Ibu Pertiwi, Kritis! Oleh: Dirga Putri
0 Komentar 60 pembaca
Foto diambil dari Internet (Google).

Ibu Pertiwi, Kritis! Oleh: Dirga Putri

Berita

tabloidranjak.com - UNILAK. Indonesia, adalah sepenggal "Surga" yang dititipi Tuhan pada bumi, terbentang luas dari Sabang hingga Marauke. Terhias dengan 17.504 pulau-pulau, memegang teguh pada Pancasila dan Undang-undang. Undang-undang menjadi penjaga keamanan negara, dibentuk dengan segenap jiwa dan raga, dipercaya seluruh rakyat.

Ketika rakyat telah dipermainkan, tak lagi dicintai, sudah saatnya ditinggalkan, maka bencana suatu negara dapat terjadi dengan sangat dahsyat. Saat rakyat yang mulai dipermainkan oleh para petinggi, undang-undang tak lagi melilit keamanan.

Mahasiswa mulai menjadi penghubung akan ketidak setujuan rakyat terhadap krisis yang dirasakan oleh negara tercinta, Indonesia. Krisis-krisis yang merajalela, dan menggerogoti seluruh belahan Indonesia. Demo, menjadi aksi mahasiswa untuk menuntut keinginan rakyat demi Indonesia. Tetapi, aksi ini memicu reaksi yang amat ganas dari pihak petinggi. Rasa takut akan kehancuran terhadap diri sendiri, mereka mulai "membasmi" pergerakan-pergerakan mahasiswa.

Seperti halnya Tragedi Trisakti, siapa yang tak tahu tentang peristiwa yang memilukan itu? Sungguh darah telah terkuras, air mata tak lagi dapat mengalir, jiwa raga yang telah pergi berkelana dan tak kunjung kembali. Tragedi yang menyisahkan luka bagi kami yang memegang nama mahasiswa, kejadian itu telah merenggut nyawa kami (Mahasiswa).

21 tahun telah berlalu, tragedi itu kembali dengan wujud yang berbeda, namun dengan perasaan yang sama. Dimana senjata telah menjadi alat main yang dibangga-banggakan, diagung-agungkan. Ketika seragam suci telah terkotori oleh jabatan tinggi. Mahasiswa yang semula menjadi tonggak memperkokoh rumah yang telah dibangun oleh Soekarno dengan keringat dan darahnya. Kini para penghuni rumah tak lagi memperindah sang tonggak, mencoba menghancurkannya dan berencana membangun rumah baru dengan tonggak-tonggak (undang-undang) yang baru. Kami mahasiswa yang "terbuang".

Para petinggi yang hidup mewah, bertambah mewah, tak lagi memandang kebawah saat rakyat saling berhadapan dengan hati yang diguyur seribu jarum. Kekerasan menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan keinginan kami terhadap Indonesia yang lebih baik, saat kekerasan mengambil alih, sang pungasa masih bertaburan kemewahan.

Ketika kami bermandi keringat, bersembah darah demi negeri ini, tapi para petinggi mencoba mencari seribu alasan agar kebenaran tak terungkap. Apa yang menguntungkan rakyat saat hukum dirubah demi kemakmuran para petinggi?

Setelah ratusan diri kami menjadi korban, barulah muncul kata-kata "manis" yang bahkan semutpun mati karenanya. Kepercayaan semula yang kami berikan, kalian balas dengan kekecewaan yang menghujam hingga ke dasar yang paling dalam.

Dimana letak hati nurani kalian? Lupakah letak semula hati yang diberikan dengan tegas kepada kami (rakyat), hingga kalian tak terbebani dengan luka yang kami rasakan oleh belati yang kalian tancapkan kepada kami. Para pejuang di zamannya, bersusah payah untuk mencabut belati itu, namun kalian kembali menancapkannya.

Hati rakyat yang dicabik-cabik dengan janji yang menggiurkan, para pembicara dibungkam, para pengkritik diancam dengan hukuman yang berat oleh kalian-kalian yang kejam. Jalan yang ditempuh mulai menghilang, kami sudah mulai resah dengan permainan para pejabat yang tak lagi bermain bersih, dan kecurangan telah menyebar.

Negara mulai diperbudak oleh bangsanya, bangsanya mulai menjadi boneka oleh pemimpinnya. Sepantas apa hingga kami (mahasiswa) menerima pukulanmu itu? Ingat sumpah yang pernah kau ucapkan saat engkau dipercaya mengenakan seragam suci itu? Bahkan kami, tak lagi mempercayai seragam serta jabatanmu.

Krisis-krisis telah memakan Indonesia mentah-mentah, namun para petinggi masa bodoh dengan hal ini. Sungguh miris ibu pertiwi, dengan sekali tembak, maka hancur leburlah negerimu Bung Karno. Hingga darah kami berhenti, mahasiswa tak akan berhenti membela negara tercinta kami ini. Semangat 45 mahasiswa Indonesia, jangan jatuh dan kalah hanya karena pukulan dari mereka yang berseragam "suci" katanya.

Bapak presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno pernah berkata "Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa."
Ingatlah itu..

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas