Bunga Mawar Putih untuk Ediruslan PE Amanriza
0 Komentar 64 pembaca
Foto ketika Bapak Hang Kafrawi menyampaikan kata sambutan.

Bunga Mawar Putih untuk Ediruslan PE Amanriza

Berita

tabloid tanjak.com - Rumbai. Mengenang Ediruslan PE Amanriza, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unilak, gelar Orasi Kebudayaan, Pembacan karya-karya, dan diskusi karya Ediruslan PE Amanriza, ditaja Oleh jurusan Sastra Indonesia dan berkerja sama dengan jurusan Sastra Daerah, alumni juga ikut hadir dalam acara ini. Kegiatan dilaksanakan di area kampus FIB, Sabtu (08/10/2019).

Kini 18 tahun ia telah pergi meninggalkan dunia sandiwara, namun karya-karya dan goresan Ediruslan PE Amanriza akan tetap hidup untuk generasi yang haus dan minim pengetahuan akan karya sastra tentunya.

Arif Ibnu yang merupakan ketua prodi Sastra Daerah mengatakan, "Beribu terimakasih kepada panita yang telah berjuang untuk mempersiapkan acara ini. Acara ini tentunya bertujuan mengenang Almarhum. Seperti yang sama-sama kita ketahui pendidikan kurang merata, banyak daerah-daerah terpecil yang belum tersentuh pendidikan, padahal untuk membangun sebuah bangsa pendidikan adalah kuncinya. Semoga acara ini membawa kita keilmu yang bermanfaat." Ujar beliau.

Hang Kafrawi mengatakan, "Mengapa Kita harus mengenang? Bapak tokoh Indonesia mengatakan Jas merah artinya jangan lupa sejarah, Karena sejarah adalah bagian dari kita. Dulu untuk duduk bersama, bergabung bersama penyair kita harus memiliki karya minimal tulisan kita terbit di media cetak (Tribun/Riau POS), tapi pada hari ini entah karena teknolgi, orang mengekspos atau mempublikasikan tulisan di FB, IG atau sosmed maka ia sudah merasa menjadi penyair." Jelas beliau.

Dalam diskusi Awi Anjung menyampaikan, "Mungkin kita tidak mengenal siapa beliau, terkait usia kita yang masih baru belajar munulis ketika itu beliau sudah tiada, namun dengan karya-karya beliau kita tahu siapa Ediruslan PE Amanriza." Ujar beliau.

Awi Anjung menambahkan, "Mengapa kita mengenang beliau? Karna beliaulah pelopor karya seni dan sastra, sesuatu yang dapat dibanggakan ketika ia berada di dalam dunia politik tapi ia tetap menulis karya sastra, ia tidak melupakan karya sastra itu. Meski beliau sudah terjun kedunia politik. Tidak hanya itu kecintaan beliau kepada Riau terlihat di dalam kerya-karya yang ia sampaikan, seperti puisi yang berjudul Surat 11, beliau menggambarkan kerakusan dalam kekuasan dan penguasa yang mengendalikan, bukan orang pribumi." Tutur beliau.

Edisulan PE Amanriza tidak hanya sastrawan ataupun budayawan yang pernah terjun kedunia politik, namun beliau pernah mengajar sastra di FIB Unilak. Karya-karya beliau memancarkan semangat menulis yang hendak ia turunkan, yang ingin ia wariskan ke generasi-generasi muda saat ini.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas