Membongkar Semiotik Di Cerpen "Dua Sudut Pandang Tentang Pohon Rezeki" Karya S. Prasetyo Utomo
0 Komentar 209 pembaca
Gambar dari Google

Membongkar Semiotik Di Cerpen "Dua Sudut Pandang Tentang Pohon Rezeki" Karya S. Prasetyo Utomo

Telaah

Semiotika atau ilmu ketandaan adalah studi tentang tanda-tanda dan proses tanda (semiosis), indikasi, penunjukan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna, dan komunikasi.

Dalam cerpen “Dua Sudut Pandang Tentang Pohon Rezeki” karya Prasetyo Utomo unsur semiotika sangat kental. Prasetyo menggunakan dua tokoh utama bernama Suman dan Gani yang hidup dalam dunia yang sama, namun tak saling mengenal. Kedua tokoh ini juga mengalami kehilangan yang membuat keduanya merasa sangat bersedih, namun mencoba menghadapinya dengan cara yang sama: menemui Eyang Sukmo.

Suman datang menemui Eyang Sukmo setelah istrinya meninggal. Dia datang ke padepokan Eyang Sukmo untuk mencari ketenangan dan kedamaian, sekalian untuk melihat pohon-pohon rezeki yang selalu dipercayainya dapat mencerminkan kondisi keuangan dia saat ini. Ketika dia datang, pohon itu telah ranggas—meski nyatanya kondisi keuangan Suman terbilang sangat baik dan kecukupan.

Sementara Gani, yang juga kehilangan istri yang dia cintai, selalu menemui Eyang Sukmo di lereng Gunung Lawu hanya untuk mengantarkan topeng-topeng yang sudah ia pahat sendiri. Gani merasa puas jika topeng itu disukai oleh Eyang Sukmo, dan akan belajar membuat topeng yang lebih baik lagi jika ternyata Eyang Sukmo tidak menyukainya.

Di akhir cerita, akhirnya kita mengetahui perbedaan paling mendasar di antara dua tokoh ini. Ketika Gani melihat ke arah pohon rezeki, dia melihat pohon itu tumbuh sumbur. Kolam dan bunga-bunga di sekitar pohon rezeki juga tampak terisi dan subur.

Menurut saya, cerita ini bernuansa religius. Karena Suman dan Gani ibarat dua manusia yang sama-sama mengalami masalah, dan mereka mendatangi Eyang Sukmo untuk mencari ketenangan. Eyang Sukmo yang tinggal di lereng gunung yang hanya bisa dicapai dengan kendaraan ibarat sebuah kekhusyukan ibadah yang sulit dicapai dan butuh ‘perantara’ hati yang tergerak oleh niat.

Pohon rezeki menggambarkan pandangan manusia dan rasa syukur mereka. Suman memiliki harta yang banyak, namun dia merasa kurang puas dan justru bersedih. Sementara Gani yang memiliki harta sedang justru selalu bahagia dan bersyukur.

Dalam ending cerita dikatakan Gani dan Suman ternyata memiliki istri yang sama. Istri Suman yang dikatakan meninggal, sebenarnya adalah mantan istri Gani yang menceraikannya agar bisa hidup bersama Suman yang lebih mapan dan kaya, berbeda dengan Gani yang bekerja hanya sebagai pekerja seni berpenghasilan sedikit. Dengan wanita yang sama, Gani memiliki seorang anak gadis perempuan yang akan segera menikah. Dan Suman memiliki dua anak yang masih kecil dan diurus pengurus rumah. Namun keduanya yang sebenarnya mengalami penderitaan yang sama oleh wanita yang sama memiliki respon emosi yang berbeda.

Suman lebih senang meringkuk dalam kesedihannya, tanpa rasa syukur akan semua harta dan anak-anak yang dia miliki. Suman pun jarang menemui Eyang Sukmo. Sementara Gani justru selalu ke tempat Eyang Sukmo menyerahkan topeng, yang menurut saya, berarti sebuah perasaan. Semua kegelisahan, semua kebahagiaan, Gani ibarat manusia yang membagi emosinya dengan yang maha kuasa. Ia selalu menyerahkan topeng itu rutin, untuk mendapat ketenangan hati. Sehingga, hatinya selalu damai dan tentram, dan dia mensyukuri kehidupan yang dia miliki. Gani perwujudan manusia yang selalu bersandar ke pada Tuhannya, sementara Suman perwujudan manusia modern yang mudah depresi karena jauh dari Tuhannya.

 

Zulvanny Fatwa Firmananda merupakan mahasiswi semester 3 (non-reguler) jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas