Kumpulan Puisi Muhammad Alamsyah
0 Komentar 103 pembaca
Foto Muhammad Alamsyah.

Kumpulan Puisi Muhammad Alamsyah

Puisi

ALAMKU BERKAH ILAHI

Bentang rimba dinyanyikan burung-burung pialing
Pucuk-pucuk pinus simpan gairah mentari di celah gemunung
Mengundang rindu melepas galau
Kujatuh cinta pesonanya melukis hijau

Gemercik air terjun dari lembah-lembah sunyi
Sambung nyawa ikan-ikan padi
Di tepi kali anak-anak lantungkan barzanji
Petik buah, tumbuh di tebing –tebing tinggi

Alamku berkah Ilahi
Kini tak sepermai dulu lagi
Sungai keruh mengalir sepanjang pandang
Air telaga meluap sepanjang padang
Sawah kuning, seolah lautan berkarang

Ini bukan musibah
Tapi bencana diundang serakah
Tanah, air bosan dillimpahi sampah
Udara racun, dari mesin –mesin ciptaan para alamah

Kemana lagi pelangi semesta melukis hujan ungu
Senja memburu rindu pada langit biru
Jika alam sudah kelabu
Tinggal menunggu Tuhan menghempasnya jadi abu

Pangkep, 24 Desember 2017


* Alamah : Orang pandai dan berilmu

 

ANAK- ANAK PUISI

Anak -anak puisi
Kian berlari mencari makna
Jalan telah dilalui
Seperti ombak pasang surut

Anak - anak puisi
Pulas diselimuti mimpi
Terawang masa lalu
Sikapi masa datang

Lalu pergi
Cari angin sepi
Cekam ilusi
Kembara seperti cinta berujung pedih


Anak -anak puisi
Bermain kasih sayang
Saling mengusap air mata tumpah ruah
Laksana hujan kikis nisan- nisan keramat

Selamat tinggal anak -anak puisi
Kutitipkan kau di panti tiada pantau
Karena jalanmu adalah hidupmu
Bermainlah dengan ambisi tergapai

Aku pergi
Menuju rahim kekosongan
Merenung
Memakna
Pun mengubur
Jejak kata ketika sila bersama
***

Pangkajekne ( Pangkep ) ,04 -08-2019

 

BUKAN PUISI

Bukankah kau tak ingin jika rumahmu dirubuhkan buldoser sang penguasa
Tapi mengapa kau tumbangkan pohon- pohon itu, merupakan rumah bagi barung -burung berkicau merdu

Bukankah kau tak mau jika kolam- kolam renang istanamu ditumpuki sampah kaleng - kaleng plastik
Tapi mengapa lautan tempat ikan- ikan berenang nikmati kebebasan hidup, kau racuni dengan limbah- limbah pabrik

Pasti kau tak ingin anak -anak perawanmu kehormatannya dijual dimana- mana
Tapi mengapa tempat - tempat prostitusi tetap dibiarkan beroperasi.

Aku yakin kau tak rela jika rindang halamanmu digersangkan laksana gurun pasir sepi
Tapi mengapa hutan digunduli jadi tambang-tambang serakah menguras kekayaan negeri
Aku yakin kau tak rela jika agamamu dicaci dan dikebiri
Tapi mengapa toleransi beragama diadudombakan seperti perang padri
Aku yakin kau tak rela ibu dari anak- anakmu disundali lelaki lain
Tapi mengapa kau nodai ibu pertiwi ini, menggandainya demi tahta penuh keotoriteran dan kemunafikan

Tak semestinya semua ini terjadi
Jika demokrasi dijunjung tinggi
Pancasila jadi perisai
Hak azazi manusia dihargai

Tak seharusnya bencana melanda
Jika alam ini dipelihara seperti anak kandung sendiri
Tak sepantasnya rakyat negeri ini menghujat
Jika negara adil menyantuni siapa miskin melarat

Ini bukan puisi atau halusinasi
Tapi catatan kecil semestinya dipamahami
***
Pangkep, 13 Ramadhan 2019/ 18 Mei 2019.

 


BUNGA ALANG- ALANG TELAGA

Aku adalah rindu berhamburan
Titisan dewa wujud kemesraan
Tumbuh jadi bunga alang- alang telaga
Dipetik siapa kehilangan kasih sayang dan luka-luka

Mentari mengelusnya jadilah jingga bunga petapa
Angin menempanya jadi aroma cinta
Hujan mengguyurnya menyatu airmata
Bersabda dalam memori siapa dicampakkan asmaraloka

Pitaloka
Petiklah bunga itu
Simpanlah di sudut kamarmu
Seperti engkau menyimpan rindu dalam laci- laci jiwamu
***
Bambu Runcing Pangkep, 05-08-2019

 

ILALANG TANPA JINGGA


Tetes biru airmata asoka lunaki waru mengering
Susup dalam embun bening yang hening
Sepucuk ilalang tersipu lenggok menari sepi
Biarlah rindu hanya dimiliki kemangi mewangi

Betapa sombongnya tulip dilambaikan musim
Anggrek melukis matahari dalam kolam bertepi melati
Rayu-rayu cinta rumput benggala semerbak aroma surga
Tapi lihatlah, sekali lagi ilalang membunuh rindu seperti sendu mendayu

Ilalang itu tak kan mati meski kemarau meracik dahaga
Ilalang itu subur meski hujan tak menyimpan bunyi
Ilalang itu tulang menjulang walaupun angin membadai
Tentulah masa memahamnya
Riang menggema dzikir memeluk jiwa tuhannya

Ilalang itu warna tanpa jingga
Tengadah ke langit Pencipta
Seperti air tanpa ambisi cinta
Membumi, bersaksi tentang hari melupakan senja

Salam pagi untukmu ilalang
Lagi – lagi sambut surya menerus renung
Percakapan kemarin adalah kebenaran tentang hidup masing-masing
Kau benar, separuh manusia itu kalbu terkunci
Kau belukar di temani angin sepoi
Dan kita, sahabat-sahabat padang, dicampakkan angkuhnya musim simpuhi bumi

Pangkep, 13 Januari 2018

 


MUHAMMAD ALAMSYAH. Lahir di Maros, 17 September 1985. Nama pena sosial media : Alamsyahdewa alam. Aktif menulis puisi, cerpen dan esai. Aktif dalam berbagai kegiatan seni- budaya. Lelaki yang akrab di sapa Alam, bergabung dalam beberapa komunitas seni sastra maya maupun nyata, dan bebagai komunitas seni rupa di Sulawesi Selatan. Karya sastranya telah banyak terbit di berbagai media cetak dan media online. Kecintaanya terhadap seni sastra tidak membuat bakatnya dalam seni rupa ( lukis) terlupakan. Giat cipta lukisan -lukisan eksperimental yang abstrak natural.

 

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas