan kembali menghampiriku di 27 Juli 2017. Aku memberanikan diri untuk mengatakannya hari ini, saat jam istirahat, di atas gedung sekolah.

"Aku harap Egi juga merasakan hal yang sama sepertiku.”

Aku membatin, sambil melangkah dengan ringan menuju lantai atas.

“Ra…”

Lia menghentikan langkahku, ia tampak cemas sambil memberikan sepucuk surat kepaku.

“Dari Egi.”

Katanya lagi, aku sedikit was–was saat melihat ekspresi Lia. Aku memberanikan diri untuk membaca surat itu.

Hay Re… kau percaya mesin waktu itu benar–benar ada? Aku percaya, dan di sinilah aku. Senang bisa melihatmu tersenyum lagi. Aku adalah Egi yang berusia 27 tahun yang kau kenal 10 tahun yang akan datang. Aku minta maaf karena tidak memberi tahumu lebih dulu, aku mencoba merubah situasinya. Aku benar – benar takut kejadian 27 Juli 2017 itu akan terulang kembali, setiap itu terulang lagi, aku mencari cara untuk mengubahnya menjadi lebih baik.
Aku telah mencobanya berkali – kali Re, namun tak aku temukan jalan keluarnya. Kau tahu apa yang salah dengan ini? Mengapa tak pernah ada perubahan saat kita mencoba untuk merubahnya? Aku Re, aku masalahnya, aku penyebabnya. Selama aku bersamamu, maka hal itu tak pernah berubah. Kali ini aku mencoba mengubahnya lagi, menemuimu lebih dulu karena aku harus meninggalkanmu lebih dulu. Kau tidak perlu khawatir, masa lalumu tidak akan terulang kembali. Tapi satu hal yang tidak akan pernah berubah. Aku mencintaimu Rerisa..
Egi Prayoga pria 27 tahun.”


Begitulah isi surat Egi yang membuat air mataku mengalir seperti keran yang lupa dimatikan. Aku menatap Lia dengan tatapan tak percaya.

“Maaf Re, pagi ini dia ditemukan di kamar kosnya. Tak Bernyawa.”

Seketika tangisanku meledak, rasanya aku tak sanggup menahan beban yang amat sangat berat ini. Hatiku terasa dipenuhi jarum–jarum yang tengah bergembira menusuknya. Pada akhirnya aku tetap tidak bisa mengatakan perasaanku kepada Egi. Ia telah pergi sebelum tanggal 27 Juli 2017, sekarang dia yang meninggalkanku terlebih dahulu. Suratnya telah merubah masa depanku, mengambil masa laluku, dan mengubur cintaku bersamanya.
Seharusnya aku katakan sebelum keanehan ini terjadi. Bahwa aku mencintainya.


Pekanbaru, 27 Juli 2019
~Selesai~

 

 

Dirga Putri merupakan mahasiswa aktif Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning. Dan merupakan wartawan tabloid tanjak, cerpennya sudah banyak dimuat di tabloidtanjak.com.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas