Kumpulan Puisi-puisi Karya Joni Hendri
0 Komentar 172 pembaca
Foto Ilustrasi diambil dari Internet (google)

Kumpulan Puisi-puisi Karya Joni Hendri

Puisi

SEPI

Sakit tak bisa di ungkapkan oleh lisan menjadikan tubuh perih dari segala yang datang
kadang menjadikan marah berapi
aku hanya mendengar dari bisik sebelah pipi
tidak seperti mimpi
atau menjadikan miang keladi.

Aku tak bisa berkata dengan sia-sia
bak, diri yang pernah membaca
tapi setelah arang siraman hidup kembali
atau melayang terbang menjadikan abu
ia mendatangkan kesepian, membuat hal lama hidup
dan bangkit dari tempat di kembumikan.

Itu semua karena atas nama cinta
sebab, aku lupa kesibukkan mendadak
menjadi sampah dalam hayalan
tiba-tiba menepi di antara keramaian
mengurung diri dalam sepi.
Paret melor/2018

JERIT

Hampir air mata darah keluar dari kelopak
menghujam jantung untuk kedamaian
wajah suci itu dibiarkan rebah
tergeletak di pinggir tebing rasa
tangan itu tiba-tiba kaku atau mati kutu
dan lutut gemetar tak sanggup menegejar harap
hanya doa-doa ibu kerap merayap dan di harap
lidah-lidah kelu akan derita kata yang menjadikan duka
tubuh hanya terdiam bagai tiang tonggak terbenam ke bumi
sambil menjerit:
jangan!
katakan air turun dari atap
tidak bisa kejauh tempat
ia kan bisa berubah-ubah
kelain arah
Panas pada hati kerap menjawab
Pada setiap malam di gigil
yang menjatuhkan daun-daun kering
lalu di lahap api menjadikan abu.
Paret melor/2018

 

WANGI WAKTU

Dari wangi waktu lalu orang-orang sibuk
mencari kesalahan di mata tuhan
untuk berlomba mencari ketenaran atau kebenaran
ayat-ayat di panjang-panjang menyusuri sungai
hingga sampai kekuala, lalu tumpah ke laut
suara bersahutan dari ujung tanjung
sampai ke ujung tasik sungai
membuat gelisah pun berdenyut
ingin berlari dari gelapnya langit hitam
padahal sebentar lagi azan berkumandang
bagai rentaknya tarian saman.

Masihkah mau bermain anjing!
untuk menghianat waktu
atau menyibukkan diri lari dari kematian

Masih juga mengucapkan: kematian adalah takdir setiap insan
tapi bukankah persiapan harus kita sempurnakan
ajal bagaikan peluru beribu berterbangan
melesap hingga menembus persembunyian
dan menumbuhkan nisan
sampai di kampung pedalaman.
Paret melor/2018

PADA MEREKA

Laut yang kami punya kini telah meluas
menjadikan tebing-tebing ingin terjun
terus di tarik ombak
membuat batu-batu turun .

Pada kata-kata manusia tak berkuasa
membuat mata menjadi pasir dan gundah
meluas sepanjang pantai bakau
tempat bersuka-suka
padahal laut ingin sekali berdusta pada mereka.

Pada mereka,
sudahlah!
jangan kejar kebahagiaan tak sempurna itu
pergi jauh dengan membawa sampan kesadaran
yang telah di buat jauh-jauh hari oleh sang nabi
karena takut demam di ujung waktu.
Pantai paret raja/2019

KU

Ketika petang di ambang senja
ku melihat lelaki tua bermain biola
lagunya sendu seakan-akan jiwa tak berdaya
ku hanya tertegun sambil minum kopi tengah rumah
hanya ada rasa kasih dulu-dulu pergi
datang di hati
dan menghinggap beberapa kesedihan menjadikan angin

Petang itu ada hujan yang tajam kecil-kecil turun
sambil berkeruman jatuhnya
menengadah hanya tanah
dan sampah-sampah membuat derita ia
ku hanya bisa diam tak melawan

Ketika petang itu di ambang senja
lelaki tua lupa bahwah dingin umurnya sudah menuju sepi
tak mau ia belajar merumuskan detik-detik jam dinding
diam-diam menikam
asiknya bermain biola membuat dunianya tak berdosa.
Rumah kreatif suku seni/2019

LANGKAH KAKI
Kaki terus melangkah dengan goyah
membawa harap belum terucap
menunduk kepala membayang jurang
ada godaan harus di lawan
tutup lah mata sejuta ingin
bacalah kembali wahyu itu
yang tertera di kitab suci

Langkahkan kaki itu lagi
hingga setiap hari
jangan sampai berubah arah
walau sampai ke dunia yang mati
sampai membawa ruh pergi

Mulai kembali menyusun niat hati
menimbang rindu antara benci
ataukah sepotong kasih dan sayang.
Rumah Aki paret melor/2019

CERITA BULAN
Bulan telah berabad-abad meninggalkan cerita
yang manjadi tidur di masa kita adalah ketidak pedulian semata
membakar tiap keturunan dalam tahun sunyi
tidak ada cahayanya yang bisa menjadi pelita gelap zaman
atau menutupi kegelapan masa

Adakah bulan bisa kita ceritakan lagi
ketika harapan tersadai dan terbingkai kepada anak cucu
atau cerita burung-burung hantu yang tak sampai rindu
menangis tersedu-sedu sepanjang waktu
atau kita telah lupa ceritanya

Kesepian kisah kini telah datang
dan menjadikan ia bersemedi pada himpitan waktu
hingga terawang-awang
dalam tahun-tahun berganti atau pergi.
Suku seni/2019

Joni Hendri, kelahiran Teluk dalam12 agustus 1993. Bergiat di rumah kreatif suku seni riau. Joni Hendri merupakan Mahasiswa FIB UNILAK Jurusan Sastra Indonesia Semester IV.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas