"  Seulas Kisah Menyelami Kedalaman HSS "  Oleh Syaiful Anuar
0 Komentar 156 pembaca
Foto Taufik Ikram Jamil diambil dari Internet ( google)

" Seulas Kisah Menyelami Kedalaman HSS " Oleh Syaiful Anuar

Buah Pikir

Ahad siang, setelah membaca kabar bahwa buku kumpulan cerita pendek “Hikayat Suara-suara” (HSS) karya Datuk Taufik Ikram Jamil (TIJ) telah diterbitkan Kompas. Aku berkeliling mencarinya ke toko buku yang ada di Pekanbaru. Sayangnya buku ini belum beredar di luar pulau Jawa. Tak putus akal, tersebab aku ingin menjadi orang pertama membaca buku itu, menjelang petang aku datang ke rumah penulisnya dengan niat meminta buku yang dikirim penerbit kepadanya. Alhamdulillah, beliau ada di rumah dan niat itu aku utarakan padanya. Syukur tak henti aku aturkan, permintaanku itu dikabulkannya. Dengan rasa syukur, aku pun undur diri dan pulang ke rumah.


Sayangnya, keinginan menjadi pembaca pertama gagal aku dapatkan. Sesampai di rumah, Sri Wahyuni binti Abdullah (istriku) berdiri di depan pintu. Menyambut dengan senyumnya yang khas. Seperti biasa ia menyalamiku dan membawakan tasku. “Dapat bukunya?” tanyanya kepadaku dengan raut muka penuh harap. “Dapat, ada dalam tas. Ternyata buku itu belum beredar di luar pulau Jawa, itu buku didapat dari penulisnya langsung” jawabku cemas. Kecemasanku itu pun nyata, ia mengambil buku itu dan langsung menyantapnya sampai keesokan hari. Baru hari Senin aku dapat menyelami kedalaman buku sastra serius itu.


Dalam hatiku, setidaknya aku menjadi orang kedua membaca buku itu. Untuk kali kedua, harapan itu juga gagal aku dapatkan. Melalui komentar-komentar pada postingan tentang HSS di facebook TIJ, Prof. Dr. Djoko Saryono, dosen Universitas Negeri Malang juga telah membacanya di hari Ahad. Sejak itu aku tak berharap menjadi pembaca nomor berapa pun. Dalam hatiku hanya ada satu harapan yang tersisa. Aku mesti mampu menulis ulasan buku itu dalam bentuk esai, atau mungkin bentuk teks lainnya.

Setelah membaca HSS, dalam pemahaman ringkasku yang belum sempurna sebelum menulis tentang kumpulan cerita pendek itu, aku melihat ‘suara’ dirancang TIJ semacam plastisitas kata ‘suara’ itu sendiri. Suara dijelmakan sebagai tokoh yang kedudukannya sama dengan manusia sebagai empunya. Ia hidup bebas menghuni ceruk-ceruk kehidupan. Bahkan ia pun mati dan di layat dengan sungkawa. Sebagaimana manusia ‘suara’ menyesuaikan diri dan memerankan karakter yang ia inginkan. Maka, hati nurani bukan rahim yang mengandung dan melahirkan ‘suara’. Juga ‘suara bukan sebagai perwujudan perintah yang disalurkan otak.

‘Suara’ juga benda konfeksi yang diproduksi secara masal dan diperjualbelikan. Tidak diukur sesuai pesanan, tetapi menurut ukuran yang talah ditentukan. Harganya variatif dan disesuaikan dengan peminatnya. Misalnya ‘suara’ nyanyian dengan hitungan menit atau yang terlama dalam hitungan jam, jauh lebih mahal dibanding suara konstitusi yang lamanya lima tahun. Ya... begitulah faktanya, ‘suara’ dapat menjelma apa saja sesuai dengan ruang yang dihuninya.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas