Kumpulan Puisi: Muhammad Irsyad Hambal
0 Komentar 302 pembaca
Foto Muhammad Irsyad Hambali.

Kumpulan Puisi: Muhammad Irsyad Hambal

Puisi

Mengutuk Waktu
Waktu membunuh anak-anak langit
Menebas bintang-gemintang
Belati kami siapkan untuk mengutuk waktu
Disaat kutakik selalu percintaanmu dan waktu
Rembulan menghempaskan cahaya di lajunya gelombang lautan

Waktu kami kutuk
Waktu kami ceraikan dari kehidupan
Bahteramu telah kami robohkan dari sisa penyiksaan

Desember, 2019


Membunuh Doa-Doa
Petir menyambar gulungan sajadah doa
Telah disiapkan ribuan pendoa
Membunuh doa-doa
Lentik tangis membuat huru-hara
Sudah waktunya sejarah berubah

Desember, 2019


Lima Puluh Ribu Anak Duka
Lima puluh Ribu anak duka seakan kau mati bergaram, atau manikam
atau anak puisi yang dikobarkan nyala api
Aku mencintaimu seakan bayang-bayang waktu berani menikamku dari arah belakang

Anak duka telah mati dibaptis
Tangannya diikat
Tubuhnya dibulubamkan dengan besi batangan
Wajahnya diraut-raut hitam arang

Selain itu: di mana anak duka akan ada, kita semua tiada
Begitu cepat menjemput tidurmu
Dimana lagi tempat kami akan sembahyang?

Desember, 2019


Gubuk-Gubuk di Selatan
Engkau datang dari kemiskinan dari gubuk-gubuk di selatan
dari muara pantai yang ganas dan panas
yang membakar badan kita–setelah dewa-dewi itu terjungkal
ke dalam pembaringan malam

Kau air mata berjalan ke timur dan barat menghabisi cahaya senja
ribuan kilo meter mata senja menguap-nguap di dataran pasir pantai–gelombang terus menderu-deru

Gadis kecilku, paru-paru kemiskinan berada dalam dirimu
kakimu terbiasa mengasah batu-batu
rambutmu terurai seolah tubuhmu masih perawan
Lautan terbiasa memperkosa tubuhmu

Dari selatan dilihatnya sampan-sampan, ia datang dengan ikan-ikan
nelayan selalu diserbu gelombang sejak langit mulai petang
Desember, 2019


Di Trenggalek, Kehidupan
Di Trenggalek Kehidupan selalu mengawasi. Cahaya dari kehidupan nelayan-nelayan tak terkeringkan, air laut pun tak mampu menghempasnya, kemarau tak dapat mengeringkannya dari pelayaran ke samudra.
Tiga puluh ribu terjungkal. Tantra nama nelayan-nelayan itu. Sejak itu ikan-ikan, pasir lautan dan pohon cengkih tak berasa darah.
Desember, 2019


Biodata:
Muhammad Irsyad Hambali, lahir di Kediri, 11 Maret 2001 dan sekarang tinggal di Trenggalek, Tahun 2019 ia telah menyelesaikan jenjang pendidikan atas di MAN 2 Trenggalek. Hobi membaca, menulis, membuat puisi, cerpen dll. Ia pernah bergabung di QLC Trenggalek, QLC cabang Panggul, Studi Kerohanian Islam, Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan COMPETER (Komunitas Pena Terbang). Puisinya pernah dimuat di Republika, Litera dan Travesia. Email: anterojagat45@gmailcom

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas