Sepenggal Kata Muhammad de Putra
0 Komentar 629 pembaca
Foto Muhammad de Putra

Sepenggal Kata Muhammad de Putra

Puisi

Tubuh Laut

Aku meminjam tubuh laut yang riuh. 
Hingga pancang-pancang 
dari kapal para nelayan 
tumbuh kuat di dadaku.

Fajar tenggelam di mata.
Ikan Pari dan Tuna 
menyelam pada tulang punggung. 
Hingga rumah-rumah Suku Laut 
mekar dan menjelma rambut hitam 
yang legam. 

Hidup asin!

 


SUBAYANG

I
Ihwal sejarah mencatat cakar Harimau Sumatera
dan Sialang yang tumpang mengimpit siang,
Jauh dari daratan Bukit Barisan,
Tuhan mengirim kita -Subayang nan Akbar-
kepada anak-anak Rimbang Baling.

timang kelu emak ketika angin turun dari kaki gunung
dan dingin mencekam batang tubuh,
daun-daun menghilir menuju kaki kita. semuanya berkabut!

II
Batu-batu pecah
Ikan menari
Piau tak kunjung berlabuh
Desa-desa yang ditelan peradaban.

III
Kitalah Subayang -jalan menuju surga- mengalir ke kota-kota!

 


Menjadi Tanah Mati

Perlahan-lahan kita didekap lembut perut bumi
Terlelap bersama derap langkah anak-anak sekolah

Rel kereta melintas
Pasar mekar
Ruko-ruko dan cukong berdiri tegak!

Peradaban kita telah mati! Sisa sesak.

 

 

Bersama Jala dan Aroma Asin Tubuh Nelayan 

Menambatkan sauh 
pulang dengan senja karam 
yang segera pecah di tubuh pulau ini 

Azan Magrib berkumandang 
dan melawan teriakan gelombang

 


Menebang Sialang

Titah sejarah telah mengajarkan tangan kita 
untuk menebang pohon adat 
dengan doa dan mantera, 
agar penghuni dahan 
tak meninggalkan dendam 
serta tangis yang mendalam 
kepada anak cucu.

Kita angkat sebilah pisau yang menyilaukan mata 
sebab telah melawan mata siang 
yang tajam. 

Batang besar ini 
akan dikirim melalui jantung sungai 
ke kampung sebelah, 
sebelum para toke 
dari kota menjemputnya 
dan menitipkan recehan untuk kita. 
Karena tangan kita 
adalah doa dari sisa-sisa sirih kapur 
milik Ninik mamak. 
Maka, tak ada jalan berhenti 
untuk terlelap di jalan tradisi ini!

 

 

 


Muhammad de Putra, Lahir di Pekanbaru, 26 Mei 2001. Peraih Anugerah Kebudayaan kategori Anak dan Remaja dari Kemdikbud. Bergiat di COMPETER (Community Pena Terbang). Bersekolah di SMAN 1 Pekanbaru. Memenangkan beberapa lomba, di antaranya: Juara 1 Menulis Puisi di Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional (LCSPN 2016, di Jakarta), dll. Karya-karyanya dimuat di laman: Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Horison, dll. Bukunya yang telah terbit: Kepompong dalam Botol (2016), Timang Gadis Perindu Ayah Penanya Bulan (2016), Hikayat Anak-anak Pendosa (2017), Malay Children is Disallowed to Cry for the Nation (2018), Anak dari Hulu (2019). Pemenang Kompetisi #SahabArtEurpalia dari Kemdikbud, dan membawanya berkeliling Eropa




Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas