Jawaban Tuhan untuk Bidadariku
0 Komentar 186 pembaca
Ilustrasi (g. net)

Jawaban Tuhan untuk Bidadariku

Cerpen

Cerpen Juliana

Di malam yang rinai, seorang wanita berwajah sendu bersimpuh menaburkan doa-doanya. Sosok yang berduka di malam hari ini membiarkan tubuhnya bergelut dalam jubah kegelapan, membiarkan segala pikirannya melayang, dan merebahkan rohnya pada halilintar yang tak bergetar.

Malam menghantar jiwanya pada ketenangan. Baginya malam adalah tempat sempurna untuk bermunajad kepada Sang Pencipta. Layaknya dongeng-dongen manusia yang bercerita tentang putri yang akan menemukan kebahagiaan di ujung perjalanan hidupnya. Ia pun mulai menabur doa-doa di setiap halaman hidupnya, mungkin dengan begitu ia akan memperoleh satu kebahagian, walau ia tidak tahu kepan kebagiaan itu akan datang.

“Aku hanya ingin membuat setitik kebahagian pada sesosok bidadari di dunia ini. Memeberinya senyuman sepanjang hari. Membuat air yang keluar dari celah matanya adalah mutiara kebahagiaan. Aku sangat mengerti bagaimana dimensi dunia, namun aku percaya yang namanya takdir telah digarisi oleh Sang Pencipta. Aku adalah wanita yang sangat dungu tentang dunia, buta tentang kehidupan, tapi aku dapat melihat satu cahaya yang hampir redup di depan mata. Bidadariku, tahukah engkau wajah bidadariku? Bidadariku itu wajahnya sangatlah kusam, matanya penuh dengan goresan duka, hatinya sendu, ia selalu tertawa dalam genangan air mata,” kata wanita itu di tengah kegelapan.

Angin mengibaskan udara sangat sejuk malam ini. Wanita yang masih bersimpuh di tengah kegelapan itu hampir tidak terlihat. Bayangnya semakin memudar ditelan malam. “Kau pasti tahu bagaimana bidadariku? Ia tidak terlihat layaknya cerita dongeng di buku-buku. Bidadariku itu tidak bisa terbang tinggi, ia harus hidup dengan sayapnya yang kaku. Aku ingin bertanya mengapa engkau biarkan ia begitu? Mungkin, aku tidak bersyukur, atau barangkali aku tidak bisa menerima takdir? Katanya kehidupan bagai roda, yang kutahu roda pastilah berputar. Apakah perputaran roda kami hanya tentang sendu dan air mata? Tempat menampung segala duka mereka yang bahagia, atau mungkin aku yang terlalu percaya tentang adanya roda kehidupan?” pekikakan lantang dari dalam hati wanita itu sambari terduduk dan bersimpuh.

Bayangnya perlahan memudar dan tiba-tiba muncul dengan air mata. “Kau lihat air mataku? Aku telah menagis sejadi-jadinya malam ini, membiarkan pintu rumahku diketuk oleh angin, membiarkan jendelaku ditelanjangi oleh badai, lalu aku kuyup dengan air mata, dan kau.....Mengapa kau masih diam saja? Aku telah melantangkan suara-suara azimat suci, dan ku teladahkan di perut bumi. Dasyatnya gemuruh menghentam raga pun aku tak peduli. Aku telah mengawasi bisikan hati dan lihatlah olehmu, Jiwa-jiwaku yang berlutut. Jika kau diam saja, lantas untuk apa aku berdoa? Aku paham betul bahwa suka dan duka tak dapat dipisahkan, namun duka terlalu banyak bembuat bait-bait air mata di wajahnya,” sembari ia menatap ke hadapan lagit. Awan-awan hitam bergerombolan menampar wajahnya, membuat tubuhnya seakan lemas terkulai, sembari berkata, "Mana Tuhan? mengapa dia bisu?"

Rasa kesal yang tampak jelas di wajah wanita itu. Dengan tangan yang masih mengadah di tengah malam, deru nafasnya yang bersaut-saut berlari seiring dengan darah dan degup jantungnya. Keringat-keringat kecil yang seringkali muncul di dahinya terlihat begitu ia ingin protes pada dunia.

Malam semakin larut. Rasa kantuk membuatnya tertidur pulas dalam kegelapan. Di dalam tidurnya, ia bermimpi dihampiri berkali-kali wajah bidadari yang tersenyum padanya mengusap air mata yang masih mengalir dalam lelapnya. Jemari itu sangat terasa sempurna mengelus indah keningnya.

“Bidadariku, kau kah itu?” pertanyaan yang berkali-kali muncul dari mulutnya. Perlahan ia merasakan jemari itu.

“Maafkan aku Bidadariku,” menagis merunduk dan seolah menatap wajah bidadarinya itu. “Aku telah memohon dan meminta kepadaNya, kau tahu? Ia tidak pernah memberiku jawaban tentang dukamu. Dia masih belum menjawab pertanyaanku.” Dengan wajah yang penuh kecewa menghadap sosok yang ia sebut Bidadari itu, lalu bidadari itu mengusap air mata di pipinya.

“Kenapa kau tampak begitu bahagia hari ini?” tanya wanita itu kepada sosok bidadarinya itu sembari terheran-heran.

“Hari ini adalah hari kelahiranmu dan Dia telah mencurahkan segala kebahagiaan itu di diriku. Tidak ada alasan untuk aku mengeluh dan bersedih. Jadilah engkau sosok yang menerima takdirnya, mensyukuri setiap garis perjalananya. Bahagiakanlah dirimu terlebih dahulu, jika kau belum bisa membahagiakan dirimu sendiri bagaimana kau bisa membuatku bahagia?” jawab Bidadari yang masih mengelus wajah wanita itu.

Wanita itu seolah berdiri dan melihat senyuman bidadari yang begitu rapi, tidak ada kekecewaan. Dalam hati wanita itu bertanya, “Apakah ini jawabannya?” menatap paras wajah bidari yang tersenyum di hadapannya seolah ia mengerti jawaban yang selama ini ia pertanyakan. Dengan jemari lembut sosok bidadari itu memeluk tubuhnya.

“Kau tahu bagaimana aku sangat bahagia ketika ia menitipkanmu dalam rahimku, tidak ada kebahagiaanku yang lebih sempurna selain kebagiaanmu.”

SELESAI

Juliana adalam mahasiswa Program Studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas