Sastra Adalah Kita. Oleh: Eric F. Junior
0 Komentar 50 pembaca
Foto ketika narasumber Bambang Karyawan menyampaikan materi.

Sastra Adalah Kita. Oleh: Eric F. Junior

Berita


tabloidtanjak.com- UNILAK. Runding Sastra, Sastra dan Kehidupan, narasumber Musa Ismail, Bambang Karyawan, dan Dr. Junaidi. Acara dilaksanakan di Rusunawa, Sabtu (07/09/2019)

Sesungguhnya diri kita ini adalah sastra. Karena sastra ialah berada di sekitar kita, khususnya ruang lingkup dalam kehidupan. Sastra memiliki nilai-nilai yang kompleks. Sesuai dengan tema yang diangkat oleh Fakultas Ilmu Budaya (UNILAK) dalam Runding Sastra yaitu Sastra dan Ruang Kehidupan (religi, sejarah, dan realitas sosial), membuka dan memberi jalan pada pikiran kita untuk mulailah menyadari hal sekitar kita, yaitu menguatkan ke-peka-an. "Kita tidak dapat melepaskan diri dari Tuhan", kutipan Musa Ismail. Berarti dapat kita ketahui lagi, karya sastra tidak lepas dari religi serta begitu erat pada diri kita (mendarah daging).

Bila kita ingin bergulat dalam dunia sastra, alangkah baiknya kita mengetahui sejarah sastra pada dahulunya. Mengapa? Sastra dimasa lalu begitu kental dan kuat dengan religius. Karya yang begitu mengagungkan ciptaan Tuhan, dan memahami makna-makna sekitar. Kekuatan sastra pada masa lalu begitu kuat, dan dapat kita bandingkan konteksnya di zaman saat ini. Begitu menarik bagi kita kaum milenial pada saat ini dapat membandingkan nilai-nilai karya sastra dulu dan sekarang. Bagaimana untuk mencoba menggali dan membuat suatu fakta dari karya sastra itu sendiri. Karena sejarah juga menjadi kekuatan dalam sastra.

Menurut Dr. Junaidi, "suasana kultural akan memberi nilai dan rasa yang berbeda dalam menghasilkan karya sastra. Sastra juga berkaitan dengan ekspresi," ujar beliau.

Karya sastra juga memainkan alam sadar kita. Contoh Hantu dalam bayangan kita berbeda, dengan wujud beda-beda. Karena hantu diantar dari cerita-cerita orang, cerita film, dan lain-lain. Jadi, kisah-kisah seperti Hantu telah bermain di dalam alam sadar kita (Mental Evidence). Apa yang kita lakukan pada saat ini dipengaruhi oleh mitos-mitos, cerita-cerita setempat.

Karya sastra diangkat, lalu dikonstruksikan oleh orang-orang sastra. Contoh dikonstruksikan pada cerita film saat ini "Bumi Manusia" karya Pramudya Ananta Noer. Dalam film dan novelnya pasti ada perbedaan. Suasana yang di hadirkan dalam film berbeda dengan novel. Begitulah yang dikonstruksi oleh orang-orang cinematografi dalam menghadirkan cerita novel diangkat ke dalam film.

Sebagai penutup, karya sastra tidak lepas dari 5 Sense from body (5 Indra dari tubuh). Mari kita kaji dan hasilkan sebuah karya sastra melalui hati nurani.

« Sebelumnya
Tidak ditemukan Berita Sebelumnya!!!

Selanjutnya »
Tidak ditemukan Berita Selanjutnya!!!

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas