Puisi-Puisi Karya Latief NP
0 Komentar 57 pembaca
Foto diambil dari Internet (goggle).

Puisi-Puisi Karya Latief NP

Puisi

Aku Masih Disini
harap disambung cemas
Riau kini telah diselimuti cadar hitam yang rajut oleh tangan pembawa kematian
tawa riang rakyat hanya pembalut ketakutan
kidung yang digema nyaris tak diacuhkan
kita, berdiam diri setia pada kokok yang tak berganti
sabda perubahan hanya mimpi.
Bagi kita yang selalu kagum dengan janji.

 

Kematian
Telah berminggu-minggu
Waktu habis dan kita tetap berlalu
Tak dilirik tapi bibir tetap tersunyum tersipu
Kau ciptakan kondisi palsu
Semua baik hanya dari tanda tangan mu!!
Buah tangan apa yang kau terima
Hingga kami anakmu terlupa!
Sayang mu kini terbagi dua,
Alamak hancur kini di pelupuk mata
Negeri adat kota bertuah
Dibibir pantai selat melaka
Gugusan bintang berkilau hanya nestapa
Riau berdiri menumui ajalnya.

 

Nyayian Alam Riau
Ini kisah alam yang diciptakan
dari mereka pemilik hati yang buta dan nurani yang tuli
ini kisah alam yang digema
dari mereka yang punya kuasa
ini kisah alam,
nyata bagi negeri kami
katanya ini reboisasi namun semata hanya untuk defortasi
Hutan dibakar sawit ditanam
Apinya besar asap mengumpal
Hutan dibakar gedung pencakar langit didirikan
Apinya besar, awan padat pun enggan datang
Biarkan diri terbenuh dalam perlawanan dimedan perang
Asal selaso jatuh kembar tak tumbang
Birkan darah tumpah dengan pedang
Asal riau tak hilang
Biarkan diri terus berjuang sampai nafas tak lagi di badan
Demi tanjak bukan hanya sekedar pelengkap hiasan.

 


Dirikita
Hidup adalah konflik
Dia menari tanpa henti
Menjadi kan kau objek
Atau aku sebagai sabjek
Terkadang antara kau dan aku yang berganti
Kadang kita kelahi
Tapi tak bisa dipungkiri bahwa kita pernah sehati
Bahagia kita lalui, meski acapkali sedih menyelimuti
Antara sekat tak bisa dihelak
Meski jalan memutar kita tetap mengandeng perbedaan
Apakah kau keberatan?
Iya atau tidak bukan semata jawaban
Biar alam seleksi diri kita, siapa yang paling kuat.
Antara kau dan aku, kita tetap sahabat sejawat.

 

Pelarian
Hutan tinta kini semakin belantara
Kata perkata semakin sejuk terasa
Meski angin timur berganti arah
Tapi bagi ku tak masalah
Ada kau sayangku suku pedalaman yang orang lain tak tahu
Hembus nafas mu terasa syahdu
Orang lain tak’kan paham itu
Tetasan air mata menantang rembulan
Penuh palsu tapi bagiku dia adalah bagianmu
Tak dipahami tapi bisa dimengerti
Kau adalah keabadian hidupku.

 

 

Pelarian 2
Sebelum mentari menampakan kemegahan
Aku terkesima oleh tahta bulan dikelilingi bintang
Walau dingin menguji tulang
Pandangan untuk gelap tak mampu tergantikan
Qalbu yang bicara
Harubiru saksinya
Sebelum aku datang dengan dendam
ada mimpi yang merontah untuk diwujudkan
Membangun cinta untuk surga
Namun hati merasa bahwa kita adalah kutukan
Waktu buktinya
Nyata untuk mengelilingi tepi dunia
Selama-lamanya!
Tanpa pernah karam menuju kedalam lautan.


Latief NP merupakan mahasiswa aktif jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning.

« Sebelumnya
Tidak ditemukan Berita Sebelumnya!!!

Selanjutnya »
Tidak ditemukan Berita Selanjutnya!!!

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas