Eksistensialisme Jean Paul Sartre: Menumbuhkan Rasa Percaya Diri dan Kemandirian
0 Komentar 115 pembaca
Jean-Paul Sartre

Eksistensialisme Jean Paul Sartre: Menumbuhkan Rasa Percaya Diri dan Kemandirian

Buah Pikir

Jean Paul Sartre, seorang tokoh transisi antara zaman modern ke zaman post modern. Sartre merupakan seorang filosof eksistensialis berkebangsaan Prancis, yang menikmati hidup selama 75 tahun (1905-1980). Cara berpikir kritis, radikal, dan agak nyeleneh ini menjadi daya tarik tersendiri dari aliran yang ia beri nama Eksistensialisme. Tidak hanya sebagai filosof, Sartre juga menulis karya sastra dan kritikus drama. Ia pernah ikut beperang, dan dipenjara oleh Nazi. Pada saat di penjara inilah Sartre mulai mempelajari tulisan-tulisan Martin Heidegger yang kelak menjadi inspirasi baginya.

Pada saat pemakamannya, sekitar 50.000 lebih orang-orang ikut mengiringi jenazahnya, padahal gaya hidup Sartre tidak terlalu merakyat dan ia juga merupakan orang dari kalangan borjuis. Gaya berpikir yang sinis dan nyinyir terhadap realitas, tapi disitulah letak keistimewaanya. Pemikiran Sartre begitu membangkitkan rasa percaya diri, dan mandiri bagi orang-orang yang bersentuhan denganya.

Eksistensi

Fokus pada gagasan Sartre bertitik tolak pada pandangannya, tentang kebebasan manusia, ia menolak meredupsi manusia pada konsep-konsep atau hakikat esensi yang sudah ditentukan pada awal penciptaan manusia. Menurut Sartre, fokus manusia ada pada eksistensinya, dari eksistensi inilah manusia mulai mengukir esensinya sebagai manusia. Jadi manusia itu semata-mata apa yang dibentuk oleh dirinya sendiri.

Sedangkan padangan Sartre tentang esensi manusia, adalah suatu kekosongan, berbeda dengan sesuatu yang berada di luar manusia yang telah penuh dengan esensinya masing-masing. Semua yang disekeliling manusia telah jelas dan bisa ditebak, kecuali manusia yang bergelut dengan kehidupannya. Contoh sederhananya, jika tulisan ini dipublikasikan sudah bisa ditebak pastilah ada yang akan membaca, akan tetapi reaksi setiap orang yang membaca ini akan berbeda-beda.

Faktisitas

Dalam menjalankan eksistensinya sebagai manusia, seseorang dihadapkan dengan yang namanya Faktisitas, yang merupakan wadah hidup yang tidak bisa dihindari atau dalam bahasa lain realistas hidup. Keterlemparan seseorang dalam realitas ini mau tidak mau harus dihadapi, entah itu dengan cara mengakali, dilupakan, dialihkan, ataupun dimanipulasi. Kebebasan yang dimiliki oleh manusia, selalu terhalangi oleh yang namanya faktisitas. Menurut pandangan Sartre terdapat beberapa bentuk faktisitas diantaranya yaitu, kehadiran orang lain, kematian, waktu,  dan lingkungan.

Kesadaran

Untuk mengeksiskan dirinya, manusia dibekali dengan kesadaran, satu-satunya makhluk yang menyadari ke-dirian-nya hanyalah manusia. Berbeda dengan segala sesuatu yang berada di luar manusia, yang tidak sadar akan dirinya. Seperti halnya dengan hewan, mereka hanya mengikuti insting hewaniah yang ada pada dirinya, tak dapat terbayangkan jika hewan menyadari kehewanannya, tentu hewan-hewan yang dagingnya dieksploitasi oleh manusia akan merancang pemberontakan terhadap manusia. Kehadiran segala sesuatu yang berada di luar manusia, membantu manusia untuk menyadarkan dirinya.

Sartre membedakan kesadaran menjadi dua macam yaitu:

  1. Kesadaran pra-reflektif merupakan kesadaran yang langsung terarah pada objek tanpa ada usaha untuk merefleksikannya dan tidak disadari oleh subjek, lalu subjek tidak sengaja memberi perhatian pada objek dan proses kesadarannya. Seperti para pembaca yang sedang membaca tulisan ini, secara tidak sengaja menaruh perhatian pada tulisan ini. Jika manusia hanya ada pada tingkat ini, seseorang akan menjalani hidup yang monoton dan rasional, akan tetapi tidak mengalami peningkatan kualitas hidup.
  2. Kesadaran reflektif adalah sebuah kesadaran yang membuat kesadaran yang tidak disadari menjadi disadari. Dalam kesadaran reflektif subjek merefleksikan apa yang disadarinya, atau lebih sederhananya berpikir ulang, merenung, dan berkontemplasi. Kesadaran inilah yang dimiliki oleh seseorang yang berjiwa filosofis, yang mana ia merefleksikan peristiwa yang telah berlalu untuk merancang skenario hidup untuk menuju anak tangga eksistensi yang selanjutnya guna memperbaiki kualitas hidup.

Dari dua jenis kesadaran ini, terdapat istilah yang terkenal dari Sartre yaitu:  Etre-en-soi (Ada-Untuk-Diri) dan Etre-pour-soi (Ada-Bagi-Diri).

Etre-en-soi (Being in it self)adalah sesuatu yang telah ada dalam dirinya, di dalamnya telah terdapat kodrat dari awal mula penciptaan, identik dengan dirinya, tidak aktif, tidak positif, tidak negatif, dan tidak afirmatif. Ada yang tidak sadar, sehingga tidak mampu memberi makna pada eksistensinya, seperti benda-benda dan seluruh yang berada di luar manusia.

Sedangkan Etre-pour-soi (Being for itself)adalah ada yang bekesadaran dan “kosong” sehingga banyak “celah” dalam dirinya untuk “menjadi”. Dalam pandangan Sartre inilah yang menjadi tujuan manusia, memberi makna pada dirinya dengan mengeksiskan diri menghadapi dunia.

Dalam kondisi yang “kosong” manusia memiliki kebebasan mutlak atas dirinya. Namun tidak cukup sampai disitu, menurut Sartre kebebasan didasarkan pada pilihan, kegelisahan dalam memilih tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain, setiap situasi adalah kesempatan untuk diambil atau diabaikan. Jadi setiap situasi memaksa kita untuk memilih.

Dalam megambil sebuah pilihan, terkadang kita berhadapan dengan orang lain. Disini muncul istilah dari Sartre, yaitu “Orang lain adalah neraka”. Kehadiran orang lain membuat seseorang menjadi mempertimbangkan kebebasannya, dan untuk menjaga kondisi tetap kondusif, seseorang harus mencocokannya dengan kehendak orang lain. Kondisi ini membuat Sartre menjadi mual (La nause). Penajisan orang lain sebagai neraka, dikarenakan eksistensinya yang selalu mengobjekan diri kita. Hal tersebut dapat terjadi, mengingat aspek kehidupan being for itselfyang dimiliki pula oleh individu lain layaknya diri kita, sehinga membentuk penilaian atau menstrukturkan diri kita.

Dalam hidup, terkadang seseorang yang memiliki kecemesan jiwa tak mampu memilih suatu kondisi yang dihadapinya, akibatnya ia tenggelam dalam kerumunan dan tidak menambah nilai, hanya menambah jumlah. Menurut Sartre hal ini disebut Bad Faith,yaitu suatu kondisi seseorang memperlakukan dirinya pada sesuatu yang lebih besar darinya sehingga ia melupakan kesadaran dirinya.

Pada bagian akhir ini, akan dijelaskan konsep Sartre tentang cinta. Rumusan-rumusan cinta itu agung, cinta itu suci, cinta itu tulus, hanya akan mendapat cibiran dari Sartre. Cinta pertemuan dua subjek yang berbeda. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa, setiap relasi antar manusia adalah konflik dan itu tetap terjadi dalam dunia percintaan. Saling menegaskan terus-menerus, karena seorang manusia menjadi subjek atas dirinya dan objek bagi orang lain. Oleh karena itu, satu dengan yang lainnya berusaha untuk memasukan orang lain dalam pusat dunianya. Setiap perjumpaan dan komunikasi dengan orang lain, merupakan ancaman bagi eksistensinya.

Jatuh cinta, merupakan suatu kegagalan seseorang dalam mempertahankan subjektivitas dirinya, sekaligus kebebasanya direbut oleh orang yang dicintainya, begitupun sebaliknya. Ketika seseorang mencintai orang lain, maka ia mau mencintai pasangannya dengan kemerdekaan penuh, sementara ia tidak menghendaki agar orang yang dicintainya itu mempunyai kemerdekaan. Karena peristiwa saling mengobjekkan tersebut, kedua subjek menjadi lebur. Menurut Sartre, dalam cinta satu tambah satu sama dengan satu.

 

Alpino merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unilak jurusan Sastra Indonesia.

« Sebelumnya
Tidak ditemukan Berita Sebelumnya!!!

Selanjutnya »
Tidak ditemukan Berita Selanjutnya!!!

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas