Sajak-Sajak Rhiky Pranata
1 Komentar 285 pembaca
M. Rhiky Pranata

Sajak-Sajak Rhiky Pranata

Puisi

Siang Yang Silam


Belum lagi pagi ia sudah berada di dapur,
Dan aku masih di tempat tidur sambil mendekur,
Dengan mata yang mulai kabur,
Dia tetap masak disetiap ia libur.

Ayahku pemasak handal,
Citra rasa yang menurutku sangat mahal,
Sedangkan ayahku sungkan untuk menjual,
Bayangkan sempedas ikan dan kuah sayur bayam yang kental.

Kelapa di belakang rumah ia kupas tak pernah tersisa sabut,
Kelapa tua ia parut,
Nak mendapatkan santan ia peras dengan lembut,
Sebab siang nanti ia hendak sajikan gulai siput.

Berkumpul dalam jamuan makan,
Berebut-rebut mengambil lauk-pauk,
Aku tak pernah mengalah,
Sebab sayur bayam ayahku paling tak terkalahkan,
Kapulaga, Cengkeh dan kayu manis jadi rempah yang tak terpisah.

Sempedas dan gulai siput siang ini berbeda,
Gingseng dan pala telah menjadi bumbu,
Makan tengah hari ini menjadi kenang yang tak terulang.

Itu kisah siang yang silam,
Ayahku tak lagi masak seperti siang yang silam,
Sebab aku, adikku dan ayahku tak lagi bersatu,
Kami terpisah,
Ayah dan adikku jauh di pulau,
Aku berada pada daratan mengolah lahan luas untuk menanam bunga jasmine.


Nanti setelah mekar,
Wanginya akan ayah cium,
Aku akan membawamu dengan matamu ditutupi kedua telapak tanganku,
Ketika aku bukakan,
Lihatlah apa yang telah aku perjuangkan agar kita tak terpisah,
Hiruplah wangi taman bunga jasmine ini.

Kita akan menyatu bagai rempah pala,
cengkeh, kapulaga, ginseng, dan kayu manis yang ayah ramu jadi sempedas, gulai siput dan sayur bayam siang yang silam.

Bandar Senapelan, 22 Februari 2020

 

Gagak Hitam
Karya Rhiky Pranata dan Putrililis

Petang memerah cerah membelah awan,
Gelap malam telah tampak,
Bintang menyala perlahan membentuk zodiak,
Nada-nada dan irama serak memecah sunyi,
Nanar merah di batang pohon itu serupa gagak.

Gagak hitam tampak segak,
Teriakan memecah malam,
Konon,
Kata ibu burung itu
membawa duka,
Izroil datang menarik-narik mengajak pulang.

Gagak datang,
Satu nyawa pergi menghadap illahi,
Gagak terbang,
Yang hidup baru saja mati,
Ini penanda yang dijaga dan dipercaya.


Aku bertanya pada ibu, 
Benarkah gagak pertanda kematian?
Ibu menajam pandangan seperti pedang,
Pertanyaan dijawab ketakutan,
Ah aku tak percaya!,
Bukanya Tuhan pemegang setiap jiwa?,
Gagak hanyalah burung,
Burung yang muncul di malam gulita.

Kepercayaan bagai tak ber-Tuhan,
Pupus amal,
Yang tertinggal hanya tiang debu,
Sekali tiup bertebaran dan hilang,
Kematian adalah janji yang diamanahkan ketika muncul kehidupan.
Lauh Mahfuzh pedoman yang tersimpan,
Hanya Tuhan pemegang catatan,
Nanti akan dibaca pada akhir zaman.

Bandar Madiun, 21 Februari 2020

 

Pasti

Musim itu pasti datang,
Renyai-renyai,
Gugur,
Kering kerontang,
Kemarau panjang yang tak ber-hulu.

Awan bergerak terus,
Pecah dan bersatu mengairi arus,
Begitu saja udah tampak indah,
Lautan masih luas terbentang,
Masih ada tempat sandarkan keinginan.

Alam nyata terus mendukung,
Pasti nanti akan disanjung,
Namamu di junjung-junjung,
Berdiri gagah dalam setiap kisah berbalut kekalahan.

Lihat dari kaki bukit,
Tebing menjulang tinggi sampai menyentuh langit,
Kan terus bangkit,
Seberangi pulau-pulau dengan rakit,
Pasti sampai walau ombak melantak perahu.

Masih ada waktu,
Bunga layu kan kembali mekar,
Nak sampai kepuncak harap,
Melangkah bertengkah-tengkah,
Mari mencari sinar.

Bandar Senapelan, 20 Februari 2020

 

M. Rhiky Pranata atau Rhiky Pranata, merupakan kelahiran pulau Bengkalis 5 Mei 1993, Alumnus Seni Teater - Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR).
Mengajar di SMA Negeri 7 Pekanbaru, berkesenian di Sanggar Teater Matan. Aktif di COMPETER Pekanbaru. IG: @mrhikypranata.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. Serojaindahlestari 23 Februari 2020 - 08:06:55 WIB

    Bagus banget puisinya bang,semoga bisa menciptakan karya"selanjutnya,ditunggu ya:)

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas