KUMPULAN PUISI: JONI HENDRI
0 Komentar 104 pembaca
Ilutrasi diambil dari internet (Google).

KUMPULAN PUISI: JONI HENDRI

Puisi

Lukisan Lancang Kuning
Lukisan bergerak dari arah depan. Ia ingin menyihir pandangan,
aku lihat seperti perahu lancang kuning milikmu; Riau.

Ingin aku ceritakan padanya, tentang gadis Zubaedah.
Menangis di bawah itu. Mampu menerima hidup untuk pelayaran malam.

Bukan hal kesibukan, tetapi tentang perjalanan darah
dan anak dalam kandungan.

Pakaian perempuan jadi kain layar, terlihat robek berwarna kuning
dalam lukisan keramat itu.

Kuas bekas tangan pelukis adalah para pemabuk,
minum sepanjang nyawa, bertemankan roman lama.

Lalu hadir di novel
atau dari kisah lisan orang tua-tua.

Pelabuhan Batu, 2018
Catatan:
Puisi ini berangkat dari kisah sastra lisan orang tua-tua pesisir Kepulauan Riau.

 

 

Dongeng Tidur
Gelap matamu, bersama angin.
Dan bulan bersama bintangku.
Rambutmu bergoyang dalam kenangan,
luka menyimpan pilu.
Biar kupeluk tubuhmu.

“Ada mimpi jatuh di tempat tidur!”

Bangun, lalu berdoa-doa dalam kenangan.
Dongeng tidur, bermain dalam bantalku.
Mitos hilang dalam ingatan.

“Bangunlah!”
Pedih meraciknya, saat kita tidur berdua.
Saat maut mulai tiba.

Parit Melor, 2019

 


Hujan Kemboja
Hujan kemboja jatuh,
menghiasi tanah kuburan dan menyimpan kenangan.

Ada nasib yang diharapkan, dari pahala hidup
lalu mengambil amal dari kantong nyawa.

“Aku terlalu banyak dosa.” Bisik kepada Malaikat.

Hujan kemudian turun, bukan kemboja,
tubuhku basah, lemas, dingin atau pasrah.

Telah lama aku lupa, bahwa sering jahat kepada dunia.
Masjid sering terlewatkan, saat berangkat kerja.
“Aku menyesal setelah duduk di dalam kuburan.” Marah pada diri.

Lagi-lagi hujan kemboja,
lagi-lagi hujan yang membasakan tubuhku di dunia.

Kuburan Penyalai, 2018

 

 

Pajak
Ah!
Aku marah padamu.
Engkau pemakan daging busuk.
Pajak namamu, nanti pasti malu.

“Pajak bermain dalam urusanku!”
Kenapa tidak tahu makna diam.
Enam jam yang lalu, ada pagi menggigilkan jiwaku.
O, nasib hanya Tuhan, menyimpan rahasia_Nya.

Pajak bermain dalam motorku,
delapan ratus rupiah, upahmu.

“Sudahlah!”
“Neraka sudah menunggu.”

Ruang Hantu, 2020

 

 

Kepada, Adik Di Kampung
Lepaskan rindu kita pada pelukkan ibu, “adik.”
Cacatan tentang ayah, hapuskan. Air mata masa lalu
jadikan pembasuh luka kita.

Tahun itu, ibu hanya diam di ladang padi,
sambil menganyam jerami jadi pembalut perih.
Lalu menjahitkan nasib ke tubuh sendiri.

“Adik, jaga mak dalam doadoa malam.”

Ada benang berselimut dalam ingatan,
pasti akan teruraikan. “Kataku pada adik.”

Kita akan sampai pada nasib,
tentang keinginan ibu. “Pasti!”

Rumah Tua Aki, 2018


Joni Hendri merupakan mahasiswa aktif, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning.

 

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas