Perempuan Tidak Berkepala
0 Komentar 347 pembaca
Gambar ilustrasi by Google

Perempuan Tidak Berkepala

Cerpen

Ia sangat gemar sendirian, mendendangkan syair merupakan pilihan hati yang paling dalam. Hidup terkekang adalah penjara setiap manusia dan dirinya sendiri. Mak merupakan para pelahir yang menaburkan kebaikan-kebaikannya sendiri, kemudian menjadikan anak-anak sebagai jalan masa depan. Maka petang merupakan pilihan yang langka untuk tidak dinikmati.


Setiap petang, Salmah duduk di pinggir sungai, sambil melantunkan syair-syair yang merupakan pusaka leluhur. Limbah-limbah sungai menjadi pikiran yang memanjang di kepalanya. Jalan tanah, yang sedang di dakinya begitu sangat licin karena baru siap hujan. Dingin menembus kulit yang kemerahan itu. Batu-batu sungai mengalunkan riak-riak kecil, bunyi percikan burung mandi menjadi musik. Ia sangat berpengalaman terhadap jalan dan sungai itu, yang ada dalam kepala Salmah adalah bagaimana ia bisa keluar dari kampung. Melihat perubahan-perubahan baru, sebab hidup di kampung baginya merupakan ancaman masa depan.
Kali ini Salmah berjalan sangat tidak hati-hati. Padahal hujan mulai dari malam hingga sore. Membuat jalan menuju sungai sangat lecah dan licin. Arus sungai pun sangat deras. Entah apa yang indah di sungai itu pun tidak tahu. Oja sangat heran melihat tingkah laku Salmah.


“Saya sudah memperhatikan sejak tiga bulan ini”, kata Oja kepada maknya Salmah yang sedang menganyam tikar.
“Iya, dia memang sangat aneh beberapa bulan ini, setelah kampung ini dipenuhi oleh perempuan yang tidak berkepala. Katanya, ia sering menemukan di sebelah rumah. Padahal saya emaknya tidak pernah melihat hal itu", jawab orang tua itu.
“Apa? Perempuan tidak berkepala!” Oja gemetar mendengar perkataan yang cukup mengancam. Lalu dia berpikir bahwa hal ini terlalu sulit untuk dipercaya, tapi sangat takut untuk didengar.
***


Perempuan-perempuan tidak berkepala memang selalu keluar dari pandangan Salmah, apabila ia melantunkan bait-bait syair. Maka jelmaan perempuan-perempuan tidak berkepala itu hadir dalam pandangannya. Jika ia tidak bersyair, baginya dunia ini sangat sunyi dan tidak ada pengisi, sehingga membuat dirinya sepi sepanjang hari, dan bisa membunuh diri sendiri. Syair keramat itu sudah turun temurun dari tahun ke tahun hingga sampai tujuh keturunan yaitu Salmah.


Petang itu Salmah dalam keadaan basah kuyub oleh hujan. Ia sangat gembira melihat arus sungai yang deras bagai kilat. Hatinya senang tiada tandingan, muka yang suram berubah ceria, yang dilihat hanya air belaka. Tidak ada keindahan di sungai itu. Tapi, bagi Salmah sungai adalah rumah yang abadi untuk dunia dan isinya. Pepohonan di pinggirnya sudah banyak yang gundul akibat penebangan liar.

“Seandainya alam ini indah, daun menghijau diantara pohon-pohon yang tumbuh satu-satu, tidak ada yang bisa mengalahkan sungai ini, itu betul-betul ciptaan yang Maha Kuasa. Tapi di sini, di sungai ini hutannya sudah berdiri satu-satu, dan sungai sudah keruh. Begitu kejam orang-orang terhadap sungai, aku tidak peduli hal itu semua, tetap gembira bertemankan ceria hingga menghabiskan gundahku setiap sampai di sini.” Salmah berbicara sendiri.


Ia sering berbicara sendiri hampir seperti orang gila di pinggir jalan kota, ibunya yang sudah tua tidak mampu untuk memperhatikan lagi. Temannya, Oja sudah tidak kuasa pula untuk menasehatkan. Padahal mereka berteman sejak duduk di Sekolah Dasar.


“Telupo dopo bedopo
bedopo batang ke tai
kalau  ado  hantu  yang  menopo
jangan sampai  la’i
puah jembalang,  halaukan  hantu  yang  besaang
dan  tidak  bekepalo  tu.”[1]


Salmah membaca syair leluhurnya, sambil mengusir perempuan tidak berkepala yang muncul di seberang sungai itu. Jumlah yang tidak terhitung banyaknya, perempuan-perempuan tidak berkepala berbaris di seberang sungai itu hanya terlihat badan lalu menghadap Salmah yang duduk bermain air. Bagi Salamah hal semacam itu biasa-biasa saja. Sebab, sudah sering dialaminya. Bisa dikatakan setiap hari saat sore mulai menjemput malam.
***

“Seminggu yang lalu dia bercerita ingin merantau ke kota Mak Cik”, kata Oja kepada mak Salmah yang hampir selesai menganyam tikar pandannya.


“Iya, tapi saya melarangnya”
“Kenapa Mak Cik melarangnya?”
“Perempuan merantau banyak tidak eloknya, dari pada yang elok.”
“Maksudnya bagaimana, Mak Cik?”
“Pokoknya tidak mengizinkan anak perempuan Saye untuk ke kota!” Jawab mak Salmah dengan agak sedikit kesal.


Oja diam sejenak, kemudian dia memandang sudut-sudut rumah, untuk memperhatikan perempuan tidak berkepala sambil merasa was-was di hati kecilnya. Perempuan tidak berkepala sering muncul ketika malam mulai menjemput senja, dan saat Salmah duduk sendiri, ketika melantunkan syair keramatnya. Tapi Oja memberanikan dirinya memeriksa sekeliling rumah Salmah, rasa cemas bercampur penasaran membuat Oja tercari-cari di rumah itu. Sedangkan mak Salmah terus menyanyam tikar pandannya.
***

Sedikit lagi malam akan datang menjemput, Salmah masih asik duduk di pinggir sungai. Ia tidak memperdulikan lagi perempuan tidak berkepala itu, rasa cemasnya sudah lupa dengan hal aneh. Malah ia masih melatunkan syair, entah berapa ratus tidak terhitung perempuan tidak berkepala hadir di sungai itu. Seperti orang yang sedang menonton pertunjukkan yang tenang. Salmah seakan-akan kehilangan akal berputar-putar melantunkan syair. Padahal malam sudah sampai dan menggelapkan. Tapi Salmah masih saja merasa siang yang terang.

“Ilo-ilo  sipan  nilo
nilo temasuk  ke tawang-tawang
kalau nak  gilo  aku  gilo
jangan sampai  hilang  kepalo.”[2]


Salmah masih melantunkan syairnya dengan sangat merdu, arus sungai pun terasa berhenti. Gelombang air menenangkan diri. Pohon-pohon yang tinggal satu-satu itu bergoyang dihembus angin. Salmah masih berputar seperti gasing piring yang linyak. Syair-syair Salmah yang dilantunkan seperti memanggil para roh-roh, tapi sangat sedap didengar dengan telinga.
***

“Belum juga pulang Salmah, Mak Cik? Sudah malam seperti ini.” Oja merasa cemas terhadap teman kecilnya itu.
“Biarkan saja, dia sudah besar dan bisa berpikir mana yang baik dan buruknya.” Jawab orang tua itu, anyaman tikarnya pun sudah selesai. Lalu menggulungnya dan meletakkan dekat sudut rumah panggung itu.
Oja heran melihat mak Salmah yang tidak ada rasa cemas, terhadap anak perempuan satu-satunya itu. Menggaruk kepalanya, tanpa ia sadari tiba-tiba perempuan tidak berkepala itu muncul di hadapan dengan memakai tubuh maknya, Salmah. Dipanggilnya orang tua tersebut, tapi tiada jawaban.
“Mak Cik??... Mmmmaaakk... Cik!!!”

Teluk Dalam, Januari 2019

Catatan:
[1] Merupakan penggalan nyanyian permainan lukah gilo yang ada di Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan.
[2] Merupakan penggalan kata-kata mantra orang tua-tua Kuala Kampar untuk membuat hati orang tergila-gila dari kekasihnya.


Joni Hendri, kelahiran Teluk dalam, 12 Agustus 1993 Pelalawan. Alumnus jurusan Teater AKMR.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas