Harta Karun
0 Komentar 197 pembaca
Ilustrasi (g. net)

Harta Karun

Cerpen

Cerpen Zulvanny

“Kamu tahu tidak di sana ada peti harta karun?” tanya teman baikku, Rana, sambil menunjuk rumah yang berseberangan dengan rumahnya. Saat ini kami berdua sedang bermain mobil-mobilan di halaman rumah Rana yang berumput.

“Peti apa?” tanyaku bingung. “Maksudku, kenapa ada peti di rumah kosong itu?”

Rana menatapku dengan pandangan berkilat-kilat. “Pemiliknya baru saja pergi karena suatu alasan rahasia. Mereka begitu buru-buru. Siapa tahu ada yang tertinggal?”

“Seperti apa?” seruku langsung.

“Seperti boneka beruang.. pewarna.. gaun-gaun.. buku dongeng..” jawab Rana. “Kalau kamu tidak mau ya sudah, aku bisa ke sana sendirian!” Rana segera berdiri dan membuatku panik. Mana mau aku ditinggal sendirian di sini.

“Baiklah aku ikut,” kataku ragu.

Kami berdua menyebrangi jalan lalu memasuki halaman rumah yang kecil dan tak terawat itu. Saat kami berada di depan rumah itu aku langsung bersedekap. “Nah, sekarang bagaimana caranya kita masuk!?” sergahku.

Rana mengerutkan kening. “Kamu kan tidak perlu kasar begitu,” tukasnya. Ia berjongkok di depan sebuah pot bunga, dan mengambil kunci di bawahnya. “Kita pakai ini saja!”

“Maaf deh kalau begitu..” kataku. Rana memasukkan kunci itu ke lubang di pintu, lalu pintu itu pun terbuka dengan mudah.

Bagian dalam rumah itu berbeda dari dugaanku. Semuanya tampak rapi, tetapi.. saat aku melihat baik-baik tak ada yang normal dari rumah ini. Semuanya rusak. Sofa-sofa yang tercabik, gorden yang berbekas robekan, dinding yang ada bekas cakaran, meja yang kacanya retak, dan pintu-pintu yang berlubang.

Mendadak saja aku berubah pikiran. “Kita pergi saja yuk,” cicitku, ketakutan setengah mati.
Tapi Rana tampak biasa saja. Ia membuka pintu terdekat, melongok ke dalamnya, lalu menutup pintu itu lagi. “Cuma kamar orangtua,” gumam Rana. Ia menarikku dan membuka pintu berikutnya. Di dalamnya tampak kamar bernuansa pink, dan lebih tidak wajar dari bagian di luar. Ada banyak bercak darah. Begitu banyak sampai terlihat normal. Aku mulai ragu apa yang wajar dan tidak wajar, jika berada di rumah ini.

Rana merangkak di samping tempat tidur untuk melihat isi di bawahnya. Lalu kemudian ia menarik sebuah peti besar yang cantik.

“Peti harta karun!” seruku tak percaya, mendadak lupa dengan ketakutanku. “Wow, ternyata kamu benar! Ayo buka!”

Berdua denganku, kami membuka peti itu. Ternyata benar di dalamnya ada semua yang kami inginkan. Pewarna, jepit rambut, mahkota plastik, boneka-boneka cantik, bahkan tongkat peri!
Reflek tanganku mengambil mahkota itu dan memasangnya di rambutku. Aku pun pergi ke cermin yang ada bercah darah di sudutnya, lalu bercermin. “Wow, cantik banget deh aku! Coba kamu lihat, Ran!”

Tak ada sahutan. Aku memanggil sekali lagi. “Ran?” Dan tak ada sahutan lagi.

Aku melirik cermin, di bagian seharusnya ada Rana terlihat. Tapi tak ada Rana di sana.
Aku mulai ketakutan. “Ran?” panggilku sekali lagi, lebih kencang.

Mulai terdengar bisikan, dan bisikan itu perlahan semakin keras. “Yaaah?” Itu bukan suara Rana. Dan memang benar, karena aku melihat sebuah sosok anak kecil berdiri di belakangku.

Aku menjerit, tapi tak cukup ketakutan hingga tak sanggup bergerak. Saat itu insting pertamaku adalah bahwa aku ketahuan mencuri, aku berbalik dan mendorong sosok anak seumuranku itu lalu berlari keluar kamar. Rumah itu masih sama horornya, tapi yang membuatku lebih ketakutan adalah karena aku tak menemukan Rana. Tetapi aku melihat ada sepasang suami istri di rumah itu yang sedang duduk di sofa, dan tampak dingin menatapku. Tanpa pikir panjang, aku langsung melesat pergi dari rumah itu.

Aku berlari dan berlari. Bahkan rumah Rana kutinggal juga. Sambil berlari menuju rumahku yang hanya berbeda satu komplek, aku berteriak, “Rana kamu jahat!! Aku nggak mau temenan sama kamu!!” Dan ucapan itu kupegang sampai bertahun-tahun.

***

Lima tahun kemudian.

Sekarang aku sudah berumur tujuh belas dan masih saja membenci Rana. Kami sudah berbeda SMA, tapi entah kenapa dia terus ada di hari ulangtahunku.

“Aku benci kamu tahu nggak,” geramku. “Aku nggak inget ngundang kamu ke sini!”

Rana menatapku dingin. “Kamu pengecut. Justru aku yang lebih benci padamu.”

Aku menaruh gelas berisi sirup yang kuminum, dan berkacak pinggang. “Kamu mau apa sih? Ngomong begitu padahal kamu yang pengecut. Meninggalkanku begitu saja waktu itu! Untung kita tidak tertangkap!”

Sekilas aku melihat kesedihan di mata Rana, tapi berusaha kuabaikan itu.

“Bagaimana kalau kita buktikan lagi?” tantang Rana tiba-tiba. “Kamu masih menyimpan mahkota itu kan? Maka kamu harus mengembalikannya.”

Aku ingat menyimpan mahkota itu di dalam laci meja belajarku. “Oke,” kataku tanpa pikir panjang. Rana pun pergi dengan dagu terangkat tinggi.

Malam harinya, sesuai janji aku mendatangi rumah itu dengan berlari. Saat aku datang, pintu rumah itu sudah terbuka lebar, dan Rana berdiri di ambangnya. “Ayo masuk!” katanya sok.

Aku segera masuk dan sengaja menyenggol bahunya. Bagian rumah itu lebih kotor dari terakhir kali aku masuk kemari. Ada banyak daun-daun yang masuk seolah pintunya tak pernah ditutup.
Aku membuka pintu kamar yang kedua, lalu tiba-tiba saja leherku dicekik.

Aku menoleh kaget, bersiap-siap mengetahui bahwa sohibku sendiri yang mencekikku. Tapi bukan. Yang mencekikku saat ini adalah seorang anak perempuan kecil yang sanggup mengangkat tubuhku dengan satu tangan. Dia lah yang hampir menangkapku waktu itu. Dan aku baru sadar dia bukan manusia.

“Berikan mahkota itu!” jerit Rana. “Lalu lari!”

“Maaf ya,” kataku dengan susah payah. “Aku bukan pengecut.”

Tapi Rana semakin menjerit. “Kumohon! Cepat berikan!”

Aku menggertakkan gigi lalu menjatuhkan mahkota dari tanganku. Gadis itu pun melepaskanku begitu saja.

Aku segera berlari keluar untuk mengejar Rana. Sama seperti dulu dia sudah menghilang. Maka aku pun mendatangi rumahnya.

Tapi sesampainya di halaman rumahnya, aku baru menyadari sesuatu. Ada sebuah gundukan kuburan di pinggirnya. Apakah Rana baru kehilangan keluarganya? Aku menghampiri kuburan itu. Ada nama Rana di sana.

Air mataku langsung jatuh dari pipiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi entah kenapa semuanya langsung jelas. Aku melihat memori Rana yang terbunuh di rumah itu. Dia bukannya kabur meninggalkanku, tetapi dia sudah dibunuh oleh hantu itu. Dan selama ini Rana mencoba melindungiku agar hantu itu tidak membunuhku juga.

Rana.. Aku minta maaf.
Aku memetik bunga mawar merah di atas makamnya, lalu menggugurkan bunga itu dengan meremasnya pelan, menyebarkan mawar ke seluruh bagian makam. “Maaf aku baru datang, Rana..” kataku sedih. Saat itu aku baru sadar bahwa aku kehilangan harta karunku yang paling berharga, yaitu sahabatku sendiri.

Tamat

Zulvanny adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB, Universitas Lancang Kuning, semester 1.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas