AZRIL
0 Komentar 71 pembaca
Gambar ilustrasi by google

AZRIL

Cerpen

Ketika aku larut dalam sinar matamu yang menatap lekat bola mataku, membuat peri-peri cinta menggodaku untuk tersenyum. Hari itu aku rasanya malu sekali, perasaan yang membawaku melayang-layang, jiwaku senyap seketika, aku terdiam dengan melihat bagian dari wajahmu yang memberi ketertarikan dari celah kedipan mata, bulu mata yang menjuntai halus dengan alis yang tebal memberi ruang pada dahimu untuk segeraku kecup. Sayangnya aku tak sempat memberi jabat perkenalan kita.

Aku biarkan waktu berlalu dan aku seduh hari-hari yang membisu, kebahagiaanku yang sunyi, tak perlu ada yang tahu sorakan riuh hatiku. Cukuplah dedaunan dan pepohonan saja yang melihat senyum sipuku ketika aku membuang malu. Kita memang tidak layak untuk mengenal dan jatuh cinta, namun jika cinta itu tumbuh pada tempat yang tak selayaknya tumbuh, mungkinkah itu takdir?

“Aku ingin sekali menyapa bunga di pagi hari, lalu menyiraminya dan mengajaknya bermain teka-teki, tapi sampai saat ini aku belum mampu mengenali jenis bunga yang ingin aku rawat sepanjang hari?”, sebuahsuara yang datang dari celah telingaku. Membuat pertanyaan di dalam hati, “Tak mungkinlah iya berkata layaknya arjuna yang sedang bermain di taman bunga, janganlah sampai aku bermimpi disaat terjaga, hanya karena sedang jatuh cinta”.

Aku menggelengkan kepala lalu berkata, “mungkin benar kata pujangga, cinta bisa membuat orang waras menjadi gila”, dan aku tersenyum sembari menatap dedaunan yang seringkali menggodaku ketika pipiku berwarna merah jambu.

“Azril”, sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari celah telinga menyodorkan jemarinya mengucapkan salam perkenalan padaku. “Luna”, jawabku. Dengan heran aku berpikir bahwa aku mendengar suara kumbang yang sering kali lewat di taman hatiku. Sedikit rasa kecewa bilaku tatap wajah yang berbeda di depan mata.

Semenjak hari itu Azril adalah satu-satunya teman yang sangat dekat denganku. Azril adalah seorang mahasiswa yang sangat pintar dalam hal agama. Sejak perkenalan dihari itu, Azril mengajarkanku banyak hal, yang biasanya aku sangat tidak peduli dengan persoalan agama, dan sibuk mengatur urusan dunia, pada akhinya Azril mencoba mengajarkanku tentang mengimbangi urusan dunia dan akhirat. Perkenalan aku dengan Azril karena satu acara organisasi yang menuntut kita tinggal satu asrama, setiap harinya Azril lah yang selalu menjadi orang yang sangat protektif dalam keseharianku, padahal kita baru kenal beberapa hari yang lalu.

Azril layaknya sahabat yang kenal sejak lama, ia langsung memahami segala kebutuhanku. Tak jarang Azril sering membuatku tersentuh ketika mendengar lantunan suaranya ketika ia membacakan ayat suci Al-Qur’an salah satunya adalah Surah Ar-Rahman. Saat itu kami sedang istirahat. Dia sangat suka mengaji saat lagi sendiri, sering kali aku diam terlebih dahulu baru menghampiri.

Aku seperti dikenalkan kepada seorang malaikat, ia begitu santun, didirinya ada kesejukan yang pasti terasa bagi setiap wanita yang melihatnya, dan ia sosok yang pemalu. Aku sangat mensyukurinya, karena Tuhan memberiku sahabat dan seketika membuka mataku tentang keindahan dunia yang sesungguhnya. Azril merupakan pria yang paket komplit menurutku. Selain bisa mengaji juga memiliki paras yang mempesona, tak heran jika sangat banyak wanita yang bertanya-tanya tentangnya.

Malam harinya setelah aku dan Azril pulang dari rumah makan, kita menuju asrama masing-masing. Aku masih duduk di luar sambil menghirup udara angin malam.

“hai..Luna”, suara itu datang dari belakang tempat dudukku. Ternyata itu adalah suara yang telah hilang dari hati semenjak Azril menghampiri, dan tiba-tiba tubuh ini bergetar kembali. Mulutku bungkam tak bisa berkata. Azril bilang aku adalah wanita yang terlalu banyak bicara tapi kali ini, aku benar-benar tidak mengerti bibirku terasa kaku dan sungguh hatiku terasa kesemutan, darahku mengalir ke arah yang sama, semua bergetar tak beraturan.

“Aku Alif, selama di acara organisasi ini kita tak sempat untuk menyapa”

Aku hanya hanya diam seribu kata. Ia berkata kembali kepadaku, “apakah aku mengganggumu?”

“ha, iya... eh maksudku tidak, kenapa kita tidak saling kenal, ya?”, tanyaku dengan rasa yang bercampur aduk. Lelaki itu tersenyum padaku, membuat kacau pikiranku.

“Kau sendri?”

“Iya, saya sendiri”

“Bagaimana dengan harimu selama di sini?”

“Aku sangat senang tinggal di sini” jawabku tersenyum.

“Apa karena ada pujaan hati?”, pertanyaan yang keluar dari mulut si Alif membuatku terkejut dan bingung.

“Maksudmu?”, tanyaku.

“Tidak apa, aku sering kali melihatmu berjalan bersama dengan seorang pujangga, barang kali itu bahasa yang tepat untuk lelaki seperti dia, baik, sopan dan santun dalam berbahasa, pandai merangkai kata yang seperti wanita minta, dan pastilah ia juga seorang yang pendusta, bukan?”, sebuah perkataan yang menikam telingaku, seolah memujuk jiwaku untuk melontarkan sebilah keris yang tajam dari lidahku padanya.

”Bila mana orang bisa menyusun kata, memang benar katamu ia bisa berdusta, namun keyakinan akan sosok pria yang kau juluki sebagai pujangga adalah pria yang selama ini memberiku banyak cerita. Beda halnya dengan seorang pria yang melintas dicelah mata, tak memberi ruang untuk bercerita. Jangankan berkata-kata, untuk menyapapun tidak ada. Padahal sudah jelas hari-harinya lewat di depan mata”, jawabku sembari tersenyum kearahnya, terlihat ia mulai membuang padangannya dari wajahku.

Perlu kau tahu, untuk setiap detiknya aku menjaga mataku, membiarkan ia bertapa di dalam rindu, aku bukan seorang pria yang bisa menahan sendu tapi aku bisa menahan hatiku”,  jawabnya sambil merunduk.

Malam semakin larut, sepi semakin berdesing ditelinga. Aku tidak tahu ingin berkata apa, hanya menatap wajahnya saja untuk membalas dendam rindu yang tertunda, ingin ku bisikan suara hatiku yang berteriak di dasar dada, bahwa cintaku harus keluar dengan getarnya. Setelah lama terdiam aku memutuskan untuk meninggalkannya dipekat malam, dan aku merasa bingung dengan pernyataan-pernyataan Alif di malam ini.

Pagi ini mentari menjemputku dengan cahayanya yang memburu masuk kecelah pintu, aku ingin keluar untuk lari pagi bersama Azril. Sudah hampir satu jam aku menunggu. Aku melihat Azril berlari terburu-buru di halaman itu, dan aku pun mulai mengambil sepatu lalu menutup pintu, dan tiba-tiba jemari yang menarik tanganku menuju ke arah pintu, memukul tubuhku.

Inilah mengapa aku membeci setiap kata-kata yang keluar dari mulut wanita, inilah mengapa aku membenci melihat paras wanita, kau pikir aku tidak tahu, kau berduaan dengan lelaki itu, walau aku bukan siapa-siapamu, layaknya aku yang menjadi penunggu di hatimu. Mengapa kau rela berjam-jam menemani dia untuk sekedar bertanya-tanya tentang hubungan kita”. Aku sama sekali tidak bisa bernafas karena leherku dicengkram dengan kedua tangan Azril, aku hanya tidak menduga bahwa Azril setega itu kepadaku.

“Kurang apakah ayahku, sehingga ditinggal ibuku, segala sesuatu dipenuhi tanpa ragu-ragu, tapi mengapa masih saja memutuskan untuk bercumbu dengan laki-laki yang tidak tahu malu, sama halnya sepertimu yang rela mendustaiku. Aku yang belajar menjadi sempurna untuk wanita yang biasa sepertimu, kurasa tidak sempurna, dan kau sama seperti pelacur di luar sana”, ucapnya.Aku menangis mendengar seruan dari seorang yang telah aku puja karena sifat dan kebaikannya, air mata yang mewakili kata, sungguh aku tidak pernah menyemai luka di hatinya.

hahaha..... Kau wanita jalang”, dengan tangan yang mengepal ingin menjatuhkannya diwajahku.

Seorang lelaki menyambut tangan Azril saat ingin menyentuh wajahku, ia adalah tukang kebun yang berkerja di halaman asrama ini, memang hari itu seluruh penghuni asrama pergi keluar untuk berolahraga, seperti biasa aku sering terlambat, namun hari ini memang berbeda, aku yang menunggu Azril karena terlambat menjemputku.

Lelaki tua itu terluka karena dipukul oleh Azril, aku tidak bisa meminta bantuan karena tubuhku juga sudah terkulai. Azril menuju ke arahku dan aku tidak hanya melihatnya dari sudut-sudut mata, Melihat seperti ada penyesalan dicelah mata yang mebuatnya begitu terluka.

“Kau ini kenapa, Azril?”, tanyaku pelan dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Maafkan aku”, jawabnya dan itu merupakan suara sebuah penyesalan dari Azril.

Aku membantunya berdiri dan tiba-tiba tanpa kami baru menyadari sudah begitu banyak orang dihadapan kami. Azril pun dibawa warga untuk diamankan. Sementara itu aku melihat tukang kebun itu masih terbaring dengan beberapa luka di tubuhnya. Aku meminta tolong pada beberapa orang di sana untuk membawa tukang kebun itu ke rumah sakit. Dan setelah kejadian itu aku baru mengetahui bahwa Azril memiliki trauma dimasa lalunya hingga sekarang.

Azril terlahir dari kelurga yang sangat kaya namun keluarganya hancur karena semenjak ibunya pergi meninggalkan dia dan juga ayahnya. Sejak itu pula ayahnya menikah lagi, sedari kecil ibu tirinya sering kali memukulnya dan ayahnya hanya melihat dengan begitu saja tidak peduli apa yang perempuan itu lakukan kepadanya, dan tak jarak saat ibu tirinya sedang marah kepada ayahnya.  Azril menjadi korban pelampiasan amarahnya, dan karena itu juga Azril sangat sulit untuk dekat dan berkenalan dengan wanita. Dia berpikir bahwa sosok wanitalah yang membuatnya kehilangan kasih sayang.

 

Juliana (Jo) merupakan mahasiswi jurusan Sastra Daerah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning.           

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas