Surat Untuk Nirmala Oleh: Dirga Putri
0 Komentar 68 pembaca
Foto Malioboro oleh Dirga Putri.

Surat Untuk Nirmala Oleh: Dirga Putri

Cerpen

Hy La, masih ingat dengan diriku? Yah, aku sosok yang kau rindukan. Hari ini akan aku ceritakan perjalananku setelah aku meninggalkanmu. Eh, tapi kau jangan marah dulu, jangan dulu kau emosi, jangan kau banting dulu benda yang ada di sampingmu itu. Karena ceritaku ini akan membuatmu semakin merindukanku, hingga kau mungkin rela mendaki seribu gunung, menyelami seribu lautan dan melintasi semak berduri, hanya untuk bertemu denganku. Boleh aku mulai menceritakannya La? Tentu.

Waktu itu La, tanggal 1 November aku menatap langit untuk pertama kalinya, setelah aku putuskan untuk pergi dari sisimu. Langit hari itu cerah, sepertinya ia setuju dengan keputusanku, sepertinya ia mendukungku. Saat itu aku tak terpikir tentang dirimu, bahkan sedetikpun tak terlintas bayanganmu. Apa sekarang kau merasa bahwa aku adalah pria brengsek? Pria yang patut kau habisi detik ini juga? Percayalah padaku La, pikiran itu hanya akan membuatmu bertambah cinta kepadaku.

Lalu La, aku melanjutkan perjalananku dari bandara Adisutjipto menuju ke tempatku bernaung selama aku berada di sini. Hal pertama yang ingin aku lakukan, hanyalah berbaring di kasur yang empuk, menikmati kehangatan selimut, memeluk dengan mesra guling, dan menempatkan kepalaku dengan nyaman di atas bantal. Wah, bukankah itu adalah pekerjaan paling membahagiakan untuk dilakukan, La? Apa kau masih merindukan aku La? Yah, aku rasa itu pasti.

Sudah pagi selanjutnya ini La, hari ini rasanya aku ingin menjelajah kota Yogyakarta. Sepanjang perjalanan dari rumah yang aku tempati ini, aku tak tahu kemana tujuannya. Hanya saja kakiku tak merasa lelah menelusuri jalan-jalan yang masih tampak asing bagiku, kau tahukan La ini perjalan pertamaku pergi jauh dari Pekanbaru.

Sekitar 25 menit aku berjalan, langkahku berhenti di sebuah alun-alun yang dipadati oleh keturunan Adam. Mereka berlari, berjalan-jalan, atau hanya sekedar mencicipi makanan khas Jogja. Aku dengar tak jauh dari sini, ada sebuah keraton yang rugi rasanya bila tak mengunjungi tempat itu, padahal sudah jauh-jauh datang ke sini. Biarkan aku beristirahat sejenak La, dengan kondisi tubuh seperti ini, rasa lelah semakin sering menghampiriku. Kau tak perlu khawatir La, aku baik-baik saja.

Sesampainya di Keraton, aku tak berani masuk La. Aku tak tahu kenapa, bukan karena enggan tapi karena memang aku takut. Aku hanya berdiri mematung di depan pagar Keraton Yogyakarta ini La, aku melihat banyak orang-orang yang keluar masuk.
"Monggo mlebet"
Tiba-tiba saja seorang lelaki separuh baya, kira-kira seumuran Almarhum Ayahku, datang menghampiriku. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman dan sedikit mengangguk, kau tahu La itu karena aku tak mengerti apa yang dia katakan.

Pikiran-pikiran akan kerugian jika tak masuk ke tempat ini, telah menjadi penghias pikiranku saat ini La. Menurutmu aku harus bagaimana? Tentu aku harus masuk, kan La?

Saat beranjak dari posisi aku berdiri, dan langkah kakiku menuju tempat itu rasanya ada yang berbeda. Begitu pula saat sudah berada di dalam, wahh semuanya hanya ada kata
"Wah....... Luar biasa."
Aku terpukau La, indah bukan main. Semua tatanannya rapi, dan tentu saja penuh dengan segudang sejarah. Biarkan aku menikmati keindahan serta terbawa menjelajah ke zaman dahulu La, nanti aku sambung menulis surat untukmu ini.

Seharian aku menebar kekaguman pada Daerah Istimewa Yogyakarta ini, setelah dari keraton aku menuju Malioboro La. Kata orang-orang, cuci mata La. Selain berjejernya barang dagangan, banyaknya pengunjung, eh aku melihat seorang gadis cantik yang mencuri pandanganku La. Aku tersenyum malu, saat gadis itu tersenyum padaku. Tapi tenang saja La, di tanganku ada sembilu yang siap menancap jantungku setiap kali aku terpikat pada gadis yang lebih cantik darimu.

Langkah terakhirku hari ini dan mungkin hari terakhir perjalananku ini, berakhir di sudut kota Jogja. Kira-kira membutuhkan waktu satu setengah jam, tepatnya di Cafe & Resto Cengkir, lantunan gamelan menjadi penghibur malam yang mendung ini. Tiba-tiba saja aku merasa kembali ke masalalu La, aku teringat tentang pertengkaran kita di rumahmu waktu itu. Kata-katamu itu masih melekat dengan jelas di ingatanku.

****
"Kau bilang tak ada akhir yang menyakitkan di hubungan kita ini. Apa kau lupa, bagaimana dulu kau mencoba mendapatkan hatiku?"
Waktu itu, aku duduk membelakangimu.
"Bukankah sudah cukup aku membuatmu bahagia lebih dari 3 tahun ini. Sekarang biarkan aku bahagia La, dengan diriku sendiri."
"Tak ada kata cukup Jang, aku hanya menagih janjimu 3 tahun lalu. Bukankah kita telah sepakat, bahwa tidak akan berpisah tanpa alasan yang tepat?"
Aku tak tahu bagaimana air wajah Nirmala, suaranya hanya terdengar berat dan agak serak. Aku rasa dia menahan tangisnya.
"Aku hanya tak ingin, nanti hari-harimu suram, karena menanggung sesal. Biarkan aku La, lepaskan aku saja, bukan cintamu."
Aku juga begitu. Menahan air mataku.
"Baiklah. Aku tak akan mengikatmu, tapi biarkan aku mengikat hatimu, hanya itu Bujang."
****
Air mataku mengalir bersama kenangan itu La, kau telah berhasil mengikat hatiku.
La, mungkin besok aku akan menemui Ayahku. Aku harap kau akan benar-benar mengerti. Inilah akhir perjalananku La, satu hari saja sudah membuatku rindu akan kota Jogja. Tapi, serindu ini aku pada Jogja, Pekanbaru tetaplah tempat melepas rindu itu.

Aku rindu padamu Nirmala, maaf jika kau tak akan pernah bertemu dengan aku lagi.

Buku Harian Pandu Surya Ke-1000
Surat Untuk Nirmala
Yogyakarta, 1 November 2019

 

~Selesai~

Dirga Putri merupakan mahasiswa aktif, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas