Kisah Dahulu
0 Komentar 360 pembaca
Gambar ilustrasi

Kisah Dahulu

Cerpen

"Kenapa tak pakai jaket, Jang? Semakin malam, semakin dingin."

Dino memberiku sehelai selimut.

Aku dan Dino harus menyelesaikan tugas dan kewajiban kami sebagai mahasiswa tahun ke-3. Kami harus KKN disalah satu desa kecil di Kabupaten Kuantan Singingi, tepatnya di desa Pulau Mungkur. Ini adalah hari kedua kami di sini, tapi kami harus sudah mengikuti semua kegiatan warga kampung, salah satunya yah ini, ngeronda.

"Kalau sudah malam begini memang gelap dan tambah dingin, bang."

Seorang remaja 17 tahun menghampiriku dan Dino, duduk di antara kami sambil menyodorkan pisang goreng dan secangkir kopi panas. Wah, malam ini nikmat kawan. Ditemani santapan sedap dan bintang-bintang yang menjadi cahaya redup malam ini.

"Wandi asli orang sini?"

Aku menatap Wandi dengan mata yang sudah sayu, dan berat menahan kantuk.

Bocah pintar ini ditunjuk langsung oleh kepala desa untuk menjadi pemandu kami selama di sini, karena dia banyak mengetahui tentang desa dan juga bisa berbahasa Indonesia.

"Asli sini bang, lahir dan tumbuh besar di sini. Nenek buyut, nenek, emak, bapak, semuanya asli di sini. Belum pernah keluar dari Kabupaten, Insya Allah bulan depan perdana ke Pekanbaru bang, ikut olimpiade matematika."

Wandi tampak bersemangat.

Ku perhatikan Dino yang tampak gelisah, matanya menari kesana-kemari, seperti mencari sesuatu dengan penuh kewaspadaan.

"Walau pun desa kami punya banyak hal mistis, tapi abang tak perlu takut. Enam belas tahun hidup, aku belum pernah lihat penampakan. Selain dengar cerita dari Tino[1] ku bang."

"Ah, kenapa pulak kau cakap macam itu? Tambah takut aku jadinya."

Mata sipit Dino menutup, dan sepertinya dia mulai membayangkan sesuatu. Aku dan Wandi tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Dino.

"Wan, coba kau ceritakan satu cerita tentang Pulau Mungkur ini. Tapi tak perlu cerita yang menyeramkan, nanti tak tidur pulak sih Dino selama seminggu."

Wandi tampak berpikir tentang permintaanku, mungkin dia sedang mencari cerita apa yang cocok untuk malam menakutkan ini.

"Hm... bagaimana jika kisah yang pernah membuat gempar kampung kami bang?"

Mataku yang tadinya sudah menutup setengah, dan mata Dino yang menutup, tiba-tiba terbelalak, kami berdua tampak antusias mendengarkan kisah dari Wandi ini.

"Dulu itu bang, sekitar 10 tahun yang lalu, desa ini dibuat gempar dengan kedatangan orang baru. Kami menyebutnya Potong Kuduak, yang berarti potong leher..."

"Bagian mana yang tidak menyeramkan? Judulnya saja sudah begitu."

Sepertinya Dino memang ketakutan, hingga dia harus menyela perkataan Wandi. Yah, temanku satu ini memang penakut ditambah dia tak suka gelap seperti ini.

"Dengarkan saja dulu, sepertinya ini menarik."

Aku terpaksa mendekatkan diriku kepada Dino, setidaknya menjaganya agar dia tak merasa terlalu ketakutan.

 

*** (cerita Wandi) ***

Dulu sekitar tahun 2010, di Desa Pulau Mungkur telah terjadi suatu peristiwa misterius yang sampai sekarang tak terbukti kebenarannya. Desa memang memiliki segudang cerita-cerita, mulai dari cerita mistik, legenda, dongeng, cerita rakyat maupun cerita horor. Semua cerita-cerita ini sudah menjadi santapan anak-anak desa.

Tak tahu darimana asal cerita ini, sebuah kisah yang sempat membuat geger satu kampung. Penduduk biasanya menyebutnya dengan "Potong Kuduak" yang berarti potong leher. Menurut penduduk desa, potong kuduak adalah orang-orang yang bekerja sebagai pembuat jembatan. Mereka menculik anak-anak kecil dan memotong leher anak-anak itu, mengambil kepala mereka, memasukan kepala itu ke dalam semen dan membuat jembatan dengan adonan itu.

Saat itu aku berusia 7 tahun, siswa kelas 1 SD. Duduk termangu mendengarkan kisah potong kuduak dari nenek.

"Jan nak kalua juo main le, nyo potong kuduak du siang-siang mancai anak kenek."

Nenek melarangku untuk keluar di siang hari, karena menurut penduduk desa, si pelaku keluar siang hari untuk menculik anak-anak kecil. Awalnya tentu saja aku percaya, yah kalian pasti tahu betapa polosnya anak berusia 7 tahun, apalagi tinggal di kampung kecil.

Penduduk desa juga mempercayai semua itu, walau pun hingga saat ini tidak ada anak-anak yang dilaporkan menghilang, atau pun diketahui menghilang. Hanya saja, cerita terkait potong kuduak dapat menggemparkan penduduk desa. Beberapa warga merasa melihatnya, ada orang yang tidak dikenal memasuki desa di siang hari. Ia membawa karung besar dan sebuah pisau pemotong rumput. Kami menyebutnya sabit.

Menurut cerita, orang itu berlari sangat cepat. Warga mencoba mengejarnya, tetapi tidak pernah mendapatkannya. Tak hanya sekali terlihat, warga bahkan pernah melihatnya sebanyak tiga kali, dan ketiga kali pula warga mencari menelusuri kampung, tetap saja tak menjumpai orang asing itu. Hingga suatu ketika, para orang tua memutuskan untuk "mengurung" anak-anak mereka di dalam rumah. Sekolah dasar diliburkan, anak-anak SMP hanya boleh bermain di dalam pekarangan sekolah saja saat jam istirahat, dan tidak boleh berkeliaran setelah jam sekolah usai.

Saat itu, desa seperti tempat tak berpenghuni. Orang-orang dewasa pun hanya pergi bekerja di pagi hari, dan segera kembali ke rumah menjelang siang, untuk memastikan dan menjaga dengan aman anak-anak mereka. Pengajian malam ditiadakan, karena biasanya anak-anaklah yang mengisi surau dan mengaji di sana setiap malam. Penduduk desa sangat ketakutan.

***

 

"Lalu lalu, apa jadinya?"

Aku antusias.

"Ini kisah pembunuhan paling kejam yang pernah Tino ceritakan padaku bang, walau pun tak ada bukti untuk membuktikan apakah ini benar atau tidaknya. Yah, terlepas dari kepercayaan kita masing-masing. Bahkan setelah 10 tahun barlalu, kisah brutal itu tetap menjadi dongeng sebelum tidur siang bagi anak-anak desa."

"Jan main kalua jo ndk? Ado potong kuduak ko nua."

"Begitu kiranya sepenggal kalimat para orang tua, agar anak-anak mereka tetap di rumah dan tidur siang dengan tenang. Walau pun sekarang cerita itu hanya untuk membuat anak-anak tidak bermain di luar rumah saat siang hari, namun cerita ini pernah membuat gempar satu desa. Sepuluh tahun lalu, aku menyaksikan kejadian itu."

Aku dan Dino terdiam mendengarkan cerita dari Wandi, yah seperti yang Wandi bilang cerita ini terlepas dari apa yang kita percayai. Benar atau tidaknya, tergantung pada diri kita sendiri. Kepastiannya, kisah ini adalah kisah yang dipercayai penduduk desa.

"Sekian dulu kisah malam ini bang, kita lanjutkan dengan kisah lainnya, saat ronda kita selanjutnya ya bang. Mungkin nanti kisah Gunuang Manangi[2]."

 

(Selesai).

 

*[1]Nenek

*[2]Gunung Menangis

 

Dirga Putri, merupakan mahasiswi dari jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Unilak. Ia merupakan seorang cerpenis muda. Kini ia masih semester 6 (enam).

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas