Puisi-puisi Karya Joni Hendri
0 Komentar 326 pembaca
Ket.gambar: ilustrasi Basabasi

Puisi-puisi Karya Joni Hendri

Puisi

Tiang Subuh

Tiang samar-samar di bangun dari telapak tangan
Mata-mata yang sedikit buta menuju cahaya.
Kaki melemah bekas tidur sedikit molor,
hanya mempersiapkan menuju hari-hari yang garang.
Tiang subuh tempat menyandarkan harap
Kerap menidurkan diri dari kulit-kulit buatan
Mendinginkan kalbu dari bawah kelambu.
Embun-embun berkah turun seperti hujan
Singgah di daun-daun hijau berkilau.
Maka, tiang subuh tempat mengadu sesal
lalu mempersiapkan duka dari nasib tunggal
Tempat diri melumpuhkan nakal.
Sediakan kekecewaan yang amat pajang
Di tikar-tikar terbentang.

11-mei-2019

 

Tiang Lapuk

Rumah tua itu sudah lapuk tiangnya mak!
Maka aku pergi meninggalkan debu dari Rumah itu
Menemukan daratan yang tersingkir di sudut baru
tak ada yang bisa aku bawa selain isak sepanjang senja
Sedangkan Mak jauh meninggalkan Rumah tua
Mantra-mantra penguat tiangnya lupa di lantak kota

Suara nafas Anai-anai dalam tiang
Mulai sesak tersepit waktu
terasa pada tarikkan nafas rindu
Menghentikan aku di pinggir jalan
Sementara bunyi Trompet bus mengawinkan telinga
Menyelinap hingga aku tersungkur pada pilu
untuk memenuhi rindu pada Rumah tua itu

“Tiang Rumah kita lapuk nak?
Mak tak sempat menengok!
Dari kutuk nasib yang berbelok”
Berita datang dari sms Handphone
Aku sedu air mata pertama keluar
Asinnya menjelma air ludah
Jatuh pada anak tangga Rumah kota

Padahal bangkai-bangkai sampan di Teluk Dalam itu
Masih bertambat menunggu aku pulang dari darat
Menjemput tiang-tiang baru dari Rumah baru
Pulanglah nak!
Tapi,
Mak tetap berdiam di negeri seberang
Untuk mengobati pincang dari tiang-tiang
Bisik Hendpohone itu.

Pekanbaru,2019

 

Tiang Batu

Yang menikam tajam jauh kedalam
Ia adalah tiang pelabuhan batu agak genting
Menanam amarah di pinggir pantai Teluk Dalam
Tenggelam lemas hampir tewas dalam air pasang
Makin hari makin mendekat punah
Tampak urat besi dalam tubuhnya

Aku lah si jantan rantau dari tubuh ibu
Gemetar dalam angin-angin rindu dari ingatan tiang batu
Memikul bayang-bayang dari masa lalu
Pada telapak tangan yang nyilu

“Karung harap sudah lenyap di makan rayap
Makcik mu dah berhenti jadi penyuluh!”

Caci maki orang terus memancung bagai pedang
Aku hanya terdiam di tepi tiang
Berkarat menunggu pagi yang sedang berlari,
menjemput matahari.

Pekanbaru,2019


Tiang Layar

Angin barat itulah yang mematahkan tiang layar
Dalam membina abad ke lima belas berlayar ke abad enam belas
Tak sampai di lantak patah dalam pangkuan waktu
Anak-anak angin terus berteriak mengoyakkan
Berhenti di ujung perdagangan Arab

Sultan yang memikul tiang pengganti
Sambil membawa kain layar di ujung pagi
Kemanakah ia berlayar?
Maka berlayarlah ke laut Melaka tempat ikan-ikan
Ikan-ikan,
Yang mencecap asin air laut
Sambil berserapah :
“Datang dari laut masuklah ke perut
Jika ia buntal pintalkan lah
Dari penjajah yang mendatangkan maut”
Jika tiangnya siap, bergegaslah merentang layar
Biar sampai ke muka Trengganu, Indragiri, Kampar,
Lalu membawa jala merentang ke Gassib, Jemaja, Siantan,
Hingga menyatu di laut Lingga dari sungai Rokan
Akhirnya angin barat terus menggarang
Ia bawa Protugis ketepian pantai kita
Seribu lima ratus sebelas tiang-tiang patah
Kain layar koyak di lantak

Hari ini asing seperti kosong di telinga garis bawah
Dimana garis anak muda bermain mata
Pada game-game menusuk hati
Bak sampan meninggal laut
Lalu pantai meninggal buih.

Pekanbaru,2019

 

Joni Hendri, kelahiran Teluk dalam 12 Agustus 1993. Bergiat di rumah Kreatif Suku Seni Riau. Joni Hendri merupakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia FIB UNILAK.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas