Mengkritisi Negeri Melalui Pementasan Teater
0 Komentar 172 pembaca
Seorang aktris mendodoi anaknya dalam garapan KABUT karya dan sutradara Rizka Afriani

Mengkritisi Negeri Melalui Pementasan Teater

Buah Pikir

Tabloidtanjak.com-Unilak Karya seni tidak hanya sebuah tontonan hiburan belaka tetapi dibalik karya seni juga terdapat komunikasi-komunikasi baik itu secara lisan maupun bentuk rupa atau simbol-simbol yang bermakna. Dalam pergelaran teater kita dapat melihat pada setiap pementasan tentunya tidak terlepas dari unsur-unsur kritik sosial, simbol-simbol, dan lain sebagainya. Kepekaan dalam karya seni sangat dibutuhkan oleh seniman, sehingga kita dapat menyadari dan juga peduli dengan lingkungan atau keadaan di negeri kita.

Dari ulasan tersebut di atas, telah dibentang dalam 2 karya pertunjukan teater dari UKM Syrih Unilak dan Komunitas Ruang Bermain yang dilaksanakan pada malam tadi (28/12/2019) di Rusunawa Unilak. Dalam pertunjukan teater yang disuguhkan oleh mahasiswa UKM Syrih dengan judul “Tung Todak” karya dan sutradara Rendy Cekah bercerita tentang sebuah permainan “jungkat-jungkit” yang mana mengingatkan kembali pada kita kilas balik cerita dimasa kecil. Sutradara membalut cerita dari permainan masa kecil ini dengan sebuah hal mistis. Dengan suasana lampu yang temaram yang mendukung suasana mistis cerita dan nyanyian seorang pemain. Dalam dialog pemain yang juga ada sesuatu menceletuk kritik sosial tetapi kurang tergarap dengan rapi serta konflik yang dihadirkan tidak terlalu kuat. Pengantar kemunculan para pemain yang masih cukup kurang terjalin akrab dan kurangnya artikulasi pada beberapa aktor. Walau begitu, sutradara ini telah mampu menghipnotis penonton dalam kenangan dan juga celetuk-celetuk komedi dimasa kecil yang membuat penonton terasa terhibur dan penuh gelak tawa.

Selepas pementasan Tung Todak, para penonton digiring keluar dari Aula Rusunawa. Pementasan yang kedua dari Komunitas Ruang Bermain dengan judul pementasannya “Kabut” karya dan sutradara Rizka Afriani. Pada garapan yang bersetting 5 drum besar telah ditempati para aktor/aktris. Dalam garapan ini banyak mengadirkan simbol-simbol yang membuat para penonton menalarkan imajinasinya dalam cerita yang disuguhkan oleh Rizka. Kegaduhan-kegaduhan bunyi dari tong-tong besar, dan sebuah bunyi seng yang dimainkan oleh seorang aktor suatu bentuk konflik yang dialami negeri kita beberapa bulan lalu. Dalam pementasan ini juga kembali mengingatkan kita “Musim Asap” beberapa bulan yang lalu dan ini tidak terjadi ditahun ini saja, tetapi sudah terjadi dari tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa simbol-simbol belum dapat ditafsirkan pada kabut. Menariknya dalam konsep yang dibungkus sang sutradara “nakal” ini adalah ketika konflikh yang dihadirkan lalu dipatahkan dengan musik-musik dangdut, metal, pop. Mungkin saja ini suatu bagian dari gambaran segelintir masyarakat atau “para pedasi” yang acuh tak acuh pada bencana asap ini. Pada akhir cerita ditutup dengan seorang ibu yang mendodoikan anaknya dalam suasana kepulan asap-asap dari luar panggung.

Sekian beberapa ulasan-ulasan dari 2 pementasan yang juga dirangkum dari sesi-sesi diskusi selepas pementasan malam tadi yang begitu menghibur dan juga mengkritik, serta kembali mengingatkan kita betapa sebuah karya seni yang dihadirkan tidak luput dari lingkungan yang ada disekitar kita. Kembali kepada kita ‘pekakah’ kita pada keadaan disekitar kita? Mari terus berproses dan berproses untuk menjangkau sesuatu yang ‘menjadi’. Sebuah karya tidak akan hadir bila tidak melalui sebuah proses yang panjang.

 

Eric F. Junior merupakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unilak semester 5.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas