SEBUT SAJA AKU KORBAN Oleh: Juliana
0 Komentar 91 pembaca
Foto Ilutrasi diambil dari Internet (Google).

SEBUT SAJA AKU KORBAN Oleh: Juliana

Cerpen

Terlontar kata yang menyerkap pengap dalam diri
JIKA MEREKA BISU LALU BAGAIMANA DENGAN DIRIKU?
Seru lantang dari dasar hati seorang pemuda yang berdiri diubun senja, melihat pemandangan sebuah istana didepan mata, yang bergulat dalam lingkaran yang tak kunjung mengedipi pancaran jingga, pemuda itu bernama Anton.

“Aku ingin membangun rumah kecil disamping istana dan melukiskan aksara pada setiap jenangnya , membuat ukiran pada setiap dindingnya lalu menerjemahkannya, saat ada yang bertanya atau sekedar wawancara.” Ia tersenyum melihat bangunan yang ada didepan matanya.

Setelah pergantian penduduk Anton merasa tidak punya tempat duduk. Ia selalu berjalan mengumpulkan butiran kehidupan untuk membangun masa depan. Masa depannya hanya ingin membuat rumah-rumah kecil dengan podasi yang kokoh. Mengingat keadaannya yang begitu buruk Anton menyimpan seluruh niatnya dengan rapi. Suatu hari Anton pergi berangkat kerja, mengumpulkan barang-barang bekas untuk di jual, hari itu anton diberikan rizki ia mendapat banyak uang dari hasil penjualan barang-barang bekasnya itu. Anton sangat bersyukur.

“Terimakasi ya’Allah atas rizki yang telah engkau curahkan kepadaku hari ini.” Ucap Anton.
Anton hidup sendiri, setelah kepergian kedua orang tuannya dan ia menumpang hidup dengan salah satu keluarga dari ayahnya, anton memang beda dengan anak lainnya, setelah ia mengalami troma saat kehilangan orang tuanya, terkadang ia menjadi orang yang sangat pintar dan bijaksana terkadang pula sifatnya seprti anak-anak yang tidak tahu apa-apa, walaupun begitu ia sangat rajin berkerja.

Setelah mendapatkan uang Anton berlari kegirangan ia begitu terlihat sangat bahagia, sambil berteriak
“Anton akan membuat rumah untuk ayah ibu dan semua keluarga anton tinggal didalamnya “ sambil tertawa menatap uang didepan mata, ia terlihat begitu riang, seperti anak-anak yang baru diberi uang jajan “Horeee.... Anton akan membagun atap di samping istana” saat ia berlari ada yang menabraknya sehingga membuatnya terjatuh, Anton tak berusaha melihat siapa yang menabraknya namun ia sibuk mengumpuli uangnya yang jatuh, ternyata Yovan yang dengan sengajanya membuat Anton terjatuh.

Yovan adalah sahabat Anton dari kecil, Yovan adalah seorang berandal yang terkenal sebagai pereman yang sangat dipercaya oleh masyarakat sekitar. Setelah kejadian itu mereka sudah sangat lama tidak saling menyapa. Yovan yang tidak mengetahui tentang penyakit yang dialami oleh Anton mengira buruk tentangnya
“Anton?” sebut Yovan melihat Anton yang terjatuh
“kau ini siapa? bagaimana bisa kenal saya ?” jawab Anton heran, Yovan berrpikir bahwa Anton sedang berpura-pura setelah apa yang ia lalkukan selama ini tak mungkin membuat Anton tidak marah padanya.

“Kau tidak mengenalku?” sambung yovan.
Yovan berpikir Anton hanya berpura-pura untuk menghindar dari perbuatannya.
“Setelah perbuatanmu yang lalu, kau tidak mengenalku?” Tanya yovan kasar
Anton hanya diam dan terkadang kepalanya merunduk dan mengeleng,
“Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” Dengan kasar yovan memegang wajah Anton
“Apa kau bisu?” Tanya Yovan kasar
Tiba-tiba pukulan sampai kewajah Anton. Anton menangis ia tidak tahu ingin berbuat apa, uang yang dia dapat dari hasil kerja kerasnya tadi siang ikut diterjang oleh angin tamparan Yovan,
“Jangan berpura-pura bodoh dihadapanku, memang kita sudah lama memutuskan tali pertemanan, semenjak kau memilih ikut dalam kemiskinan dan kesengsaraan, mana jiwamu yang dulu Anton?”
“Kau yang tak pernah gentar menghadapi bait-bait dunia” yovan terus memukulnya. Anton yang tergeletak seperti tidak berdaya” .

Terkadang sekilas wajah masa kecil Yovan datang padanya, menjaganya dari bahaya, megajarnya kuat dalam pendirian, sekilas ia mengenal wajah didepan mata, dan juga berlalu lupa seketika.

Yovan tertunduk melihat wajah Anton yang sudah habis dipukulnya, ia melihat beberapa keping ceceran uang recehan yang berkecai berhamburan di bawah tubuh sahabat kecilnya itu.

“Rumah ....Atap....Uang Anton.....Mana uang Anton?” Sebut Anton mencari-cari
Anton trlihat sudah tidak berdaya, seluruh banyagan tentang Yovan datang kepadanya, memang dulu yovan teman dekatnya setelah munculnya berita penggusuran penduduk yovan menjadi berubah ia juga ikut terjun didalamnya, Yovan memang sempat mengajak Anton untuk berkerja sama namun Anton berkeras tidak ingin melihat rumah yang penuh sejarah itu tergusur dan terganti oleh bangunan megah, mulai hari itu Anton menjadi musuh besar yovan. Anton sangat percaya jika ia dan yovan berkerja sama pastilah mereka bisa merebut haknya, tapi yovan terlalu tergiur dengan tawaran yang membuat hening air liur, hingga sampai masa dimana Anton kehilang orang tuanya karna harus mengungsi dalam kondisi sakit.

Sejak saat itu Anton ikut terjun bergabung dengan warga untuk menolak pembangunan, banyak cara yang dilakukan oleh Anton untuk menyelamatkan satu-satunya rumah milik orang tuanya yang ia punya, hingga banyak sekali pertikaian antara yovan dan Anton yang tek berkesudahan, samapai akhirnya Anto hilang akal ia seperti merasa kekosongan kata-katanya hanya ingin membangun atap-atap rumah. Setelah kejadian ini membuat Anton mengingat.

Cerita tentang sekelompok manusia yang menjerit, mengaduh tidak bisa tidur nyenyak setiap hari, katanya seperti menumpang dalam rumah sendiri, jangankan untuk memasak nasi mengaduk secangkir kopi pun tidak diberi.

“Pak kami ingin sekali tidur nyenyak, berbantalkan busa dan tilam yang rata bukan tembok derita yang beralaskan kain sutra” .
pekikan lantang dari seorang pemuda membuat kelompok manusia ini memanas dan bersaut-saut,
“Setuju” Jawab warga
“iya, beri kami rumah, setidaknya dapat menghindari fitnah, raga telah kami beri masak kami tidak punya rumah sendiri” sambung seorang wanita yang datang dari sudut keramaian dan membuat suasana semakin ramai
“Selama ini kita hanya diam dan menutup diri membiarkan mereka menjadi pendusta yang abadi, tak banyak orang yang bisa membela diri sendiri nyatanya kami bisa tidur bediri demi mendapat sesuap nasi, tiap lembar halaman kita beri, cerita-cerita prestasi di tampilkan di tv biar beribu jejak tapak kaki dapat masuk dan akhirnya dibohongi lagi” Sambung salah satu pemuda.

Hari berlalu semua terlihat menutup rapat pintu, tak ada suara yang membuat luka ditelinga, seperti biasa manusia-manusia hidup dalam kebisuan, besikap seperti tidak ada protes kehidupan, setiap masalah mengering bagai daun yang gugur dari ranting, tidak mau tahu tentang keadilan dan kebijaksanaan. Lihatlah sekelompok manusia yang menyusun strategi untuk mengajak manusia yang lain ikut berdiri nyatnya semua takut berlari, ada yang jalan bahkan ada yang berhenti tak bergerak sama sekali, ketika mendengar kata:
“Disini akan kami ciptakan manusia-manusia yang berintelektual”
“disini akan kami ciptakan manusia yang bermartabat”
“disini kami akan tegakan keadilan”
“kami sangat bijaksana bukan?”
Mendengar kata-kata itu hidup seperti sebuah perubahan, tak memperdulikan nyata dan benar seolah mengukir cerita dibalik meja, kita hanya melihat pondasinya saja, banyak hal yang dihubung beratkan antara tindakan dan perbuatan dalam kemajuan bersama nyatanya selalu saja ingin mensejahterakan diri sendiri dengan mengutip sebagian dari kinerja seorang yang mandiri.

Yores pemuda yang masih mengunakan seragam biasa dengan gelar penganguran sejahtera, merasa nyaman dengan ketidak adilan upayanya untuk meroggol dunia di dukung setinggi-tinggi, Anton seorang pemuda yang menjerit pada kedamain diborgol dalam jeruji, yovan seorang preman yang menghidupkan suara rakyat disekap dengan dengan kertas biru yang melambang aku cinta padamu.

Dunia kini banyak bermain pada tanda-tanda yang harus kita kikis perlahan setiap balutannya, ketika manusia dikutuk menjadi robot dunia, tidak ada lagi lagu-lagu sendu hanya terdengar jejak kaki robot yang bisu.
SELESAI

***
Juliana adalah mahasiswa aktif program Studi Sastra Melayu,
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas