PESERTA FSIGB MENGIKUTI SEMINAR SASTRA-PANTUN SEBAGAI AKAR  PUISI MODERN NUSANTARA
0 Komentar 349 pembaca
Foto suasana Seminar.

PESERTA FSIGB MENGIKUTI SEMINAR SASTRA-PANTUN SEBAGAI AKAR PUISI MODERN NUSANTARA

Berita

Tabloidtanjak.com-Tanjungpinang. Setelah dibukanya Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) pada malam tadi, kini para peserta FSIGB mengikuti acara Seminar Sastra dengan tajuk "Pantun Sebagai Akar Puisi Modern Nusantara" di Bintan Beach Resort, Tanjungpinang-Kepri (29/10/19).

Dalam seminar sastra hari ini turut mengundang para pembicara yaitu Hasan Aspahani, MM, Prof. Dr. Salleh Rahamad (Presiden Pena Malaysia) dan Dr. Mukjizah, yang dibuka oleh moderatornya Fahrunnas MA Jabbar.

Begitu antusiasnya para peseta FSIGB mengikuti seminar sastra ini. Karena Perkembangan zaman ke zaman yang begitu modern yang kini sudah kita kenal dengan istilah zaman 4.0 atau milenial tidak menyurutkan atau "mempunahkan" keberadaan pantun. Kita tidak begitu asing dengan kata pantun. Dari sabang hingga merauke pantun begitu dikenal walau berbeda dialek dimasing-masing daerah.

Tidak hanya di Indonesia, pantun telah tersohor ke seluruh dunia. Pantun juga merupakan akar dari kebudayaan dan juga dikenal tradisi sastra lama. Raja Ali Haji pernah membuat pantun timbangan syair teruntuk Van de Wohl. Pantun begitu terasa abadi. Pada saat ini saja, pantun begitu tren dikalangan muda dan mudi.

"Pantun telah diakui di UNESCO sebagai Warisan Budaya Tidak Benda (WBTB) pada tahun 2018. Hingga saat ini masih saja banyak orang yang ingin meneliti pantun", ungkap Dr. Mukjizah salah satu pembicara di seminar sastra.

Pantun tidak lepas dari unsur-unsur alam dan metafora. Didalam makalah yang ditulis Prof. Dr. Mohamad Salleh Rahamad menerangkan, Metafora melayu dibentuk melalui kaedah atau proses perumpamaan atau perbandingan, atau jenis yang bersifat analogis. Kiasan, bidalan, yang disampaikan melalui pelbagai jenis simpulan bahasa, pribahasa, pepatah, metonimi atau personifikasi.

"Unsur alam jangan dilepas dalam berpantun. Karena ia akan rosak sebelah. Pantun memiliki metafora yang penuh dengan makna dan kecerdasan luar biasa", ucap dari Prof. Dr. Mohamad Salleh Rahamad.

Unsur alam yang dikatakan dapat di tafsirkan bahwa kita harus mendekat diri pada alam. Pantun memiliki filosofi yang memang begitu dalam apabila kita mengulas dan memaknainya. Bisa di kata mudah dan tidak mudah. Pantun yang baik mestilah memiliki estetika kata yang luar biasa. Kita harus dapat memahami sampiran untuk membayangi dari isi pantun.

Contoh Pantun dalam Metafora Bunga Bagi Nama Orang yang menggambarkan perwatakan (dalam kutipan makalah Prof. Mohamad Salleh Rahamad) :

Cik Langsuir menikam pari,
Pari ditikam tombak senangin;
Bukan saya sengaja ke mari,
Dihantar ombak ditumpu angin.

Cik Ros pergi ke pekan,
Hendak membeli ubi keladi;
Bukan kurus kerana tak makan,
Kurus kerana merindu hati.

Laporan : EF

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas