Wanita Peneman Sepi
0 Komentar 104 pembaca
Sumber google

Wanita Peneman Sepi

Cerpen

“Saat aku membuka mata, semua kenyataan itu adalah benar.”

Aku menatap layar komputerku dengan serius, ingin rasanya aku segera menyelesaikan pekerjaan hari ini dan segera kembali ke rumah. Merasakan empuknya tempat tidurku, merasakan hangatnya selimut serta nyamannya bantal dan gulingku.
“Kerja hingga tengah malam begini, tidak ada gunanya. Yang ada malah bikin sakit, dan semua pekerjaan terbengkalai.”
Rian sudah membereskan mejanya, pertanda pekerjaannya hari ini telah selesai.
“Kita ini hanya karyawan honor tanpa kontrak, yang kapan saja bisa dipecat. Jadi, mau – tidak mau memang harus mau, kan?”

Rian akhirnya pergi meninggalkanku. Tapi rasanya cukup menyeramkan berada di gedung berlantai 10 seorang diri. Malam selalu gelap gulita, cahaya senter yang keluar dari hp menjadi penerang langkahku saat menuju rumah. Langkahku berhenti tepat di depan pintu rumahku, aku menoleh ke arah kanan. Terlihat samar – samar seseorang yang tengah duduk di bangku panjang yang bercatkan oranye, di ujung jalan. Sepertinya ia wanita, terlihat dari rambutnya yang terurai panjang.
“Apa yang di lakukannya di tengah malam seperti ini? di tempat gelap itu.”
Gumamku, dan jam tanganku menunjukan pukul 01.23 WIB. Merasa tak penting dan tak ingin mencari tahu, akupun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah begitu saja.

Sepertinya waktu tak mengizinkan aku untuk sejenak beristirahat. Selamat pagi kembali matahari. Aku tersentak saat baru saja memegang gagang pintu yang baru saja aku tarik, terlihat kerumunan orang – orang yang tampak panik di sekitar rumahku. Semua pandangan fokus pada bangku panjang di ujung jalan yang bercatkan oranye. Eh ternyata warnanya bukan oranye, tetapi merah darah. Mungkin tadi malam warnanya tampak oranye karena pantulan cahaya lampu jalan. Aku bertanya pada kerumunan itu,
“Ada apa?”
“Ditemukannya mayat seorang wanita, yang mati tadi malam. Sepertinya korban pembunuhan.”

Kata – kata itu seperti petir yang menyambar di tengah teriknya matahari. Benar – benar membuat aku syok saat mendengarnya. Apakah wanita tadi malam yang duduk di bangku itu adalah sang korban? Apakah ia duduk disana karena sudah tak bernyawa lagi? Kenapa aku tak cukup berani untuk menghampiri di malam terakhirnya? Jika saja aku memberanikan diri untuk setidaknya sedikit mendekat, memastikan situasi di bangku itu, mungkin saja dapat menyelamatkannya? Aku laki – laki pengecut, bahkan hingga sekarang rambut panjangnya mesih menjadi penghias ladang memoriku.
“Apa kau yang bernama Pandu Surya?”
Tiba – tiba saja suara seorang pria membuyarkan lamunanku, pria yang berseragam lengkap seperti seorang polisi ini menghampiriku. Aku menatapnya sejenak, dan sedikit menganggukkan kepala. Ia mengeluarkan sebuah benda yang tampak tak asing, sepertinya aku sering melihat benda itu di film – film kriminal, sebuah besi yang bermata dua melingkar di kedua lenganku. Polisi itu membuat semua mata yang ada disana menatap kearahku, beberapa orang yang berdiri di dekatku memilih untuk menjauh. Aku terdiam, mematung.
“Pandu Surya, kau diduga melakukan pembunuhan terhadap wanita yang berinisial L.”
Begitu penjelasan dari polisi ini, begitu saja. Dan mereka membawaku pergi untuk diintrogasi.

Orang yang mereka sebut Detektif ini, membentak dan memakiku. Aku bahkan belum mencerna tentang situasi pagi ini, dan tak tahu apapun tentang kasus ini.
“Air kental berwarna merah bercucuran dibagian – bagian tubuhnya, wajahnya bersimbah darah, nafasnya tertahan. Ia sudah terlalu lelah untuk berlari lagi, hingga ia duduk di bangku itu seorang diri, ia sudah terlalu sakit menahan tubuhnya yang penuh dengan luka tusukkan. Benda – benda tajam yang kau tancapkan di seluruh tubuhnya, perutnya, kakinya, tangannya, hingga ia tak bernyawa lagi. Itulah yang kau lakukan padanya tiga hari yang lalu.”

Begitu perkataan sang detektif yang terngiang dibenakku. Setelah berdiam diri selama beberapa menit, akhirnya ingatan itu kembali. Ingatan yang membuat aku tersadar dan kembali kekenyataan yang sesungguhnya,
“Ah. Wanita itu telah mati, ia tidak akan kembali ke tempat dirinya mati.”
Aku menyeringai. Tentu saja senyuman itu telah menjelaskan semuanya, tentang apa yang dikatakan oleh pria yang berdiri di depanku ini.
"Dasar, psikopat"
Aku mengakuinya. Semua itu benar, aku telah menancapkan pisau itu kembali ke sang pemiliknya.
“Wanita bernama Lia itu, ia telah mati sejak tiga hari yang lalu, dan kau adalah tersangkanya. Bukankah dia adalah atasanmu, yang selalu menuntut dan memaksamu melakukan semua yang dia perintahkan? Merasa kesal hingga kau memutuskan untuk membunuhnya? Begitu?”
Dia masih membentakku.

Aku hanya mengembalikan “Pisau” yang dia tancapkan ke hatiku. Semua perkataanya selama ini bagaikan benda tajam yang telah menyayat – nyayat jiwaku, nuraniku dan hatiku.
“ ‘Bodoh, tidak tahu diri, tidak tahu malu. Kau hanya seekor kecoak yang menjelma menjadi manusia. Menjijikkan.’ Itu yang selalu dia katakan kepadaku selama aku bekerja untuknya.”

Mataku panas, pupilnya membesar. Hatiku sesak menahan semua amarah ini. Wanita itu pantas menerima semua siksaan dan kesengsaraan itu. Di malam yang dingin, aku biarkan darahnya membeku, aku biarkan bulan menertawakan jasadnya yang dibalut darah, aku biarkan belatung – belatung itu menikmati santapannya, hingga merekapun mati bersamanya.
“Dan apa kau tahu? ‘Dia’ yang menciptakan ‘monster’ sepertiku, merencanakan pembunuhan ini, dia yang mengatur semuanya dan menjadikan aku sebagai pisaunya.”
Aku kembali tersenyum, mencoba meyakinkannya tentang suatu kebenaran yang hanya diketahui oleh diriku sendiri.
“ ‘Dia’? Siapa?”
Detektif ini tampak ingin tahu, walaupun ia mengelak. Wajah marah itu tak luntur sedikitpun darinya.
“ ‘Dia’………… Sang Penulis, percayalah dia adalah pembunuh yang sebenarnya.”
(Selesai)

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas