Sajak-Sajak Muhammad Asqalani
0 Komentar 157 pembaca
Muhammad Asqalani eNeSTe

Sajak-Sajak Muhammad Asqalani

Puisi

Tiba-tiba  Saja

Tiba-tiba saja kita teringat Tuhan, pohon-pohon ritual, sesajen dan tumbal, dan segala kesesatan menetek.

2012-2017


Suatu  Waktu
: Barjeh

Suatu waktu aku datang ke kotamu, menemu rumahmu, mengetuk pintu, apakah kau akan mengizinkanku masuk? barangkali aku hendak luruskan punggung, minta dibuatkan teh hangat, dalam perbincangan dingin-canggung.

Aku ingin kau antar ke tempat Berokan, menghitung pemain apa benar enam, melihat sebesar apa mata yang kau bahasakan dalam puisi yang tak menang.

Anak-anak TK menjerit, orang-orang dewasa tertawa, aku memotretnya dengan senyum samar. Aku bahagia tersesat di kotamu, dikepung tradisi buat hatiku suwung

Namamu kian memudar saat bus tanpa kernet membawaku keluar dari kotamu, menuju entah apa yang jauh, menuju perjalan ruh, tempat kantukku bergelantungan, aku tidur seperti batu ditenggelamkan.

21 Februari 2020


Ciuman  Langit

gambarlah pagut bibirku yang berpetir
menyambar pantai ludahmu yang sihir
ikanikan dari sari kebaikan di palungku
bersirip dalam lehermu, jelma kalung ibu
muasal sepasang doa. dan kita mengenal
tuhan spesial di ranjang hujan nan nakal

2013


Mengalungkan  Doa  ke  Leher  Cimanukku

di depan alirmu yang hampir buntu, tak mampu lagi menjernihkan debu

haruskah ku gandakan kalbu dan berdoa pada Tuhan yang satu, sesuai ajaran ibu.

sejarah yang kita kunyah-kunyah bukan
warna sirih yang bisa saja semirip darah
di hadapan kita rekaman Cimanuk beruba-ubah

sebentar bah, menenggelamkan hati-hati orang-orang tabah, sebentar kekeringan, memiringkan geleng orang-orang berkata tak mungkin

sebelum Tuhan pensiun dalam bathin tertimbun
berdoa aku seolah-olah mungkin; kembalikan alir Cimanukku yang dulu, yang berhulu di kaki gunung Papandayan, yang menghilir melebar
melayarkan kapal-kapal, melenggang hingga ke muara laut Jawa ke selat Sunda.

tetaplah kau memandikan padi-padi Garut, Sumedang, Majalengka, Indramayu dan Cirebon, mendinginkan Indonesia dalam riwayat kenyang orang desa. biarkan Sasakala bukan dipajang cerita purba, kau ingat Sasakala?

semoga ingatanmu bukan lubang perih, seperih kematian tertiup Sangkakala.

2015


Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran 25 Mei 1988. Suka memakai baju-baju unik. Menulis sejak 2006. Mengajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Mengajar Bahasa Inggris, Esperanto, Spanyol, Francis, Jerman dan Bahasa Arab. Pendiri Community Pena Terbang (COMPETER). IG: @muhammadasqalanie

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas