Alex’s Struggle On Independence Day Karya: Thessalonica Angelia Ambarita
0 Komentar 193 pembaca
Ilutrasi diambil dari internet (Google).

Alex’s Struggle On Independence Day Karya: Thessalonica Angelia Ambarita

Cerpen

Pagi hari yang cerah, kicauan burung pun menambah kesan di pagi hari. Di sekolah Avenues, delapan sahabat ini sudah tiba disekolah. Lucas, Edward, Alex, Nina, Skandar, Harry, Hanna, dan Rose, delapan bersahabat tiba di sekola saat keadaan masih belum ramai. Diantara mereka, hanya Alex yang paling cepat sampai di sekolah bahkan sebelum gerbang sekolah dibuka. Padahal rumahnya dekat dengan sekolahnya.

“Hey, sudah kubilang seratus kali padamu kalau jalan, kaki itu diangkat!”seru Edward pada Nina yang berjalan beriringan menuju kelas mereka.
Nina terlampau malas untuk menanggapi Edward. Hingga akhirnya mereka berdua tiba di kelas. Pemandangan yang terlihat pertama kali yaitu Alex yang sibuk dengan hpnya.
“Hoy.” teriak mereka serempak mengagetkan Alex . Sontak Alex terkejut dan mengelus dadanya, menetralkan detak jantungnya kembali.

“Untung aku tidak punya catatan riwayat penyakit jantung, bisa-bisa udah tewas ditempat.” Alex mengomeli Nina dan Edward hingga mereka pun tertawa.

Mereka bertiga pun kumpul dan membahas hal-hal dari yang penting sampai hal-hal yang garing namun mengundang tawa. Alex merasakan sesuatu yang mengganjal, namun diabaikannya. Tiba-tiba dia melihat salah satu murid membawa alat praktikum. Seketika Alex tersadar atas keganjalan yang dia rasakan tadi , ternyata dia lupa bawa alat praktikum.

Dengan kecepatan penuh , Alex berlari meninggalkan temannya yang kebingungan. Karena masih ada waktu 10 menit lagi, jadi ada waktu buat mengambil alat praktikumnya yang ketinggalan di rumah.
“Alex kenapa?” tanya Skandar tiba-tiba muncul diantara Nina dan Edward. Nina dan Edward pun tersentak kaget dan menoleh ke sumber suara. “Tidak tahu, dia asal lari tanpa alasan yang jelas.” Jawab Edward.


Pukul 7 pagi, seluruh siswa berdesakan memasuki kelas. Ketujuh sahabat itu pun sudah berkumpul di dalam kelas terkecuali Alex. Rose melihat tas Alex, namun batang hidungnya tidak ketemu sejak tadi. Rose mencari sekeliling, mencari keberadaan Alex yang tidak ditemui. Lantas Rose menuju ke lapangan, mencari Alex.

Nina yang melihat Rose kebingungan, langsung mengikutinya dari belakang.
“Rose”
Rose pun berhenti dan membalikkan badannya, mendapati Nina yang menghampirinya. Nina menetralkan detak jantungnya yang berderak cepat dan nafasnya yang tersenggal-senggal.
“Ada apa?”
“Kau pasti mencari Alex kan?” tanya Nina tepat sasaran. Rose menganggukkan kepala , menyetujui pertanyaan Rose.
“Tadi dia pergi tapi taku tidak tau kemana dia pergi.”
“Udah lama dia pergi?”
“Udah sekitar sepuluh menit yang lalu, tapi sampai sekarang belum kem-“ ucapan Nina terhenti melihat Alex menuju mereka.
“Mau ngapain disini? Ayo masuk.” ucap Alex sambil berjalan meninggalkan mereka. Nina dan Rose pun mengikutinya.


Bel sekolah berbunyi, surga dunia bagi murid telah tiba. Semua siswa berhamburan ke luar kelas. Ke delapan sahabat itu pun berjalan meninggalkan sekolah. Tiba di persimpangan jalan, Alex teringat akan kejadian yang dia lihat di salah satu rumah di kawasan komplek di dekat sekolah tadi pagi. Alex berhenti sebentar, memikir apa yang dia luhat tadi pagi apa itu benar atau tidak. Sosok aneh yang tadi pagi masuk ke dalam rumah itu, dan sekarang, Alex melihat orang yang sama masuk ke rumah itu dengan bawa tas. Orang yang menutup seluruh tubuhnya dengan jaket dan masker, menghalangiku untuk melihat dan mengetahui maksud dibalik sosok itu. Setelah sosok aneh itu masuk, datang 2 sosok preman yang menjaga di depan pintu rumah itu.

“Hoy.” teriak Skandar, Nina, Harry bersamaan.
Alex pun terkejut dan segera menarik mereka jauh dari rumah tersebut.
“Kau kenapa sih, tarik tanganku tiba-tiba.”
“Kalian itu berisik. Hampir saja ketahuan.” bisik Alex sambil mengamati sekitar. Takut para preman itu melihat mereka karena ketahuan menguntit.
“Emang kenapa?”
“Kau lihat Itu?” tunjuk Alex ke arah rumah itu. “Disana ada dua preman yang siap sedia menghabisi kita jika ketahuan mengintip.”
“Terus apa hubungannya?”

Alex pun menghembuskan nafas kasar, berusaha sabar menghadapi sahabatnya. “ Tadi pagi, aku pergi buat ambil alat praktikum yang ketinggalan di rumah. Terus aku lewat rumah ini. Aku lihat ada orang aneh masuk ke rumah kosong ini dengan pakaian tertutup serta wajah ditutup. Aku bingung ada apa dibalik rumah kosong itu.” Ucap Alex panjang lebar. “Dan sekarang aku lihat orang yang sama tadi pagi masuk ke rumah itu bawa tas.” Lanjutnya.


Skandar, Nina, dan Harry mengangguk setuju. Mengerti maksud pembicaraan Alex. Ketiga sahabat itu kembali menatap rumah kosong itu. D’an benar, ada keanehan dibalik rumah kosong itu. Karena mereka terlanjur ingin tahu, mereka pun masuk ke rumah itu dengan hati-hati.
Harry pun memulai aksinya. Dia mulai merekam perjalanannya di rumah kosong yang dia anggap “ekstrim” dan pantas untuk diabadikan. Harry mengeluarkan handy cam dan meletakkannya di balik jaket yang dia kenakan.
“Rumah kosong pun kau rekam?” tanya Skandar. Harry pun menganggukkan kepala. Ketiga temannnya pun menggelengkan kepala serentak, melihat kebiasaan Harry yang suka merekam perjalanannya itu terlihat aneh menurut mereka, bahkan merekam perjalan rumah kosong yang tidak ada keindahan sedikitpun di dalamnya.

“Aaaaaa” teriak Nina saat melihat tikus melintas di depannya. Sontak mereka semua panik dan segera membekap mulut Nina dan bersembunyi.

“Siapa itu?” teriak salah satu preman di rumah itu. Mereka berempat pun berlari namun ternyata Nina terjatuh . Alhasil Nina pun tertangkap oleh kedua preman dan mengarahkan pistol tepat ke arah pelipis Nina. Harry, Skandar dan Alex pun panik. Tanpa disadari kejadian yang sedang terjadi saat ini, terekam jelas dalam handy cam milik Harry. Mereka mencoba menolong Nina, tetapi karena mereka membawa senjata, mereka pun mundur perlahan-lahan dan mencoba menyusun rencana untuk membebaskan Nina.

“Please, help me. Help me..” teriak Nina histeris disertai tangisan yang tak kunjung berhenti.

Alex, Harry, dan Skandar pun menyerang kedua preman itu dengan sekuat tenaga, berbagai cara mereka lakukan untuk mengalahkan kedua preman itu namun sia-sia. Mereka pun menyerah dan memilih pergi. Sebelum itu Alex berpesan kepada Nina “Don’t be afraid. We will help you to get out from this house.” Setelah itu mereka pergi meninggalkan rumah itu. Teriakan minta tolong dan tangisannya menggema diseluruh penjuru ruangan.


Keesokan harinya, Alex, Harry, Rose, Skandar, Edward, Hanna dan Lucas menyusun rencana buat membebaskan Nina dari rumah kosong itu. Namun sesampainya disana, mereka tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Tidak ada seorangpun disana melainkan hanya rongsokan kursi patah yang sudah dilapisi debu.

Alex segera menelusuri lebih dalam ke arah ruang tengah. Skandar dan Harry pun melakukan hal yang sama namun berlainan arah. Skandar tetap pada ruangan itu namun ia tampaknya sedang mempertajam indranya saat menangkap ada jejak darah di lantai yang terbuat dari kayu itu. Sedangkan Harry ia melihat ke arah luar jendela memperhatikan keadaan sekitar.

Lumayan lama Alex menelusuri ruangan itu hingga akhirnya obsidiannya terarah pada sebuah kertas lusuh yang terletak di lantai tepat di depannya saat ini. Alex pun melihat isi kertas itu dan ternyata isinya pesan singkat.

“Gudang beras tua, 17 Agustus sebelum matahari terbenam.
Say goodbye to your friends if you don’t bring the country file.”

Alex merasa geram dan meremas kertas lusuh itu. Tiba-tiba hp nya berdering, notif pesan masuk ke hpnya. Alex pun melihatnya dan ternyata ada rekaman video yang dikirim oleh nomor misterius. Alex pun segera menekan video itu dengan rasa penasaran yang memuncak di kepalanya.

Hal pertama yang ia lihat saat video itu diputar didetik ke lima yaitu sepasang mata dengan manik hitam legam bagai langit malam. Wajahnya tidak dapat dikenali karena seluruh wajahnya ditutupi oleh masker hitam kecuali pada sepasang matanya. Sepasang mata tersebut menatap tajam ke arah kamera. Tidak ada kata-kata yang terucap dari orang itu melainkan hanya diam membisu menatap ke kamera dengan tatapan mengintimidasi.

Alex masih serius memperhatikan berputarnya video tersebut dan Skandar juga . Harry segera mendekat ke Alex karena penasaran tingkah Alex yang tidak menjawab sahutan mereka. Saat tiga pasang mata tersebut sudah fokus pada layar hp hal yang tidak diduga-duga sedikitpun terjadi.Sepersekian detik kemudian keringat meluncur begitu deras di sekujur tubuh Alex saat melihat Nina dengan wajahnya yang begitu mengerikan .

Pelipis kanan yang sudah banyak mengeluarkan cairan merah kental alias darah akibat luka robek yang cukup panjang. Rambutnya yang berantakan dan bibirnya robek. Tidak hanya itu kondisi matanya tidak kalah miris, mata sebelah kanan yang sudah membiru disertai bengkak yang membesar. Keadaan Nina yang begitu mengenaskan. Nina menangis meminta tolong agar bisa bebas dari sini.

Tak kuasa melihat kondisi Nina yang begitu mengkhawatirkan, mereka langsung menyusun strategi buat melepaskan Nina dari para preman itu.
“Mengapa harus Nina ditangkap? Apa salah Nina?” tanya Rose sambil menangis, tak menyangka bahwa sahabatnya dalam kondisi memprihatinkan. Hanna menenangkan Rose dan mengatakan Nina pasti baik-baik saja disana.
“Dokumen penting negara? Maksudnya apa? Dimana kita harus menemukan surat itu?” tanya Alex bingung.
“Setahu aku, yang memegang surat penting negara itu Mr. Stuard.” jawab Harry.
“Mr Stuard? Maksud mu kepala sekolah kita? Hubungannya apa coba? Kenapa preman itu meminta dokumen itu?” tanya Alex lagi. Keenam sahabat itu pun menggelengkan kepala, tidak tahu maksud tersirat dari preman ini. “Yasudah, kita ke rumah Mr. Stuard. Kita ceritakan semuanya dari awal sampai akhir.” jelas Edward.


“Begitu ceritanya sir.” ucap Alex mengakhiri ceritnya kepada Mr. Stuard. Mr. Stuard pun kaget dan setelah itu tersenyum tipis. Sontak tujuh bersahabat itu bingung, melihat reaksi Mr. Stuard yang aneh.

“Ternyata dia orangnya.” gumam Mr. Stuard namun masih terdengar jelas. “Maksud sir?” tanya Alex. Mr Stuard menggelengkan kepala. “Apakah kalian punya bukti? kita laporkan masalah ini ke polisi.” Mr. Stuard.

“Ini ada surat dari preman itu, dan ada video.” Alex sambil menyerahkan benda tersebut. Hrry pun menyerahkan Handy cam miliknya. “Saat pertama kali saya, Alex, Skandar dan Nina kesana, saya merekam semua kejadian dari awal sampai Nina tertangkap.” jelas Harry.
Mereka pun melihat rekaman video di Handy cam itu dan terlihat jelas Nina ditangkap oleh 2 preman. Mereka memindahkan bukti video itu dalam satu kartu memory. Lalu memanggil polisi.
Tidak lama kemudian polisi pun datang dan kami pun menceritakan kejadian dari awal sampai akhir dan menyerahkan semua bukti yang terkumpul tadi.

“Apa tujuan penjahat itu sebenarnya? Mengapa dia meminta dokumen penting negara? Dan mengapa teman saya yang jadi korbannya?” tanya Alex sopan. “Mungkin penjahat tersebut punya dendam kepada seseorang dan ingin menghancurkannya lewat dokumen ini. Banyak pencuri yang menginginkan surat itu , dan teman anda Nina menjadi sasaran agar keinginannya terwujud. Jangan sampai surat penting ini jatuh ke tangan orang lain, apalagi ke orang jahat. Negara ini akan hancur jika surat itu berada ditangan orang salah.” jawab polisi itu panjang lebar.

“Saya takut jika sahabat saya dibunuh jika polisi turun tangan dalam masalah ini.” ucap Rose.

“Saya akan pastikan sahabat kamu aman, kita harus susun strategi yang pas buat membebaskan temanmu dari penjahat itu.” ucap polisi menenangkan.
“Saya punya ide sir. Saya, beserta sahabat saya akan memberikan dokumen ini, disaat saya memberikan dokumen ini, saya langsung menyerang mereka, dan sir polisi langsung menyerang mereka. Gimana ?” tanya Alex
“Apa itu tidak terlalu berbahaya? Soalnya kamu langsung berhadapan langsung dan nyawa kamu jadi taruhannya.” ucap polisi. “Walaupun saya besok mati, tapi nyawa sahabat saya yang terpenting. Bagi saya, sahabat segalanya.” ucap Alex tegas. Semuanya terharu atas perkataan Alex. “Kami akan bantu kau Alex. Kau tidak sendiri. Kami sebagai sahabatmu akan membantumu.” Teriak mereka serempak. Mereka pun berpelukan.
“Selesai upacara kita langsung ke tempat disekapnya Nina. Saya akan ikut bersama kalian. Karena kalian itu tanggungg jawab saya.” ucap Mr. Stuard kepada kami.


Keesokan hariya, sesuai janji setelah upacara kemerdekaan berakhir, mereka langsung bergegas menuju gudang beras tua. Bersamaan dengan polisi, kami kembali menyusun strategi buat membebaskan Nina. Rose dan Hanna begitu senang karena hari ini dia akan membantu Nina lepas dari penjahat.
Setibanya digudang itu, Alex dkk beserta Mr.Stuard ikut masuk duluan. Para polisi menyebar ke penjuru ruangan. Satu polisi mengikuti mereka dari belakang, mengantisipasi ada serangan dadakan dari belakang. Saat mereka memeriksa seluruh ruangan, tiba-tiba ada suara teriakan perempuan yang berasal dari lantai atas. Dengan kecepatan penuh mereka berlari menuju sumber suara dan menemukan Nina dalam keadaan lebih mengerikan dari sebelumnya, diikat di sebuat tiang yang mulai patah di tepi lantai atas. Polisi langsung bersembunyi agar tidak ketahuan.
“Ninaaa.” Teriak Rose dan Hanna dan berlari menuju Nina namun preman itu langsung menodongkan pistol kearah mereka berdua. “Sekali lagi melangkah, dorrr... dia langsung tewas.” ancam preman itu menunjuk ke Nina dan menirukan gaya orang tertembak.


“Help me friends, help me..” pinta Nina lirih, Rose dan Hanna pun menangis dan mundur ke belakang. Tidak mau ambil resiko jika mereka nekad mendekati Nina.

“Serahkan dokumen negara itu dan, oooh, ternyata Mr. Stuard datang juga. Sudah kuduga anak ini pasti salah satu murid anda. Jadi saya tidak menangkap orang yang salah. Sekarang berikan dokumen itu atau Nina jadi taruhannya.” ucap seseorang dibalik kursi kebesarannya dan ternyata itu ketua dari preman itu. “Saya akan memberikan dokumen ini jika Nina dilepaskan.” Jawab Alex santai.

Orang itu menyuruh preman itu untuk melepaskan Nina dan membawanya di hadapan Alex. Alex melihat jelas begitu menderitanya Nina. “Anak ini sudah dihadapan kau, jadi serahkan dokumen ini sekarang juga.” suruh orang itu dan Alex mulai melakukan aksinya. Alex pun melempar dokumen itu ke temannya dan mulai menghajar para preman itu dan para polisi pun membantu mereka. Sementara Hanna dan Rose pun berusaha melepaskan Nina. Satu persatu preman berhasil dikalahkan. Disaat Alex melawan orang yang merupakan ketua dari preman itu, tiba-tiba salah satu preman itu bangkit dan menembak Alex dari belakang. Lucas yang meihat itu pun segera berlari kearah Alex, namun naas, Lucas kurang cepat hingga akhirnya Alex pun tertembak. Semuanya teriak histeris dan menuju Alex yang terkapar tak berdaya. Semuanya menangis dan berusaha menyemangati Alex agar tetap kuat menahan sakit. Mr. Stuard pun menghubungi ambulans dan polisi pun berhasil menangkap para preman beserta ketuanya.

“You must be strong Alex, please hang on for all of us.” Nina menangis disamping Alex yang terkapar tak berdaya, darah menghiasi baju mereka semua. Alex tersenyum lirih seraya memegang tangan Nina. “Sekalipun aku mati, asalkan sahabat aku bahagia. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan aku juga. Aku tidak mau dokumen itu jatuh ketangan orang jahat. Dan aku tidak mau melihat kamu menderita, Nina.” Ucap Alex pelan.
“Bertahanlah nak, saya bangga sama kamu. Mau mengorbankan nyawa kamu demi doumen negara ini dan demi sahabat kamu. Saya mohon bertahanlah.” ucap Mr. Stuard, menyemangati Alex agar tetap bertahan sampai ambulance datang.


Tidak lama kemudian, nafas Alex tersendat-sendat, dan akhirnya tidak bernafas lagi.Alex telah meninggal dunia, meninggalkan sahabat dan perjuangannya melepaskan Nina dari penjahat. Semuanya menangis histeris berteriak memanggil Alex agar sadar, namun tidak ada sahutan. Alex telah kembali ke Yang Maha Kuasa. Alex disebut pahlawan cilik yang patut dibanggakan. Di hari kemerdekaan ini, dia rela mempertaruhkan nyawa demi sahabat dan dokumen negara. Seluruh siswa di sekolahnya berkabung atas kepergian dirinya.

***Tamat***

 


Thessalonica Angelia Ambarita,merupakan mahasiswa aktif Fakultas Hukum, Universitas Lancang Kuning

« Sebelumnya
Tidak ditemukan Berita Sebelumnya!!!

Selanjutnya »
Tidak ditemukan Berita Selanjutnya!!!

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas