Cerminan Hati
0 Komentar 149 pembaca
Gambar dari google

Cerminan Hati

Cerpen

Aku menatap pantulan tubuhku dicermin, menggunakan kebaya putih dan dipoleskan make up tipis diwajah ku. Satu tetes air bening mengalir di pipiku, aku merasa terharu dan juga bahagia.

Beberapa bulan sebelumnya.
Aku sudah tidak tahan lagi, aku akan mengatakannya pada Dio. Ini sudah keputusan bulatku. Aku tidak akan menyesal, lain jika aku tidak mengatakannya mungkin aku akan menyesal seumur hidupku. Dio Vernando adalah sahabat ku sejak dari kecil, kami dibesarkan dari lingkungan yang sama. Dio yang selalu ada saat aku membutuhkannya.
“Dio, aku mau ngomong sesuatu sama kamu!”
Ucapku saat aku sudah sampai di rumah Dio, rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Rumah kami satu komplek tapi dibedakan oleh gang.
“Aku juga mau ngomong sama kamu Ca!”
Jawabnya dengan wajah yang terlihat begitu bahagia
“Aku duluan Yo,”
Pintaku dengan wajah yang memelas
"Ku aja duluan Ca!”
Jawabnya tak mau kalah, beginilah kami yang selalu berdebat hanya karena masalah sepele.
“Ya udah, suit aja lah siapa yang menang dia yang ngomong duluan.”
Usul Dio memberi penyelesaian
Aku dan Dio mulai mengambil ancang-ancang mengeluarkan jagoan kami masing-masing, Dio mengeluarkan ibu jari dan aku mengeluarkan telunjuk. Permainan ini dimenangkan oleh Dio dan aku terpaksa mengalah untuk berbicara duluan.
“Ca sebenarnya aku. . . . . . . . . . . . “
~

Aku Nadira Septiadi Putri, aku seorang mahasiswi tingkat tiga disalah satu Universitas swasta di tempat tinggal ku. Aku biasanya dipanggil Acha oleh Dio, hanya Dio yang memanggilku dengan sebutan Acha. Dio adalah satu-satunya sahabat yang aku miliki, Dio sahabat yang memiliki sifat yang lengkap bagiku. Dio orang yang baik, sabar, penurut sama orang tua, rajin dan juga pintar. Dari kami SD sampai SMA kami selalu bersama, aku orang yang sangat tidak bisa belajar tentang matematika dan Dio orang yang selalu memberikan aku contekan pada saat ulangan ataupun ujian.
Aku menyukai Dio sudah lama, saat kami masih duduk dibangku sekolah menegah pertama. Bisa dikatakan kalau Dio adalah cinta pertamaku. Jika melihat Dio dekat dengan wanita lain, ataupun saat Dio cerita jika dia menyukai wanita aku sangat sedih dan mersa sakit hati tapi aku berusaha menyembunyikannya. Jika berada di dekat Dio aku merasakan begitu nyaman dan juga terkadang aku juga merasakan deg-degan jika berada berdua dengannya. Apakah Dio merasakan hal yang sama denganku? Aku takut jika aku mengatakan pada Dio aku menyukai nya, Dio akan menjahuiku ataupun kami akan merasa canggung jika bersama. Sebaiknya aku simpan saja rasanya ini dan biarkan dia terpendam jauh dilubuk hati paling dalam, aku tidak ingin jika persahabatan yang aku jalin selama bertahun-tahun dengan Dio akan runtuh hanya karena rasa yang datang sesaat saja.
Setiap hari libur Dio akan selalu mengantarkan nasi goreng buatannya kerumahku, setelah sarapan aku dan Dio biasanya akan menghabiskan waktu satu jam untuk belajar, setelahnya kami akan pergi ke cafe hanya untuk minum kopi ataupun wi-fi an saja. Sorenya kami akan bermain basket bersama sampai menjelang magrib. Saat malamnya Dio akan menjemput ku untuk kerumahnya makan malam bersama keluarganya, karena aku hanya tinggal berdua dengan abangku saja dan abang terkadang dia sering pulang kerja larut malam karena lembur. Sedangkan kedua orang tua kami telah meninggal saat aku duduk dibangku sekolah menengah.
Saat malam itu aku sudah memutuskan untuk memberitahukan perasaanku pada Dio, dan ternyata Dio juga mau mengatakan sesuatu padaku.


“Ca sebenarnya aku..."
Ucap Dio terhenti, Dio melihat ku dengan mata yang berbinar-binar
"Sebenarnya apa Yo? Jangan buat orang penasaran deh!”
Potongku saat Dio berhenti berbicara
Dio menarik mulutku sampai manyun
"Makanya kamu diam dulu Ca,”
“Ya udah cepat ngomong!”
Bentakku melepaskan tangannya pada mulutku
“Sebenarnya aku...aku...aku dijodohkan Ca!”
Ucap Dio pada akhirnya, tapi dari ucapan Dio tidak ada rasa sedih sama sekali. Dio malahan terlihat sangat bahagia
"Ha? Apa? Dijodohkan? Sama siapa?”
Aku langsung terkejut mendengarnya
“Iya serius Ca, sama Nayla anak teman papa Ca!”
Deggg, perasaan apa yag sekarang aku rasakan? Mendengar ucapan Dio aku benar-benar hancur. Rasanya ada sepuluh ribu ton besi menimpa diriku, hancur rasanya, hancur
“Ca? Acha?”
Panggil Dio yang langsung membuyarkan lamunanku
“Iya Yo?”
Jawabku dengan suara akan bergetar
“Kamu kenapa Ca?”
“Nggak ada apa-apa Yo”
Jawabku berbohong
“Tapi aku udah kenal sama Nayla, Ca! Dia salah satu cewek yang udah aku taksir dari lama, tapi aku nggak pernah cerita sama kamu tentang dia. Soalnya aku masih belum yakin, dan ternyata kami udah dijodohkan sama papa. Sumpah, aku senang banget lo Ca!”
Cerita Dio dengan semangat
"Kamu juga senangkan Ca? Oh iya tadi kamu mau bilang apa? Sekarang aku udah siap cerita, sekarang kamu lagi yang cerita.”
“Aku lupa mau bilang apa Yo, besok aja lah aku cerita sama kamu kalau udah ingat lagi. Aku pulang dulu ya Yo, perut aku nggak enak nih”
Jawabku berbohong pada Dio
"Aku antar ya Ca!” tawar Dio
"Nggak usah Yo, aku sendiri aja! Nanti kalau udah sampai rumah aku telfon”
Jawabku dan langsung meningggalkan Dio

Aku membanting pintu kamar dengan kasar, dan untungnya abang ku belum pulang dari kerja. Tangisku langsung pecah saat sudah berada di atas kasur, aku menangis sejadi-jadinya. Yah aku menyesal sekrang, kenapa tidak dari dulu saja aku memberi tahukan perasaan ku peda Dio(?) sekarang hancur sudah pertahanan ku, luluh lanta semua. Aku benar-benar menyesal, jadi begini rasanya kalau kita mencinta hanya sebelah pihak. Sakit sungguh sakit.

Oleh : Yeyen Santika, merupakan mahasiswa aktif Prodi Sastra Indonesia FIB Unilak, semester 3.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas