" LELAKIKU DAN MALAM LAYU " Oleh: Awi Andjung
0 Komentar 196 pembaca
Foto ilustrasi diambil dari Internet (google)

" LELAKIKU DAN MALAM LAYU " Oleh: Awi Andjung

Cerpen

Perempuan!
Lelakiku!, Setelah perjumpaan kita, berselisih tawa antara rasa dan rahasia. Aku selalu mendambakan mawar, kau beri aku taman sebagai menggantikan pernyataan sempat. Lalu senja yang gersang itu menertawakan kita yang sedang asmara, dan cerita baru saja dimulai setelah tafsir ini tertulis dalam kebersamaan. Aku ingin mengecup harum mawar, yang dapat aku jumpai pada malam. Meniti pada jembatan yang jarang kau jumpai antara dermaga rindu, pasti kau anggap angin bercermin pada ombak adalah kebisuan yang bermufakat dengan kekekalan rasa, aku hanya melihat keresahanmu dipersinggahan gamang, menelaah sunyi dengan suara paraumu, hidup diantara waktu. jika hatiku sudah bernokhtah, Maka akan ada kerelaan yang harus terpilih dan tertindih, namun Ketika kekalahan teraih, akupun harus menangis karena kicauan angin itu tetap adalah darahku. Sempat aku mendustai waktu dengan berpura-pura ragu, Namun Tuhan memberi pintu untuk selalu berkisah dengan sejarah yang menulis namamu dihatiku. 

Mawar yang selalu terimpikan itu, mungkinkah kuraih? Atau kau yang memberi celah diantara resah dan gamang yang selalu bergumam angau. Beri aku penongkah arah agar mendapat sekata yang perkara. Namun kau sangatpun tahu, bahwa lukaku ada rasa yang serba salah dalam persinggahan miris antara mawar dan taman hati.

“Setelah kau menatap gelap, akankah masih kau berpura-pura dengan kemunafikkan yang nyata, serta tabuhlah dirimu di persimpangan sejarah” hatiku merasuki.

Sungguh, perjumpaan itu adalah kisah yang bertanak asmara diracun dengan bumbu-bumbu cinta yang kau sadaikan di pertemuan ragu. Adakah kau tahu, seulas kasih yang kau berikan akan membakar sebidang hati dengan kegelisahan yang tercacak di pinggir pasrah. Getaran rindu yang pepat dari rindu yang sempat membicarakan pagi pada malam, kau kecup jua cinta di dadaku yang tertadah pasrah dengan meneduhkan kehampaan yang lekang kau tanyakan. Masihkah kau mengutipkan celah digerah arah?

“Jangan kau jadikan yang tersisa adalah alasan keterpurukan, kita menjalinnya semalam yang salah, seluruh khilaf dengan renung yang panjang” bisikku.

Bawalah sebongkah angan itu diperleraikan dengan sejuta sisi pertanyaan yang tersemat dulu diketiadaan yang rekah. Aku tak meminta kau memuntahkannya, namun sekujur tubuh mengucurkan detik-detik cinta, hingga malam yang sedang asyiknya kau nikmati berubah bijak dalam keramaian. Aku menulisnya dengan rapi di atas harapan, kau baca pagi dengan embun yang kelat berbilas dengan setutur kata berlenggok pada kekejaman mulutmu yang sansai. Jangan tertawakan kelukaan ini sebagai kisah berleguh lantakkan pertemuan ini.

“berilah sebuah kepastian antara kebisingan kata-kata yang terongah dari jengah yang sengak keatas keribaan yang tertunduk dari riwayat yang mengisahkan kita dalam cumbu dan kecupan angan, kau gulir menjadi kelabu” bisikku kembali.

Ada yang kau tawarkan dari senyum yang rekah entah pada siapa. Ukiran girang terpahat dari wajah yang ingin kupandang sesaat sebelum matahari itu menongkah pasrah, aku jadikan runtuhan masalah yang menyemakkan subuh ini terlerai dengan kecupan pagi yang kau janjikan. “Akankah almanak waktu menertawakan kisah yang berjarah dimusim asmara yang bisu?” Bentakku.

Masih tersemat dalam doa yang satu, ada sepucuk sapaan yang tersadai dibibirmu, menujah ke palung hati dengan albojo yang kekar dan keperkasaan yang mekar menuangkan kisah yang berziarah antara kedatangan dan pergi dengan mata air kegelisahan. Cukuplah, kisah pembantaian cinta yang terpaksa kudengarkan dikeningmu mengalir deras, juga berkisahlah bunga-bunga diantara ketakutanku dan di lubuk yang sama, seperti petuah ketika menerjunkan perasaan rindu hendak kemana akan tenggelamkan makna. Rindupun bersabda dalam keheningan dari sauh riuh angin yang terkirim dari bentangan asmara. Ketika tercepuh di dinding perkara, barulah cahaya yang sempat tertamat keramat itu meluah basah di pembaringan terakhirku dengan keinginan yang serupa pada khayalan yang semata-mata kaulah sutradaranya.

Berpacu jua akhirnya aku dengan kerakusan yang membelah rasa, kaupun tahu, bahwa separuh pengharapanku adalah bergariskan ketidak pastian yang telah bertirai di rumput-rumput yang rancu. Mendungpun tak lagi menghiraukan siapa yang ia iringi, ketika kau tiada di ruangan sempit ini, ada gelisah yang aku tanyakan. Kenapa?

Ada sungguh yang kau bungkuskan, dari jemarimu yang sempat lunglai. Sempat bibirmu berucap ini demiku, “kan kucurahkan muntah yang sepah dari gelisah antara pertemuan dan perpisahan kita” katamu penuh rayu. “Sayangku! Masihkah kau temukan cinta yang dulu kita akui bersama untuk melawan ketiadaan yang tak pasti dan perjalanan kita yang terukir di labuh sauh. Aku masih mempertanyaakan jarak?” tanyaku yang sentak lepas dari bibir ini. Dari kejauhan jarak yang terpendak, kembali kau pulangkan kenangan yang sempat terlayangkan diangan masa depan, tentang harapan dan keresahan tergambarkan diraut wajahmu yang renta dari kepiluan malam. Kau menyempurnakan detik-detik asmara yang terhenyak rindu di bilik pasrah. Lalu lunglai kebiasaanmu menongkah isak dermaga terlabuh di laut yang tersinggahkan cinta, akan ada luka yang mengiris kekejaman jauh terlempar sampai ke air mata makna. Kedurhakaan terhadap waktu telahpun melebihi kerisauan yang berbilang pada liang lahat rindu terkubur dalam garapan harapan.

Lelakiku!, Kita jua akhirnya berkhianat pada sejarah yang melahirkan kita. Bukan kehendakku, hidup dalam pelarian yang panjang. Meski, kau suguhkan jua peta perjalanan antara rindu dan kegamangan yang terkemaskan. Dalam riwayat malam, kau cetus jua makna akan hikayat yang menelaah kesetiaan dan pengkhianatan. Telahpun tersimpuh dalam tatapan renungan, tentang hari esok akan ada kematian yang terjalin antara pasrah dan perjalanan janji. ketika saut kewibawaanmu menongkah kehadiran surut rasa ini, akankah masih kau beri aku angan yang akan mengokohkan bertemuan semalam setelah sekian lama menunggu kehangatan petang. Aku tahu betul, bahkan kaupun menyadari bahwa kegamangan waktu dalam jarak yang mengkekahkan sebijik anak peristiwa terjarah pada gelombang yang arungi bibir pantai, dan kau lukis jua keindahannya bersama seulas raut yang lugu kaku.

Lelakiku!, masih dalam benakku, kau merucuti senyum yang rekah bersama. Ada sedandang harapan yang memaksa untuk mengucahnya, namun kau biarkan lecah setelah itu. Ketika mengejar mentari kau rentakkan jua sahut yang terbekali, aku mengharapkan kasih yang masih kau patrikan dengan dirimu yang bergelora, dengan takzimpun hal menunggu bukanlah jalan yang mampu aku hadapi meski akan ada pelarian hati yang lambah dari hujan semalam, bukan lagi renggut yang muntah dari jarak pertemuan kita yang layu, hingga sabda hangat mengguncang amanah dalam pusaka yang terlewatkan satirnya. Aku tak akan menulis kegamangan yang menyantakkan isi bumi dan perut rasa, selain sepotong senja yang tenggelamkan fajarnya, lesap dalam igau, suasana perih malam ini adalah kisahku yang hanya buta akan cinta yang layu.

BIOGRAFI SINGKAT
Awi Andjung, lahir di desa Dedap, 06 April 1996, Tasik Putri Puyu, Kab. Kepulauan Meranti. Aktif menulis di Komunitas Gemar Menulis (KGM), penulis Naskah Teater sebabak Negeri Penguasa, Arti Merdeka Bagi Orang Gila (Naskah Monolog), Sumpah Masyarakat (Naskah Teater). beberapa karyanya puisi dan cerpen pernah

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas